CEO Serakah

CEO Serakah
BAB IV : Pesan Kebencian dari Aolion


__ADS_3

"A.. Ekhem, se-sepertinya aku mendengar sesuatu yang salah, bisa tolong kau ulangi?" Pinta Sasha yang meragukan pendengarannya barusan. Pasalnya ia seperti mendengar seseorang tengah mengajaknya menikah sekarang.


Aolion tersenyum gemas. "Benarkah kau tak mendengarnya? Atau kau hanya berpura-pura agar aku mengatakannya sekali lagi?" Goda Aolion.


"Itu artinya, aku.. tidak salah dengar?" Lirih Sasha.


"Tentu saja." Disandarkannya punggung lebar milik Aolion pada sofa hitamnya. Kepalanya sedikit mendongak menikmati wajah Sasha yang terus berubah-ubah begitu cepat dan itu sangat menghiburnya. Ia tersenyum tipis. "Aku barusan melamar mu Sasha. Sekarang awal bulan, jadi tanggal sembilan hanya butuh sekitar satu minggu, bagaimana?"


"Kau.. kau gila" ucap Sasha tanpa sadar keluar begitu saja tanpa terfilter.


Aolion benar-benar dibuat sangat bahagia hanya dengan berbicara bersama calon nyonya rumahnya ini. Memang keputusan yang benar untuk menghabiskan masa muda bersama Sasha, Aolion semakin yakin dirinya akan terus menyesal jika tidak melakukan hal ini.


"Orang-orang lebih banyak berkata aku menawan Sasha, bagaimana bisa kau mengatai ku gila?" Protes Lion seakan-akan ia tidak terima atas hinaan ini.


"Hah? Apa?" Sasha tersadar akan kesalahannya. "Ba-barusan aku berkata seperti itu?" Tanyanya cemas takut-takut ia benar-benar mengatakan isi hatinya.


"Iya. Barusan aku mendengarnya dengan jelas Sasha." Sahut Lion seakan mengancam agar Sasha tak perlu membuat alibi bahwa ia salah dengar. "Kau mengatakan bahwa aku pria gila."


Sasha menelan ludahnya susah payah bagai menelan biji salak. Wajahnya memucat. "Kau.. tidak akan menuntut ku bukan? Ki-kita bukankah sudah berteman haha.. " ia tertawa dengan sangat canggungnya karena tak memiliki bakat berakting. Wajahnya mulai berubah memelas berharap Aolion mau memberinya kesempatan.


"Teman? Sejak kapan kau menjadi teman ku Sasha?" Balas Aolion semakin membuat Sasha mematung dengan pikiran yang penuh dugaan buruk.


"Ki-kita bukan teman?" Ulang Sasha gugup.


"Hm! Tentu saja bukan." Balas Lion yakin. "Kita kan akan menjadi suami-istri Sasha. Kau tak akan pernah hanya menjadi sosok teman bagi ku."


"Berhenti bergurau Aolion! Apa kau ingin aku mati muda!?" Geram Sasha tak tahan. Pria ini benar-benar pandai mengendalikan emosinya.


"Aku tak pernah bercanda dengan mu Sasha." Balas Aolion serius membuat Sasha kembali dibuat diam tak berkutik.


"Tentang aku yang mendekati mu, aku yang mengejar langkah mu, hingga aku yang melamar mu. Semua ini adalah usaha ku untuk mendapat kan mu, tidak kah kau mengerti?"


"Bukankah, kita baru bertemu dua kali?" Ujar Sasha berusaha meyakinkan diri. Ia tak mungkin bisa memberikan jawaban pasti dengan keadaan yang begitu mendadak sekalipun itu seorang Astrada yang menanyainya.


Apa dua kali itu cukup bagi pria itu untuk menyukainya? jika semudah ini seorang pria jatuh hati padanya, bukankah seharusnya ia sudah menerima ribuan lamaran? Karena itu lah ia tak bisa begitu saja percaya dan berharap. Meski terdengar serius, tapi pria ini cukup banyak bergurau, siapa tau saja ini juga salah satu candaannya yang berlebihan.


"Kau benar." Aolian menghela nafas panjang. "Aku memang terlalu tergesa-gesa hingga tak memberimu waktu. Kau pasti terkejut ya?"

__ADS_1


"Hm.." balas Sasha dengan kepalanya mengangguk tak perduli Aolion melihatnya atau tidak. "Aku terkejut." dan tak cukup yakin untuk mempercayainya, lanjutnya membatin.


Aolion tersenyum lembut melihat betapa menggemaskannya ekspresi wajah Sasha saat ini.


"Baiklah aku akan tunda selama satu bulan." Putusnya secara sepihak.


"Satu itu-!"


