
Air mata Syena mengalir deras setelah mendengar penjelasan dari Gaby. Entah bagaimana perasaannya saat ini, hanya dia dan tuhan yang tahu. Tapi yang pasti Syena terlalu kecewa dengan Elvano bahkan rasa cintanya selama ini, tertutup dengan rasa benci tentang penghianatan yang Elvano berikan. Bahkan kekecewaannya bertambah ketika ketidak jujuran kedua sahabatnya yang lebih membelah pria yang telah menyakitinya.
“Maafin kita,!” Salma dan Geby sangat merasa bersalah dengan ketidak jujuran mereka pada Syena.
Syena tersenyum getir mendengar permohonan maaf dari sahabatnya, dia merasa entah mereka yang tega atau dia yang terlalu bodoh.
“bahkan permintaan maaf kalian tidak akan mengubah situasi saat ini, jika gue tau sejak awal, gue gak akan biarin dia ketemu sama orang tua gue, harusnya kalian tahu bahwa jika yang kalian lakuin itu bukan hanya nyakitin gue, tapi juga orang tua dan kakak gue”. kata-kata Syena seperti ribuan belati yang menancap di jantung keduanya.
“Syena, kita tahu ini salah tapi please maafin kita, kita gak maksud nyembunyiin ini semua, kita gak sanggup buat nyakitin lo jika lo tau itu semua” Salma yang sudah berderai air mata mencoba meraih tangan Syena tapi langsung di tepis olehnya.
air mata gue terlalu berharga buat hal menjijikkan. Syena
Syena menghapus air matanya dengan kasar, dia merasa terlalu bodoh untuk menangisi semua hal yang jika dia pikirkan juga ada bagusnya dia mengetahui semuanya sebelum dia memberikan mahkota yang paling berharga untuk Elvano. Dia tahu dia bukan perempuan baik, tapi setidaknya ada yang bisa dia pertahankan untuk dirinya.
“tapi kalian udah nyakitin gue, jadi gue gak perlu dengerin semua penjelasan kalian, yang gue tahu gue kecewa banget sama kalian, tapi yah sudahlah ini juga tidak sepenuhnya kesalahan kalian, gue cukup positif thinking buat kalian, mungkin maksud kalian baik, tapi kalian ngelakuin nya dengan cara yang salah, makanya itu gue kecewa”
Syena tersenyum pada kedua sahabatnya, tapi senyuman nya membuat Geby dan Salma lebih merasa bersalah, bahkan lebih besar rasa bersalah mereka.
“Syena, maafin kita yah”. Geby dan Salma berhamburan ke pelukan Syena. Syena tersenyum tulus pada kedua sahabatnya, dan menyambut hangat pelukan sahabatnya.
Syena tahu saat ini hatinya terlalu sakit, tapi dia tidak ingin kesalahan seseorang membuat persahabatan mereka renggang atau terputus. Syena berfikir Geby dan Salma memang melindungi perasaannya, tapi mungkin cara mereka yang salah, kalau sejak awal mereka tidak menyembunyikan dari dia, mungkin sakitnya tidak Doble Plus kaya saat ini. Syena berfikir kalau sejak awal dia tahu, mungkin dia masih sanggup menahan rasa sakitnya, tapi saat ini dia merasa terlalu sakit karena orang tua dan kakaknya juga sudah turut hadir dalam hubungannya dengan Elvano.
“gue maafin kalian kok, jadi jangan pernah merasa bersalah sama gue, ok” kata Syena menatap kedua sahabatnya setelah habis berpelukan.
“makasi yah” Geby dan Salma tersenyum bahagia, mereka merasa beruntung bisa mendapatkan maaf dari Syena karena kesalahan yang mereka lakukan. Syena mengangguk dan tersenyum lebar.
“Syena, gue boleh tanya gak,?” Geby bertanya dengan hati-hati.
“is lo ini apaan sih, kaya sama siapa aja, and gak usah masang muka kaya gitu, sumpah jelek abis, mmmp mau nanya apaan emangnya,?” kata Syena yang sudah merasa lebih baik, bahkan seperti tidak terjadi apa pun pada mereka. Syena tidak ingin persahabatan yang mereka jalin bertahun lamanya menjadi retak hanya karena masalah menjijikkan baginya.
Geby dan Salma terseyum ketika Syena sudah kembali seperti awal, tidak ada kecanggungan dan merasa seperti tidak terjadi apapun.
