CHARM

CHARM
Bab 27


__ADS_3

“Berhentilah, jangan seolah-olah kau yang paling tersakiti disini!” Jordy sudah mulai muak dengan ocehan Elvano. Tak habis pikir, Elvano yang berbuat kesalahan, tapi seperti Syena yang terlihat jahat karena menghilang darinya.


Apakah salah jika Syena pergi tak nampak diri? Tidak bukan? semuanya pasti tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah menyakiti kita! Terkecuali, jika orang itu benar-benar bodoh jika ingin bertahan.


“Diamlah jika kau tidak pernah merasakan kehilangan!” lirih Elvano, ia benar-benar di kuasai minuman Alkohol. Elvano ingin berdiri, tapi ia malah terjungkur ke depan.


Jordy terbelalak, ia langsung menghampiri Elvano mengangkat dan memapah dirinya. “Breng*ek , kau sangat merepotkan, sialan!” pekik Jordy kesal.


Jordy memapah Elvano dengan di bantu salah satu waiters di bar. Ia bingung untuk mengantarkan Elvano kemana, jika di antar pulang bisa-bisa ayahnya akan membuat Elvano babak belur. Tapi tidak mungkin juga ia harus membawa Elvano ke apartemennya.


“Apa aku bawah saja ke apartemen Ray?” tanya Jordy , “Iya, itu lebih baik”. Ia yang bertanya, ia juga yang menjawab.


Jordy melajukan mobilnya ke apartemen Ray, Elvano juga sudah tertidur di jok belakang. “Jika bukan sahabatku, ku pastikan kau tidur di trotoar!” gumam Jordy.


Mobil yang di kendarai Jordy kini terparkir sempurna di besment apartemen Ray. Jordy memanggil satpam untuk membantunya membawa Elvano ke apartemen Ray. Mereka memapah Elvano hingga tiba di depan pintu apartemen.


ting tong ting tong


Ceklek


Nampak sosok wanita cantik dan seksi dari balik pintu. Jordy yang melihatnya hampir saja menjatuhkan Elvano.


“Cari siapa?” tanya wanita itu. Jordy tidak menjawab tapi langsung menerobos masuk, tidak sampai di depan pintu rasa terkejutnya, saat ia masuk Rey keluar dari dalam kamarnya, ia sedang memasang baju di tubuhnya.

__ADS_1


“Siapa yang datang sa...” ucapan Ray terhenti ketika melihat seseorang yang di depannya sedang menahan amarahnya.


Jordy membaringkan Elvano di sofa secara perlahan, setelah itu ia mendekati Ray yang masih terdiam menatap kearahnya, dan juga wanita seksi itu sedang bergelayut manja di lengan Ray.


Bugh!


Jordy mendorong wanita itu, lalu melayangkan satu pukulan ke wajah Ray, seketika Ray tersadar. Ray memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


“Kenapa kau memukulku sialan!” teriak Ray. Ray bangkit, lalu ia melayangkan satu pukulan di wajah Jordy.


Jordy mencekam baju Ray dengan erat , “Aku tidak merasa diriku suci, tapi kau tahu? Kau tidak lebih dari sampah!” bentak Jordy. “Ku pikir hanya pria brengsek itu sendiri melakukan hal memalukan,” Jordy menunjuk satu jari ke arah Elvano , “Ternyata kau sama bejatnya seperti dia.” Jordy mendorong Ray hingga tersungkur kebelakang.


Wanita yang di dorong oleh Jordy telah berlalu keluar, ia tidak ingin ikut campur. Walau merasa tersinggung dengan perlakuan Jordy, tapi ia tidak ingin memperkeruh keadaan.


“Apa kau sedang berlagak suci di depanku?” Ray tertawa sinis , “Kau lupa dulunya kau juga lebih sampah dari kami ? Cih jangan berbicara soal bejat pada kami, karena mungkin saja Gaby kau juga menganggap sebagai ******* seperti wanita jala*g yang sering kau tiduri!”


Bugh Bugh Bugh


Jordy memukul wajah Ray membabi buta. “Dengarkan aku baik-baik brengsek, aku pernah menjadi sampah seperti kalian, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun menghina Gaby , karena dia satu-satunya wanita yang dapat mengeluarkan aku dari dunia sampah kalian! , dan ingat Gaby bukan *******!” bentak Jordy, dia melayangkan satu pukulan lagi lalu menghempaskan Ray.


Ray tertawa keras , entah sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya. “Coba kau ulangi lagi ? Gaby bukan ******* ? Dia dan Salma sama-sama *******! Jika bukan, mereka tidak akan menyerahkan diri mereka secara cuma-cuma!” teriak Ray.


Brak

__ADS_1


Ray dan Jordy terkejut , mereka berbalik menatap kearah pintu. Gaby berdiri dengan wajah yang merah padam, kali ini tidak tahu lagi, bagaimana nasib dua manusia yang berada di depannya. Elvano bahkan tersadar dari tidurnya, ia melihat kearah tiga manusia yang sedang bertatapan. Kini Elvano benar-benar sadar, bahkan rasa mabuknya hilang seketika ketika melihat situasi yang benar mencekam.


“Coba ulangi perkataan mu” pintah Gaby pada Ray, dingin dan tenang, tapi terdapat bendera perang yang sedang berkibar.


“Sayang jangan dengar ucapa...”


“DIAM!” teriak Gaby , “Aku tidak menyuruhmu bicara.” Jordy bungkam , jika Gaby sudah seperti ini maka bersiaplah orang yang mengusik dirinya.


“Yang mana?” Ray berpura-pura bingung. “Apa tentang kau dan Salma sama-sama seperti pel*cur?” ucap Ray berani.


Elvano ternganga. A**da apa dengan sialan itu?


“Apa kau sudah gila?” bentak Elvano. Ray tertawa sinis tanpa menjawab ucapannya.


Ray sosok orang dewasa, paling menghargai wanita. Tidak pernah berbicara sekasar itu, tapi Elvano dan Jordy yang sudah bersahabat dengannya sedari duduk di bangku SMP merasa heran.


Gaby menanggapi dengan senyum sinis , “Jika kau menganggap kami sebagai ****** , kami tidak masalah. Tapi kau sendiri tahu kalau kau yang pertama meniduri Salma kan?” Gaby berjalan perlahan mendekati kearah Ray. “Lalu lantas apa kau menyebut kami seperti itu? No problem, tapi kau harus tahu setelah ucapan yang kau ucapkan tadi , Salma mendengar semuanya. Aku turut menyesali nasib sahabatku yang di tiduri pria sampah seperti dirimu” Gaby berbalik dan meninggalkan para pria itu.


Jordy dan Elvano juga mengikuti Gaby. Tapi Elvano berhenti di ambang pintu dan berkata sesuatu yang menusuk relung hati Ray.


“Kau tahu, betapa sakitnya aku kehilangan Syena? Bahkan hal yang tak pernah niat untuk ku bayangkan ketika kami berpisah secara menyakitkan seperti sekarang. Aku tidak tahu ada apa yang terjadi padamu, tapi kau harus tahu. Kau seorang pria, bagaimana jika hal yang kau ucapkan terjadi pada ibumu, ketika ucapan itu di lontaran oleh ayahmu pada ibumu!”


Elvano menutup pintu, lalu meninggalkan Ray yang terdiam menatap Elvano hilang dari balik pintu.

__ADS_1


Brugh


Ray terduduk di lantai dan menangis , “Maafkan aku!”


__ADS_2