
“Menangislah, karena air mata bukan tanda kelemahan, tapi bukti bahwa kita masih memiliki perasaan” ~ Syena Anjani
.
.
.
Syena masuk di apartemen nya, dia menutup pintu dan terduduk dilantai. Sepanjang perjalanan dari kantor Elvano, dia sangat ingin menangis tapi dia mencoba untuk menahannya agar tidak ada yang melihat kesedihan nya.
Aaaarrgggghh
Syena berteriak sekuat tenaga dan memukul dadanya sangat sesak sedari tadi ia tahan. Untung saja apartemen nya memiliki kedap suara.
“Hikss,,hikss ,, Elvano kenapa ,, kenapa kau membuatku sesakit ini” Syena terus memukul dadanya yang tidak berhenti merasakan sesak yang teramat sangat.
“aku pikir kau benar-benar mencintai ku, bahkan melamarku, tapi ternyata kau hanya ingin menyembunyikan kesalahan menjijikkanmu itu”. Syena bergumam dalam tangisnya.
Hati Syena untuk Elvano sudah seperti serpihan kaca yang tidak dapat di satukan lagi, bahkan untuk melihat wajahnya saja Syena terasa seperti melihat sebuah kotoran **** yang sangat menjijikkan.
Syena berjalan gontai menuju kamarnya, matanya sebab karena terlalu banyak menangi, dia ingin menangis lagi tapi ternyata air matanya pun tidak mengizinkan untuk keluar demi seorang pria brengsek seperti Elvano.
Syena merengkuh kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya di kedua tangan yang bertumpuk di atas lutut.
ting,,tong
ting,,tong
Bel apartemen Syena terus saja berbunyi tapi lagi-lagi ia menghindari orang lain, saat ini Syena membutuhkan waktu menyendiri. Kata-kata Laura terus saja mengelilingi isi pikirannya.
Syena membiarkan bel pintu terus berbunyi sampai tidak terdengar lagi.
Syena mengambil handphone nya yang berada dalam tas, banyak panggilan dan pesan dari Elvano dan juga beberapa dari Geby dan Salma.
Tuuut..
Syena menelpon seseorang tapi tidak butuh waktu lama telpon nya sudah tersambung.
“Hallo”
Syena terdiam ketika mendengar suara pria di ujung telepon.
__ADS_1
“Hallo nano ada apa?” tanya Berry dengan khawatir karena tidak ada suara dari Syena.
“kak,!!”
Suara Syena bergetar ketika menahan tangisannya. Berry merasa aneh karena tidak biasanya Syena memanggil nya kakak.
“Ada apa nano, kamu menangis,?” tanya Berry dengan lembut dan rasa khawatirnya, karena dia tau saat ini mungkin Syena ada masalah.
“kak, apa boleh kau datang kesini,? aku membutuhkanmu”. tanya Syena, suaranya juga sudah terdengar sengau karena menangis. Air matanya sudah membanjiri kedua pipinya tapi ia menahan agar tidak pecah suara tangisannya.
“besok pagi aku tiba di sana, jangan kemana-mana, aku akan berpamitan dulu pada kakak iparmu”
“iya, kak tolong jangan beri tahu Elvano, aku akan menjemput Mommy dan Daddy untuk tinggal bersama ku saja” kata Syena.
“baiklah kalau itu maumu, aku tutup telpon nya”
“iya”
tuut..
Suara tangisnya pecah, dadanya sangat sesak ketika mendengar suara Berry kakaknya yng sangat Syena sayangi. Syena tak mampu melihat raut wajah keluarga nya yang sangat bahagia ketika mereka tau kalau Syena akan menikah, tapi bagaimana jika mereka tau yang sebenarnya tentang Elvano.
Syena berjalan gontai ke tempat tidur, terlalu banyak menangis membuatnya mengantuk. Syena mematikan handphone agar tidak ada yang mengganggunya.
Syena dan keluarganya duduk di ruang TV, Berry juga sudah sampai.
“yena, ada apa sayang, kamu kok tiba-tiba suru Mommy sama Daddy pindah dari hotel,? dan kenapa lagi dengan wajahmu nak,? dan kemarin kenapa kamu tidak datang, Elvano mencarimu?” Mika duduk di sampai putrinya. Sedangkan Bram duduk di samping putranya Berry.
Syena menatap keluarga nya yang terlihat khawatir dengan keadaan Syena, mata sembab dan hidung yang merah.
“aku akan membatalkannya pernikahan ini” kata Syena dengan di ikuti air matanya.
“APA,!!”
Keluarganya sangat terkejut, bagaimana bisa Syena membatalkan pernikahannya, sedangkan semuanya sudah siap, undangan juga sudah tersebar.
“Syena kenapa tiba-tiba kamu membatalkannya, bukannya kalian saling mencintai,?” kini Berry yang bertanya.
Bram hanya diam, ia terus memandangi putrinya, Bram sangat tau sifat Syena.
