
Setiap satu langkah ia turun dari anak tangga, maka akan bertambah hal mewah yang bisa ia lihat dengan kedua matanya. Rumah sebesar dan semegah ini, akan menjadi miliknya? Meski kakinya sudah berpijak di lantai marmer mahal ini, namun ia masih sulit untuk mempercayainya. Ia akan menjadi seorang nyonya Astrada dalam waktu dekat.
Deg!
Pemikiran itu membuatnya begitu berdebar. Diusianya yang masih terbilang muda, dua puluh satu tahun, ia harus menjadi seorang nyonya besar dari keluarga tersohor. Apa ia terjebak dalam mimpi?
"Bagaimana?"
Tubuh Sasha berbalik kaget, ia melihat Lion yang sedang bersandar di dinding dengan tampilan acak-acakannya. Fakta menyebalkannya entah kenapa pria ini malah semakin terlihat seksi sekarang.
"Apa kau suka rumahnya?" Tanya Lion dengan angkuh membanggakan hasil kerja kerasnya.
Dengan semangat Sasha mengangguk. "Suka!"
Jika benar memang ini mimpi, Sasha yakin ia tak akan sanggup untuk bangun. Tidak mungkin rasanya ia rela meninggalkan kebahagiaannya ini, kebersamaannya bersama tuan muda Astrada.
"Aku tau kau akan menyukainya, aku hanya ingin pamer." Ucap Lion tanpa ragu. Ia rentangkan kedua tangannya, meminta hadiah dari apa yang telah ia lakukan. "Kemari lah Sasha, berikan aku satu ciuman selamat pagi"
"Kau bau Lion, mandi lah!" Tolak Sasha mentah-mentah. Gadis itu tersenyum lebar hingga menunjukkan sedikit gigi-gigi putihnya. "Akan ku pertimbangkan jika tampilan mu tampan hari ini!" Lanjutnya sembari mengedipkan satu matanya jahil.
Aolion berdecak tak begitu senang dengan kalimat yang ia dengar barusan. "Kau pikir ada yang lebih tampan dari ku? Aku bahkan tak bisa dibandingkan dengan pria kampungan mu itu!"
Sasha mengangkat satu alisnya. Matanya memicing menatap Lion curiga. "Kau mengenal teman ku?"
"Maksud mu pria jelek, pendek dengan rambut yang diwarnai kuning seperti jagung itu? Tidak, aku tidak mengenalnya!" Jawab Lion seakan tengah menyebutkan sesuatu yang membuatnya alergi. "Kenapa?! Apa dia tampan di mata mu?!"
Sasha sudah tak bisa mengerti mengenai pria yang dijuluki jenius ini. Ia berbalik meninggalkan si tuan rumah yang terlihat dalam suasana hati yang buruk sekarang. "Betapa pencemburunya diri mu ini Lion, benar-benar kekanakan!"
"Sudah ku katakan aku tak mengenal si Zen sialan itu! Dia bahkan tidak pantas untuk ku cemburui!"
__ADS_1
Sasha menggeleng heran sembari menuruni anak tangga menjauh dari Lion. "Bagaimana bisa aku menyukai manusia sepertinya dalam waktu sesingkat ini.." gumamnya pun heran dengan dirinya sendiri.
"Kau mengatakan sesuatu Sasha???!" Teriak Lion dari lorong lantai dua. Pria itu sepertinya sedang menuju kamar untuk bersiap tampil sempurna menunjukkan keunggulannya.
"Kau bodoh tuan! Itu yang ku katakan!" Balas Sasha acuh.
"Aku juga menyayangi mu Sasha! Lebih besar dari mu tentunya!" Timpal Lion tanpa malu.
Sasha tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Mungkin jika ia sedang sendirian di rumahnya, ia pasti sudah melompat sembari berteriak kegirangan menunjukkan betapa bahagianya dirinya saat ini.
"Huwoo! Kau sedang membiasakan diri menjadi istri ku?" Tanya Lion sembari menatap kagum jajaran makanan yang tersaji diatas meja makan.
"Kau tak perlu memakannya jika kau cemas akan sakit perut setelahnya." Celetuk Sasha dari arah dapur yang memang berdampingan dengan ruang makan.
"Mana mungkin, bahkan jika kau benar memberi makanan ini racun pun aku akan berusaha untuk menghabiskan semuanya." Balas Lion enteng. Ia tempatkan dirinya duduk di depan meja makan.
Sasha mendengus lalu ikut duduk berhadapan dengan Lion. "Kau bercanda? Tak ada orang yang akan mau memakan racun bodoh!"
"Tentu saja, kau pikir aku akan percaya?" Timpal Sasha tak begitu perduli.
"Aku serius Sasha. Jika kau benar-benar meminta ku menelan racun maka akan ku lakukan itu." Ucap Lion mempertegas.