"Aku orang yang cukup tidak sabaran Sasha. Satu bulan itu adalah toleransi terbesar ku untuk mu." Potong Aolion tak memberikan kesempatan bagi Sasha untuk memprotesnya. "Lagi pula, aku cukup percaya diri. Satu bulan akan cukup untuk membuat mu mau menjadi nyonya Astrada secara suka rela."


Blush!


"Oh ku rasa wajah mu sudah semerah buah Cherry Sasha" goda Aolion gemas. "Apa kau suka panggilan Nyonya Astrada? tenang saja, panggilan itu hanya akan menjadi milik mu."


"I-itu mana mungkin!" Sasha menggigit bibirnya menahan malu. "Aku, aku lelah. Bolehkah ku tutup teleponnya?" Ia benar-benar tak sanggup lagi jika harus terus mendapatkan serangan dari Aolion.


"Jujur saja aku masih ingin berbicara tapi aku tak bisa membuat mu terus kelelahan. Beristirahat lah Sasha."


"Hmm, kau juga, Lion.."


Otaknya berputar-putar mengingat semua kejadian tak terduga dalam waktu yang begitu singkat ini. Ia melangkah ke kamarnya lalu menjatuhkan diri disana. Matanya menatap langit-langit memikirkan semua hal yang ia alami. Mau dipikirkan selogis apapun ini terlalu sulit untuk diterima begitu saja.


Diraihnya boneka Hello Kitty besar yang ia punya. Ia peluk erat boneka tersebut. Bayangan wajah Aolion yang mengekorinya membuatnya tak bisa menahan senyumnya.


"Pria yang tak pernah mendekati wanita secara blak-blakan mendekati ku," ucapku mengingat-ingat hal tak terduga itu. "Itu artinya dia tak mungkin mempermainkan ku bukan?"


Digigitnya telinga bonekanya menahan teriakan gemasnya. Ia lepas gigitannya dengan matanya yang menerawang jauh membayangkan sosok Aolion lagi untuk kesekian kalinya. "Tapi kenapa? Dia bahkan baru bertemu dua kali dengan ku.." gumam Sasha masih merasakan keraguan dalam dirinya. "Dia bahkan langsung mengajak ku menikah.."


"Haaah.. sudah ku duga, ini masih terlalu dini untuk diputuskan."


.


"Tuan muda, semua persiapannya sudah selesai tuan. Anda bisa mengajak nyonya melihatnya kapanpun nyonya siap." Lapor sang bawahan pada Aolion.


"Dia akan suka," ucap Aolion penuh percaya diri.


"Tuan, paman anda menghubungi anda sejak tadi. Katanya ponsel anda sibuk. Sepertinya ini karena berita anda dengan nyonya." Laporan lain datang dari asisten pribadinya, Arman.

__ADS_1


Aolion mendengus jengkel. "Si tua Bangka itu, benar-benar tak berubah. Katakan padanya untuk tidak datang ke acara pernikahan ku. Aku tak mau dia mengotori pernikahan ku lagi." Tegas ku memberikan perintah.


"Baik tuan!"


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam laptopnya. Ia lupa, semua pesan dan panggilan yang masuk ke ponsel Sasha kini masih terkirim padanya.


From : Zen


To : Sasha


'Sasha apa kau sungguh memiliki hubungan dengan pria itu? Sejak kapan? Kau bahkan tak pernah membicarakannya pada ku. Sasha tolong jawab aku'


Seketika suasana yang begitu bagus berubah menjadi suram. Matanya menajam menatap nama pengirim pesan yang telah menghubungi wanitanya.


Bocah sialan ini, takkan ku beri kau kesempatan untuk menyentuh milik ku barang seinci pun.


Dengan tanpa permisi pada sang pemiliki, ia ketikan jawaban yang membuatnya puas seolah memukul telak wajah pria bernama Zen ini.


From : Sasha


To : ********


'Memangnya aku harus melaporkan semua hal pribadi ku pada mu Zen. Sepertinya kau salah paham tentang kedekatan kita'


Aolion menghapus lagi kata 'kita' yang telah ia ketikan. Rasanya tak rela baginya menyebut hubungan mereka berdua dengan kata 'kita' seperti ini.


'Kedekatan ku dengan mu. Aku adalah wanita yang akan menikah dengan seorang Aolion. Aku mencintainya,'


Aolion mengernyit tak yakin. "Ku rasa ada yang kurang." Pikirnya.


'Aku sangat mencintainya. Kami memutuskan untuk mengungkap hubungan kami sekarang karena kami akan menikah dalam waktu dekat. Aku akan mengundang mu ke pernikahan kami. Ku harap kau datang'


Tak!


"Selesai." Aolion tersenyum puas melihat hasil karyanya. "Datanglah Zen Faillin. Akan ku sambut kau dengan sangat ramah." Lanjut Aolion tak sabar ingin menyombongkan diri dihadapan seorang Zen.

__ADS_1


__ADS_2