“Lo tau dari mana soal itu,?” tanya Geby.
Syena tersenyum penuh arti, ia memicingkan matanya dan memasang wajah misterius, dan mendekatkan wajahnya pada kedua sahabatnya. Geby dan Salma menjadi tegang, karena Syena membuat situasi seperti yang ada di drama.
“siaran langsung” bisik Syena dan terkekeh geli melihat ketegangan keduanya.
plak
Reflek Geby dan Salma melayangkan pukulan di lengan Syena. Syena bukan marah tapi justru tertawa terbahak-bahak karena bisa membuat sahabatnya penasaran. Geby dan Salma ikut tersenyum, mereka bahagia melihat Syena tertawa bahagia dan tidak berlarut dalam kesedihan.
Di balik pintu Berry melihat adiknya tertawa, dia merasa sedikit lega, walaupun Berry masih sangat marah pada Elvano, tapi ia coba untuk mengikuti kemauan Syena untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dia juga berharap Syena bisa lebih dewasa untuk menjadikan pelajaran dari masalah yang ia rasakan, menjadikan pelajaran untuk masa depannya agar tidak salah menaruh hati pada seseorang.
Syena menceritakan bagaimana ia mengetahui rahasia Elvano, Syena bersyukur ia mengetahui langsung dari mulut Laura dan Elvano, karena jika ia tahu dari orang lain takutnya hanyalah cerita bohong. Syena juga mengatakan akan datang ke rumah Elvano untuk membicarakan pembatalan pernikahan mereka, dia tidak ingin memberi kesan buruk pada orang tua Elvano yang sudah ia sayangi seperti orang tua sendiri, dia memang kecewa pada Elvano tapi tidak dengan orang tuanya. Syena tidak mengatakan kalau dia akan pergi bersama dengan keluarganya ke Jerman dan menjual apartemennya, walaupun sebenarnya dia berberat hati meninggalkan kedua sahabatnya.
Geby dan Salma juga mengatakan kalau Elvano mencarinya, bahkan menghubungi mereka berdua berulang kali, mereka juga mengatakan niat awal kedatangan mereka karena di pinta oleh Elvano, dan juga turut khawatir.
****
Syena mengantarkan Geby dan Salma sampai di lobi, dia terus memperlihatkan senyuman nya walaupun hatinya saat ini sedang tercabik-cabik, tapi dia tidak ingin memperlihatkan rasa sakitnya.
Geby dan Salma sebenarnya tahu arti di balik senyuman Syena, mereka sebagai perempuan tahu pasti betapa sakitnya sebuah ‘penghianatan’ dari orang yang meraka cintai. Salma dan Geby juga tidak ingin membuat Syena merasa tidak nyaman dengan ke khawatiran mereka.
Syena kembali ke apartemennya ketikan kedua sahabatnya pergi.
***
Elvano pergi ke apartemen Jordy, pikirannya sangat kacau dan frustasi dengan kehamilan Laura. Belum lagi Syena yang tidak bisa di hubungi sejak kemarin, apartemennya Syena juga sudah dia datangi tapi seperti tidak ada orang di dalam, sampai password apartemen yang ia tau juga sudah di ganti oleh Syena. Elvano menyesal karena sudah menjual apartemennya waktu itu.
“kenapa lo,?” tanya Jordy dari arah dapur membawakan dua botol wine.
“Joy gue harus bagaimana ini,? Elvano bukan menjawab pertanyaan Jordy tapi justru melontarkan pertanyaan balik.
“maksud lo, bicara tu yang jelas” Rey mengerutkan alisnya karena bingung.
“Laura hamil,!!”
“APA,!!” teriak Jordy saking kagetnya.
“Astaga Van, lo gila,? gimana bisa sampai hamil Brengsek” omel Jordy tak habis pikir.
Aaaarrgggghh
Elvano mengerang frustasi, ia mengacak rambutnya karena terlalu stres dengan keadaan saat ini, saat ini yang dia pikirkan adalah bagaimana agar Syena tidak mengetahuinya, tapi di sisi lain yang dia takutkan adalah kenekatan Laura yang akan memberi tahu sendiri pada Syena tentang kehamilannya.
__ADS_1
“sumpah gue bakalan di cincang habis sama Geby, ini semua gara-gara lo brengsek” Jordy mengumpat kesal ke arah Elvano, dia benar-benar khawatir, dia memang kasian dengan masalah Elvano bagaimana pun Elvano sahabatnya.