“aku tidak bisa memberi tahu alasan nya” kata Syena dengan air mata berlinang.
__ADS_1
Mika menarik Syena ke dalam pelukannya, walaupun dia belum tahu alasan Syena, tapi dia tau Syena membutuhkan pelukannya.
“Apa Elvano punya perempuan lain,?” kini Bram yang bertanya, Bram bertanya dengan tenang, walaupun dia sudah tau mengapa putrinya mau membatalkan pernikahannya. Bram tau Syena tipikal wanita jika sesuatu miliknya telah di ambil orang lain, maka dia akan melepaskan nya jika orang yang mengambil barangnya itu memiliki alasan yang kuat.
Syena melepaskan pelukan Mika, dia mengambil tisu untuk menghapus air matanya, ia tidak menjawab pertanyaan Daddy-nya.
Wajah Berry memerah karena emosi, dadanya bergemuruh, kedua tangannya mengepal kuat. Diamnya Syena adalah jawaban bahwa yang di bilang Daddy-nya benar, tapi Berry ingin mendengar langsung dari mulut Syena.
“KATAKAN JIKA ITU BENAR SYENA” teriak Berry. Syena tersentak kaget dengan teriakan Berry begitu juga dengan orang tuanya. Syena tersulut emosi, dia berpikir bagaimana bisa Berry berteriak kepadanya padahal selama ini Berry tidak pernah membentak atau berteriak kepadanya.
“IYA,,IYA JAWABANNYA IYA BERRY, DIA BERSELINGKUH DAN MENGHAMILI WANITA LAIN, KAU PUAS” teriak Syena tak kalah kuat. Air matanya turun kembali, dia terduduk di lantai. Syena terus memukul dadanya yang terasa sakit ketika mengucapkan kata-kata itu.
Bram mengepalkan kedua tangannya di paha, raut wajahnya seperti singa yang siap membunuh mangsanya, sebagai seorang ayah, ia tidak terima putri satu-satunya di sakiti seperti ini. Mika menghampiri suaminya untuk menenangkan, dia tidak ingin darah tinggi Bram naik lagi.
Jangan di tanya lagi raut wajah Berry, emosinya seperti bom Hiroshima Nagasaki yang siap meledak untuk menghancurkan siapa saja. Bagaimana bisa Elvano berani menyakiti Syena adik tersayang nya, padahal dari awal sudah di peringatkan. Berry menghampiri Syena dan memeluknya erat, dia mencoba menenangkan Syena walaupun dia juga sedang di penuhi rasa amarah.
“tenang lah, jangan menangis karena pria brengsek itu” Berry mengusap bahu Syena untuk menenangkan.
“Berry,,hiks ,,hiks ini sakit, sangat sakit,, hiks kau tau itu” Syena menangis dalam pelukan kakaknya.
“iya aku tau, dan aku akan membunuhnya” kata Berry dengan tenang, tapi dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Syena melepaskan pelukan Berry, dia menggeleng cepat kepalanya. “tidak tidak, kau tidak boleh melakukan itu Berry” Syena menggenggam erat tangan Berry, dia sangat takut dengan ancaman Berry karena Syena sangat tau sifatnya.
“kenapa kau masih membela nya nano, dia sudah berani menyakitimu, dan aku tidak terima itu, kau mengerti” kata Berry dengan amarah yang tertahan.
Berry membantu Syena untuk duduk di sofa.
“Berhenti berkelahi, tidak ada gunanya untuk kalian, ini lebih baik saat Yena tau sebelum mereka menikah”. kata Bram, Mika hanya diam ketika Bram yang sudah bicara.
“Berry, Mom Daddy, Please Syena mohon kali ini biar Syena yang nyelesain masalah Syena, setelah itu Syena akan ikut pulang ke Jerman”. kata Syena
“baiklah jika itu mau nak” kata Bram
Syena melihat ke arah Berry, tapi Berry malah memalingkan wajahnya, Syena tau bahwa Berry sangat marah saat ini.
“Please,?” tanya Syena menggenggam tangan Berry.
“Huff, baiklah” Berry membuang nafas dengan kasar. Syena tersenyum dan memeluk nya.
Syena kini sudah sedikit merasa mendingan, ia bersyukur karena dia tau sebelum pernikahan mereka terjadi.
__ADS_1
Keluarga Syena benar-benar sangat marah dan kecewa, apa lagi dengan Mika, walaupun dia bungkam dan tak bicara bukan berarti seorang ibu membiarkan anaknya di sakiti oleh orang lain. Yang membuat mereka sangat kecewa karena, kepintaran Elvano dalam berkata manis waktu meminta persetujuan mereka untuk melamar Syena, bahkan membuat janji-janji manis pada mereka, tapi ternyata pada akhirnya dengan berani Elvano menyakiti putri kesayangan mereka. Mereka juga merasa di bohongi dan di bodohi olehnya.