Tubuh Sasha seketika melemas ketika matanya harus berhadapan dengan mutiara hitam Lion yang menatapnya intens. "Kau.. serius?"
"Tentu saja Sasha. Apapun yang kau berikan tentu aku akan selalu menerimanya. Bahkan jika itu makanan beracun." Ucapnya tulus.
"Jika itu benar-benar terjadi kau harus menolaknya Lion! Kau bahkan harus melempar makanan itu ke wajah ku jika perlu" tukas Sasha. "Kau mengerti?"
Lion terdiam sejenak berpikir. "Aku tak bisa berjanji Sasha. Selama ini aku tak pernah bisa menolak mu." Jujurnya.
__ADS_1
Sasha menundukkan wajahnya. Tangganya meremas taplak meja putih melampiaskan emosinya. "Lion.." panggilnya lirih.
"Hmm?" Lion menyahuti dengan gumaman lembutnya.
"Bagaimana.. hiks.. bagaimana bisa kau menyukai ku..?" Tanyanya dengan suara seraknya berusaha tidak terlalu menunjukkan suara tangisnya. "Aku.. -aku selalu memikirkannya.. dan.. dan aku tak menemukan alasan apapun yang membuat mu harus menyukai ku hingga seperti ini Lion.. itu.. hiks.. itu membuat ku takut.. "
"Bagaimana jika rasa suka mu yang begitu cepat tumbuh ini juga begitu cepat hilang? aku hiks.. aku.. aku takut terlalu terbuai oleh mu.." lirih Sasha ingin mengungkapkan keraguannya. Jika memang Lion hanya ingin mencobanya sekilas, setidaknya Sasha akan berusaha untuk bersiap-siap jikalau pria itu akan hilang. Karena itu lah, ia ingin Lion mengerti akan ketidak yakinanya.
Lion menghela nafas pelan. Ia tentu sudah menduga Sasha tak mungkin bisa langsung membangun dinding kepercayaan padanya. Ia tak bisa memaksimalkan hal itu. Bagaimana pun ini terjadi karena ia yang terlalu tiba-tiba muncul dalam hidupnya.
Lion bangkit dari duduknya menghampiri Sasha yang masih terisak pelan dengan kepalanya yang tertunduk. Kini ia berdiri disamping Sasha, dibawanya kepala Sasha untuk bersandar pada tubuhnya. Ia belai rambut Sasha dengan lembut. "Aku tak bisa menjelaskan alasannya secara singkat Sasha. Perasaan ku padamu bukan lah hal sederhana yang bisa ku jabarkan. Kau akan terkejut jika mengetahui betapa gilanya aku mencintai mu." Ucapnya menertawakan dirinya sendiri. "Dengan perasaan seperti itu, mana mungkin akan cepat hilang." ucapnya berusaha menghilangkan pemikiran buruk Sasha terhadapnya.
Ia jauhkan Sasha darinya sejenak. Lion berlutut agar bisa melihat wajah Sasha yang masih menangis mengeluarkan air matanya. Ia menatapnya sendu. "Sasha, tak perduli seberapa tidak masuk akal hal ini, tapi ku mohon percaya lah satu hal, semua ini terjadi hanya karena aku mencintai mu."
"Lion...." panggil Sasha dengan suara seraknya.
"Ya Sasha, katakan lah.." timpal Lion lembut.
"Apa.." Sasha paksakan sebuah senyuman diantara tangisnya. Ia genggam satu tangan Lion yang tengah membelai wajahnya. "Apa aku boleh jatuh cinta pada mu?"
Deg!
Lion membeku. Ia tak mengira ia akan mendengarkan hal ini begitu cepat. Padahal ia pikir butuh waktu untuknya mendapatkan hati sang pujaan hati. Tidak seperti dulu dimana ia akan mendapatkan balasan cinta dari Sasha disaat usia gadis itu berusia dua puluh tujuh tahun. Tidak ia sangka perjuangannya merenggut masa muda Sasha akan membuahkan hasil. Membelokkan gadis itu dari jalan takdirnya.
"Sa-sha.. " ucapnya gemetar masih tak bisa menyangka apa yang telah ia dengar.
"Aku mencintai mu, Lion... " Ucap Sasha dengan suara lirihnya.
Lion tegakkan tubuhnya, dengan cepat ia raup bibir merekah Sasha. Memagutnya rakus tak lagi mau menahan diri. Baginya, yang dihadapannya saat ini bukan lagi Sasha calon istrinya, namun Sasha yang telah ia nikahi. Wanita yang telah menyerahkan diri padanya.
__ADS_1
Disaat dua manusia ini terbuai oleh perasaan mereka, alur kehidupan yang semula begitu lurus dengan tujuan yang jelas kini mulai berubah bentuk dengan berbagai cabang dan akhir yang tidak lagi bisa di duga. Dua orang yang terbuai cinta ini bahkan seakan tuli tak mendengar suara tangis wanita yang kini tengah kehilangan Lionnya.