Tapi di sisi lain, Jordy masih menyayangi nyawanya yang akan di cincang habis oleh Geby, bagaimana tidak. Malam itu Jordy yang mencegah Geby untuk memisahkan Elvano dan Laura.
“Oh tuhan, lindungi aku dari malaikat maut yai,,,”
“Siapa malaikat maut hah,?” tanya Geby yang sudah masuk ke dalam apartemen dengan Salma.
Elvano hanya sekilas melihat ke arah dua wanita yang baru saja masuk. Sedangkan Jordy sudah berkeringat dingin bahkan wine yang ia tumpahkan di gelas hampir penuh dan langsung meneguknya hingga kandas.
“Eeh,, sayang cantik banget, dari mana huh?” tanya Jordy yang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan gombalan mautnya.
“siapa yang malaikat maut hah, jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan” kata Geby dengan penuh penekanan.
Elvano tidak menghiraukan pertengkaran sepasang kekasih itu, ia lebih memilih meminum wine yang di bawah oleh Jordy tadi, untuk mengurangi beban pikirannya walaupun hanya sementara. Salma juga begitu, dia lebih memilih duduk di depan tv dengan 1 botol Vodka dan beberapa cemilan dan menunggu Rey datang.
“malaikat maut untuk Elvano sayang, tadi katanya Laura hamil” kata Jordy.
Geby terdiam tanpa menjawab ucapan Jordy, Salma mendengar pembicaraan Jordy langsung menengok sekilas dan membuang muka.
Jordy melihat tidak ada tanda-tanda terkejut dari Geby dan Salma pun merasa heran, tapi Jordy lebih memilih diam dari pada membangunkan singa betina, kejadian waktu itu saja dia belum lupa bagaimana kemarahan Geby.
★★★★
Pukul 19.20 pm. Syena dan keluarganya sudah bersiap untuk menuju mansion keluarga Elvano, Syena sudah terlihat sangat cantik dari pada sebelumnya.
“saya kamu sudah memikirkan semuanya kan” tanya Berry yang sedang mengemudi.
“tidak ada yang perlu di pikirkan, semuanya memang seharusnya seperti ini” kata-kata Syena dengan tenang.
Syena sebenarnya merasa sedikit gugup karena hari ini adalah hari terakhir pertemuan dengan orang tua Elvano. Kalau di suru jujur dari hati paling dalam, Syena masih sangat mencintai Elvano, tapi ia menutupi pintu hati bahkan secelah pun tidak bisa di ketuk kembali karena sudah tertutup dengan kekecewaan. Syena tidak ingin membenci seseorang tapi setidaknya kekecewaan tetap dan pasti ada.
Sesampai di mansion keluarga Elvano mereka di sambut hangat oleh keluarga Elvano. Bunda dan ayah Elvano mengajak untuk makan terlebih dahulu, mereka ingin menolak tapi Syena tidak ingin orang tua Vano merasa sedih. Walau sejujurnya dia ingin cepat pergi dari mansion ini.
Syena sempat melirik untuk melihat Elvano tapi ternyata tidak ada, hatinya sedikit lega karena sedikit tidak sudi melihat wajah Elvano.
“Oh iya sayang, kata Elvano kemarin kamu gak pergi ke boutique untuk mencoba bajumu, kenapa sayang?” tanya bunda Elvano dengan lembut saat sudah duduk di ruang tamu.
Syena menarik nafas panjang karena tiba-tiba dadanya terasa sesak sekali.
Keluarga Syena hanya diam saat Syena akan memberikan maksud kedatangan mereka. Ayah dan Bunda Elvano. Syena juga masih tetap memanggil mantan calon mertuanya itu ‘ayah’ dan ‘bunda’ karena kesalahan pada anak mereka bukan mereka.
“silahkan sayang, kau tidak perlu sungkan, kita kan sebentar lagi akan menjadi keluarga”. kata Nadin dengan senyum yang mengembang.
maafkan aku karena akan mengecewakan kalian, tapi setidaknya ini semua bukan kesalahan ku. Syena
Syena melihat kerah Mika, Bram dan Berry, Syena membutuhkan dukungan untuk meyakinkan niatnya. Keluarganya mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
“Bunda, Ayah maafkan Syena. Syena gak bermaksud buat mengatakan ini, Syena harap kalian tidak akan membenciku nanti, dan kalian harus tau selamanya Syena akan terus menyayangi kalian” kata Syena tanpa sedikitpun rasa gugup.
