
Di ruangan CEO Angkasa Group, Elvano sedang berkutat dengan berkas yang sedikit menumpuk, selama hampir dua minggu perusahaan di tangani oleh ayahnya. Elvano nampak serius dengan berkasnya tapi aktifitas itu terhenti karena ketukan pintu.
tok,,tok
Davin sekertaris Elvano masuk ke ruangan ketika mendapat sahutan dari dalam.
“Ada apa,?” kata Elvano tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas.
“Presdir, di bawah ada perempuan yang ingin bertemu, dia sempat ingin menerobos masuk tapi di tahan oleh penjaga” Davin nampak sedikit gugup.
Elvano melepaskan bolpoinnya dan melihat ke arah Davin, dahinya sedikit berkerut karena bingung.
“siapa?”
“Kata resepsionis namanya Laura Damien”
Deg
Jantung Elvano tiba-tiba tak karuan, ada sedikit rasa takut ketika mendengar nama itu.
“suru dia masuk lewat life eksklusif”
“siap tuan” Davin keluar menuju mejanya dan menelpon bagian resepsionis.
Di ruangan Elvano jadi tidak fokus. Vano mencoba menetralkan perasaannya.
tok,,tok
“Masuk,!!”
Pintu terbuka menampakkan Davin dengan seorang wanita bertubuh tinggi, body yang sexy, dan wajah yang sangat cantik, bibir berisi dan hidung yang runcing, Laura menggunakan mini dress yang menambah kesan sexy di tubuhnya. Laura tersenyum manis pada Elvano yang sedang melihat ke arahnya.
“Davin kau bisa keluar”
“iya tuan” Davin keluar dari ruangan Elvano, dia sempat penasaran dengan Laura.
__ADS_1
siapa wanita itu,? bukannya Presdir akan menikah sebentar lagi. Devan
Devan kembali ke mejanya, otaknya berkecamuk, dia memang sangat penasaran tapi dia tidak ingin mencampuri urusan Elvano, Davin lebih memilih melanjutkan kembali pekerjaannya dari pada memikirkan hal tentang bosnya itu.
Elvano beranjak dari kursi kebesarannya dan berpindah ke sofa.
“Ada apa Ara?” tanya Elvano
Laura berjalan bak seorang model arah Elvano dan duduk di pangkuannya. Laura melingkarkan tangannya di tengkuk Elvano dan mencium bibirnya, tapi Elvano hanya diam tanpa membalas ciuman Laura.
“Ano aku rindu, kamu kok tumben gak seagresif seperti biasa sih” Laura mendengus kesal, dan cemberut yang di buat-buat.
“Ara, ada apa sampai kamu berani datang kesini, dan apa itu tadi, kenapa kamu membuat keributan di bawah?” Elvano mengalihkan pembicaraan Laura dan menganti topik lain dengan nada dingin.
“Ck, Ano aku kan sudah bilang aku itu rindu” Laura berdecak kesal.
Elvano diam menatap Laura dengan raut wajah yang sangat sulit di baca, bahkan Laura langsung berdiri dari pangkuan Elvano karena merasa hawa yang di sekitarnya tiba-tiba mencekam.
“katakan,!”
Duuuaaar,!!
Tiga kata yang di lontarkan Laura buat Elvano seperti di sambar petir. Dadanya bergemuruh, emosinya memuncak, tangannya mengepal. Tapi Elvano berusaha menahan emosinya sekuat tenaga.
“lalu apa urusannya denganku,?” Elvano menatap Laura dengan lekat, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
“apa maksudmu bertanya begitu, hah, buat apa aku mencarimu kalau bukan untuk meminta tanggung jawab” teriak Laura dengan nafas memburu.
“apa kau gila, kau menyuruhku untuk bertanggung jawab” teriak Elvano tak kalah kuat, untung saja di lantai itu hanya ada ruang Presdir dan sekertaris nya.
“hiks,,hiks, kau jahat Ano, setelah kau meniduri ku, kau tidak ingin bertanggung jawab,,hiks” Laura menangis dan terduduk di lantai.
Tanpa keduanya sadari Syena mendengar semua yang di katakan keduanya, bahkan Syena juga melihat mereka berciuman.
