![Choose! [NCT Dream X Female! Jisung]](https://asset.asean.biz.id/choose---nct-dream-x-female--jisung-.webp)
Berulang kali Chenle duduk dibangkunya dengan perasaan gelisahnya, ia merasa bersalah karena meninggalkan Jisung yang tengah tidak sadarkan diri. Bahkan guru yang tengah menjelaskan sebuah rumus yang cukup rumit itu dihiraukan oleh Chenle.
"Tck! Ngapain juga dipikirin sih?"
Chenle menggumam kesal sambil mencoret-coret kertas kosong di depannya, "lagipula semua perempuan pasti bakal luluh kalau dikasih dollar, kan?"
Sungguh pemikiran yang sangat dangkal sekali, bukankah tidak semua perempuan itu jalang? Darimana datangnya sebuah pemikiran itu, Zhong Chenle? Jika perempuan baik mendengar ucapanmu, bisa dipastikan kau akan terkena caci maki mereka.
"Tapi kalau Kak Renjun tahu Jisung pingsan.... Ah, enggak-enggak! Kak Renjun enggak boleh tahu!"
"Jangan dilihatin terus buburnya, Sung."
Renjun menghela nafasnya saat melihat Jisung yang masih enggan untuk memakan bubur yang dirinya beli di kantin sekolah. Tangannya terulur untuk mengambil alih semangkuk bubur dari tangan Jisung, "makan ya? Aku suapin, enggak ada penolakan."
Jisung menatap Renjun sekilas kemudian menggeleng pelan, "aku enggak nafsu makan, Kak Renjun. Kakak aja yang makan, aku masih kenyang."
Renjun menghela nafasnya untuk kedua kalinya, "kamu yang butuh energi, Jisung. Kamu butuh tenaga, kamu butuh asupan biar badan kamu enggak lemas. Kamu harus makan, oke?"
Jisung mengangguk pelan lalu membuka mulutnya, membiarkan Renjun menyuapi dirinya. Setelah beberapa menit kemudian, semanguk bubur tersebut habis tanpa sisa. Renjun memberikan Jisung segelas air putih dan obat untuk Jisung, "Kak Renjun bolos, ya? Kok enggak masuk kelas?"
Renjun terkekeh dengan pertanyaan Jisung, "enggak papa, ada untungnya juga Kakak bolos nemenin kamu disini."
Jisung hanya diam memandang Renjun yang sibuk mencuci peralatan makan yang ia gunakan tadi serta merapikan beberapa obat yang dibutuhkannya. Jisung tersenyum, "Kak Renjun"
Renjun hanya berdehem menanggapi panggilan Jisung, "terimakasih ya Kak." Renjun tersenyum manis, membuat jantung Jisung berdetak cepat dan rona merah di pipi Jisung.
"Sama-sama, Park Jisung. I'll always by your side, baby."
Jungwoo terus saja menangis di pelukan Mark, dipukulnya dada Mark dengan kencang hingga Mark sedikit meringis pelan akibat perlakuan Jungwoo.
"Jahat banget sih Lucas! Dia nuduh aku selingkuh sama Kun, padahal dia sendiri yang selingkuh!"
Mark mengusap punggung Jungwoo untuk sekedar menenangkannya, "aku tahu kok Taeil lebih imut dari aku, tapi kan dia udah pacaran sama Jaehyun. Terus Lucas mau jadi pelakor gitu?"
Jungwoo terus meracau dan menyalahkan Lucas, sementara Mark hanya diam sambil sesekali mengusap air mata Jungwoo. Mark memberikan saran pada Jungwoo untuk melupakan Lucas, tetapi justru dirinya terkena skakmat oleh perkataan Jungwoo.
"Ngomong doang mah mudah! Aku udah move on, padahal belum. Sama aja kayak kamu yang masih pertahanin perasaan kamu buat Jisung, padahal kamu tahu dia suka sama Renjun meskipun dia enggak sadar."
__ADS_1
Mark mengingat tentang ucapan Jisung yang merasa sakit karena melihat Renjun dengan Ningning, "bahkan sekarang kamu sama Renjun kerjasama."
"Diam, Jungwoo."
"Kalau Jisung tah---
"DIAM!"
Jungwoo mendorong tubuh Mark kasar, "bego! Mark bego! Seharusnya kamu tahu Renjun itu licik! Otak dia lebih pintar daripada kamu, Mark! Bisa aja kamu dimanfaatin sama dia!"
Mark ngusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya frustrasi. Kenapa dirinya tidak memikirkan hal itu? Kenapa dirinya melupakan fakta bahwa Renjun itu jenius? Batinnya.