Nadin dan Orlando mengerutkan alis karena merasa aneh dengan ucapan Syena. “Untuk apa kamu minta maaf nak, dan tidak ada alasan kan untuk kami membencimu, terus apa yang ingin kamu katakan sayang” Nadin tetap tenang dan memperlihatkan sifat keibuannya.
“Ayah, bunda maaf,,,” Syena menjeda kalimatnya dan menarik nafas panjang “Syena tidak akan melanjutkan pernikahan dengan Elvano”. perasaan Syena bercampur aduk saat mengatakannya.
“APA,!!” Nadin dan Orlando sangat terkejut seperti orang tua Syena waktu lalu.
Nadin berdiri dan langsung menghampiri Syena dan memeluknya. “Syena, apa maksud kamu?” Orlando entah ingin marah atau bagaimana, dia sendiri pun bingung.
“Jelasin kenapa kamu ingin tidak ingin melanjutkan nya sayang, padahal dari awal kan kalian saling mencintai nak” kata Nadin.
“Maaf untuk alasannya biar Elvano yang jelaskan pada ayah dan bunda” kata Syena dengan nada yang sudah bergetar, pelupuk matanya sudah tergenang air mata, tapi dia tidak ingin menumpahkannya.
Nadin dan Orlando melihat ke arah Bram dan Mika, tapi orang tua Syena hanya diam tanpa mencegah niat Syena, begitu pula dengan Berry.
“sayang, apa kamu gak ingin memikirkan lagi?” tanya Nadin yang sudah berderai air mata. Nadin dan Orlando sudah terlanjur menyayangi Syena seperti anak sendiri.
“maaf bunda, keputusan Syena sudah bulat” kata Syena dengan penuh keyakinan.
“Kami harap kalian bisa menerima keputusan putri kami” kata Bram dengan tegas.
Nadin dan Orlando sudah tidak dapat berkata apa pun, karena orang tua Syena mendukung keputusannya.
Syena memeluk Nadin dengan erat, dan senyuman menghiasi bibirnya. Saat ini Syena memang benar benar merasa sangat kehilangan dan sakit hati, walaupun Syena merasa sangat kehilangan Elvano, tapi ia lebih kehilangan orang tua Elvano yang sangat baik padanya.
“bunda jangan nangis lagi, Syena janji akan datang lagi untuk bunda dan ayah” Syena melepaskan pelukan Nadin dan menghapus air matanya.
__ADS_1
“bunda akan menunggumu sayang” kata Nadin mengecup kening Syena.
Orlando mendekati Syena dan memeluknya, ia sudah menyayangi Syena seperti putrinya, ia juga mengecup kening Syena dengan tulus.
“ayah akan selalu menyayangi dan mencintai kamu, pintu rumah selalu terbuka untukmu sayang” kata Orlando dengan tulus. Syena mengangguk dan tersenyum tulus ke arah Orlando.
“terima kasih ayah”
Keluarga Syena sangat terharu dengan kasih sayang orang tua Elvano yang tulus menyayangi putri mereka. Tapi bagaimana pun perbuatan Elvano tidak dapat di maafkan.
“Entah kesalahan apa yang Elvano perbuat, tapi kami sebagai orang tua, meminta maaf dengan kesalahan putra kami” kata Orlando dengan tulus.
“tidak masalah, terima kasih juga atas semua kebaikan yang kalian berikan pada putri kami” kata Mika.
Mereka saling berpelukan untuk yang terakhir kali, Nadin dan Orlando yang sangat merasa kehilangan Syena yang mereka sayangi. Mereka mengantarkan Syena dan keluarganya sampai di depan rumah. Setelah kepergian mereka Nadin dan Orlando masuk ke dalam.
“telpon Elvano untuk pulang, anak itu benar-benar tidak tahu di untung” kata Orlando penuh kemarahan, Nadin hanya mengikuti perintah suaminya bagaimana pun dia juga merasa sangat marah dengan Elvano, karena tidak mungkin jika kesalahan kecil bisa membuat Syena sampai membatalkan pernikahan mereka. Nadin dan Orlando tahu Syena bukan tipikal seperti itu.