Flashback On
__ADS_1
Hari ini adalah hari dimana Elvano dan Syena akan Fitting baju pernikahan mereka di butik, sebenarnya mereka akan pergi jam 4 sore tapi Syena ingin menunggu di kantor Elvano agar mereka bisa berangkat bersama. Saat Syena masuk di lobi, semua kariyawan terkejut melihat kehadiran Syena, bahkan ada yang cepat-cepat menghindari, dan ada juga yang sedang berbisik-bisik. Syena merasa heran dengan tingkah mereka, biasanya saat dia datang semua menyapa dan tersenyum ramah, karena semua sudah tau bahwa Syena calon istri Elvano. Saat Syena menghampiri resepsionis, 2 kariyawan di situ nampak ketakutan menjawab pertanyaan Syena saat menanyakan keberadaan Elvano.
Syena menaiki lift ekslusif agar langsung sampai di ruangan Elvano, saat sampai di lantai tempat bagian Presdir Syena berjalan cepat keruangan Elvano, begitu juga Davin keluar dari ruangannya.
“Nona Syena” kata Davin sambil tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
“dimana Elvano” tanya Syena dengan sorot mata yang tajam.
Davin semakin gugup ketika di tatap oleh Syena, dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya tapi bukan Syena namanya jika tidak tau hal itu.
“presdir ada di ruangannya Nona”
Syena berjalan menuju pintu, saat dia ingin mendorong pintu dia melihat sesuatu yang membuat langkah nya terhenti, bahkan tubuhnya merasa beku di tempat. Davin ingin mendekat tapi Syena menyuruh untuk berhenti.
Flashback Off
Syena tersenyum getir ketika mendengar pembicaraan Laura dan Elvano, bahkan air matanya ingin menerobos turun tapi Syena berusaha untuk menahannya, dia tidak ingin Davin melihat air matanya keluar untuk pria brengsek seperti Elvano. Syena menutup pintu ruangan dengan pelan, setelah itu dia melangkah pergi, tapi dia berhenti sebentar di samping Davin.
“jangan katakan apapun pada Elvano jika aku baru saja dari sini dan melihat semua nya, dan juga kasih tau semua karyawan, jika sampai Elvano tau, kau orang pertama yang akan aku hancurkan”. Davin nampak ketakutan dengan ancaman Syena, tanpa menunggu jawaban Davin, Syena melangkah pergi.
Dada Syena terasa sangat sesak, air matanya sudah tergenang di pelupuk mata, dengan satu kali kedipan air mata itu akan membasahi pipi Syena yang sangat mulus. Syena menahan sekuat tenaga emosinya yang memuncak, dia menahan nafasnya yang mulai memburu. Syena berpikir, sifat Elvano yang playboy itu telah lama hilang, tapi nyatanya, pria brengsek ya tetap brengsek.
Syena keluar dari dalam lift, dan melangkah keluar. Semua karyawan yang ada di sana nampak sangat ketakutan saat Syena menatap mereka dengan tatapan membunuh. Syena melangkah pergi dari perusahaan Angkasa Group.
Syena membelah jalan dengan dengan mobil kecepatan tinggi.
Di perusahaan Angka Group, Davin merasa ketakutan di ruangannya. Dia ingin menghampiri Elvano karena ingin memberi berkas yang harus di tangani, tapi dia justru bertemu dengan Syena, saat Syena pergi Davin yang ingin menghampiri Elvano justru terkejut dengan apa yang dia dengar di ruangan Elvano.
“aku akan bertanggung jawab, tapi hanya dengan anak di dalam kandungan mu, tapi aku tidak akan menikahi mu Laura, karena aku akan segera menikah”. Kata Elvano sembari menyandarkan punggungnya di kursi.
“tidak, aku tidak mau, kau harus menikahi ku Elvano” teriak Laura.
“jika kau ingin aku bertanggung jawab, maka ikuti apa yang aku bicarakan, aku juga tidak akan membiarkan kau menderita”. Elvano menunduk dan menarik rambutnya frustasi.
“baiklah, terima kasih Ano” Laura mendekat kearah Elvano dan memeluknya. Elvano tidak membalasnya, bahkan melirik pun tidak.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan siapapun, ada senyuman licik terukur di wajah Laura.