Jungwoo mencium bibir Mark untuk kedua kalinya di hari yang sama, "Lee Mark jadi pacar Kim Jungwoo, ya?"
Jaemin mengetikkan sebuah pesan saat dirinya mendengar semua pembicaraan antara Mark dengan Jungwoo. Jaemin tidak sengaja mendengar semuanya saar dirinya hendak membuka pintu rooftop sekolah.
"Yang pantas buat Jisung itu hanya seorang Na Jaemin, bukan siapapun. Tck!"
Jaemin melangkahkan kakinya menjauh dari kawasan rooftop sekolah saat dirinya mendengar permintaan Jungwoo pada Mark. Jaemin menutup kedua telinganya saat Haechan memanggilnya, "kenapa, Chan?"
"Mau minjem catetan Matematika, Na. Hari ini ada pemeriksaan, jadi aku mau di cap sebagai anak rajin di sekolah haha."
"Sip! Sayang Nana adiknya Dilan, deh."
"JIJIK!"
Haechan hanya tertawa senang lalu dia berlari ala ninja konoha menuju kelasnya yang juga kelas Jaemin dan Jeno. "Punya teman kok enggak punya otak, ya? Kayaknya aku pernah bikin dosa besar deh, huh!"
"Jaemin!"
Jaemin memutar kedua bola matanya kesal, "ada apa lagi sih?! Enggak lih---eh, Pak Ten. Apa kabar, Pak?"
Ten, seorang guru yang baru saja memanggil Jaemin melotot penuh amarah. "Apa? Mau marahin saya? Sepulang sekolah kamu harus berhasil bawa yang namanya Park Jisung! Kalau enggak, hukuman sepuluh kali lipat latihan minggu depan menanti hidup kamu. Mengerti?"
Jaemin menelan ludahnya sendiri sebelum menganggukkan kepalanya, 'secara enggak langsung dapat bantuan dari pelatih, hahaha terimakasih loh Pak Chipatteonasembeleh.'
Renjun membaca buku pelajarannya sembari menjaga Jisung yang sedang terlelap. Dengkuran halus dari mulut Jisung membuat Renjun salah fokus pada bibir mungil Jisung.
__ADS_1
"Tahan nafsu, Renjun!" Gumam Renjun seraya memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya kuat.
Tepukan di pundaknya membuat Renjun sedikit terlonjak dan menatap kesal sang pelaku, sementara sang pelaku hanya tersenyum puas.
"Kekasih kamu udah makan, belum? Udah minum obatnya?"
Renjun memandang Dokter Kesehatan sekolahnya yang juga berstatus sebagai kakak kandungnya, Huang Sojung.
"Udah."
"Kamu udah makan?" Sojung menghela nafasnya saat melihat adik kesayangannya menggeleng, ia pun memberikan Renjun sekotak bekal instan yang dia beli di Indomarket tadi bersama kekasihnya.
"Kakak boleh nanya, kan?"
"Tanya aja, enggak ada yang ngelarang."
"Kekasih kamu kok bisa pingsan? Beruntung banget tabung oksigen udah beli banyak."
Renjun terdiam mendengar pertanyaan Sojung, haruskan ia menceritakannya? Pikirnya. Sojung mengacak rambut Renjun yang terlihat rapi, "enggak usah dipaksa cerita. Jisung udah bangun tuh."
Jisung memegang dadanya yang terasa sakit, "mau minum? Aku ambilin, ya?" Jisung mengangguk pelan. Ditatapnya Sojung dengan pandangan penuh pertanyaan.
"Umm.... Bu-----
"Jangan panggil Bu, panggil Kakak aja. Tapi khusus kamu, panggil aku Kakak Ipar" sela Sojung saat mengatahui Jisung akan memanggilnya dengan sebutan "Bu".
"kakak Ipar?"
"Dia Dokter Kesehatan sekolah kita sekaligus Kakak aku, Huang Sojung" jelas Renjun sambil memberikan Jisung segelas air putih.
"Hai, Jisung."
Jisung tersenyum kaku, "h-hai Kak So--Kakak Ipar." Sojung melompat senang, "akhirnya Renjun punya pasangan, kapan-kapan double date ya?"
Jisung yang tidak sepenuhnya mengerti maksud Sojung hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa bertanya terlebih dahulu.
"I'm sorry about my older sister, but thankyou for give me chance, Jisung."
Choose!
All member NCT Dream x Park Jisung!AU
__ADS_1
Story by FukuzawaAmanda
Bersambung••••••