Di dalam mobil, Syena memeluk Mika dan menangis dalam pelukan ibunya, dia memukul dadanya yang sangat sesak sedari tadi ia tahan.
“kamu sudah melakukan yang terbaik” kata Bram yang tidak tega melihat putrinya menangis.
“hiks,,hiks,, Daddy ini sangat sakit,,hiks” Syena menangis sesenggukan.
Semenjak dari mansion Berry tidak mengeluarkan kata apapun, karena sebenarnya dia tidak sudi berbicara dengan keluarga dari laki-laki yang menyakiti adiknya, tapi dia mengikuti kemauan adiknya.
Elvano melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Nadin menelponnya dengan suara terdengar sedang menahan amarah. Elvano sedikit merasa khawatir, tapi dia mencoba meluruskan pikirannya agar tidak memikirkan hal yang dia takuti.
Elvano masuk ke dalam mansion, di ruang keluarga Nadin dan Orlando melihat Elvano masuk dengan penampilan yang sangat kacau, penampilan Elvano membuat Orlando lebih naik darah.
“dari mana saja kamu” tanya Orlando dengan sedikit berteriak, saat Elvano sudah duduk di hadapannya.
“dari rumah Rey ayah” jawab Elvano.
Nadin melihat ke arah Elvano dengan tatapan penuh kemarahan, tapi dia ingin mendengar masalah apa yang terjadi pada Elvano dan Syena.
“ada masalah apa kamu sama Syena,?” tanya Nadin dengan dingin.
Elvano menautkan alisnya karena bingung dengan pertanyaan Nadin.
“kami tidak ada masalah, hanya saja aku tidak tau sejak kemarin dia tidak bisa di hubungi, bahkan aku datang ke apartemen tapi tidak ada orang” kata Elvano menjelaskan.
Nadin dan Orlando menautkan alisnya, mereka jadi bingung dengan penjelasan Elvano, jika tidak ada masalah, lalu kenapa Syena membatalkan pernikahan.
“jawab dengan jujur jika kalian punya masalah” bentak Orlando.
“aku sudah mengatakan yang sebenarnya, kita tidak ada masalah, memangnya kenapa?” tanya Elvano, pasalnya di juga bingung kenapa ayah dan bundanya menanyakan hal itu.
“jika kalian tidak punya masalah, bagaimana bisa Syena dan keluarganya datang untuk membatalkan pernikahan kalian” bentak Orlando dengan kasar.
“APA,!!” teriak Elvano karena saking terkejutnya.
“ayah, kalian sedang tidak membuat lelucon kan,?” tanya Elvano meyakinkan.
“untuk apa membuat lelucon seperti itu, 1 jam yang lalu Syena dan keluarganya memang datang kemari, Syena yang mengatakan langsung kalau dia tidak ingin melanjutkan pernikahan kalian, bahkan alasannya saja dia menyuruh kami menanyakan kepada kamu” kata Nadin dengan penuh amarah.
“tapi benar kami tidak punya masalah,, eeh” ucapan Elvano terhenti ketika mengingat sesuatu. “Astaga apa dia tau soal itu,?” Elvano terkejut dengan pertanyaan nya sendiri. Elvano langsung berdiri dan ingin melangkahkan pergi, tapi langsung di tahan oleh ayahnya.
“apa maksudmu kalau Syena sudah mengetahuinya hah,?” teriak Orlando.
“ayah, bunda maafkan aku,!” Elvano kembali duduk di kursi dan menarik rambutnya frustasi.
Nadin dan Orlando di tambah bingung, Elvano bukannya menjawab pertanyaan mereka, tapi justru malah minta maaf.
“katakan apa maksud ucapan mu, jangan membuat kami lebih bingung Elvano Arsenio” kini Nadin yang berteriak dengan air matanya sudah bercucuran, Elvano sangat tahu jika bundanya marah maka namanya akan di sebut dengan lengkap.
📍📍📍📍
**Hai para reader, thanks yah udah mau nunggu.
Nih Author kasih bab yang paling panjang ❤️❤️
Maaf kalau ada (typo), soalnya author nulisnya saat di dua alam, yaitu nulis sambil mengantuk, ini perjuangan loh author nahan mata buat kalian.
Jangan bosan untuk nunggu yah 😘, Jangan lupa like dan komen, apa lagi Vote nya biar thor lebih semangat 1M**%
__ADS_1