![Choose! [NCT Dream X Female! Jisung]](https://asset.asean.biz.id/choose---nct-dream-x-female--jisung-.webp)
"Lagi berantem sama Kak Jungwoo?"
Mark melirik Jaemin yang berdiri di sampingnya, sedetik kemudian matanya kembali fokus pada anggota baru yang menunjukkan hasil latihan seminggu mereka untuk menjadi anggota team utama dance kebanggaan sekolah mereka.
Jaemin berdecak kesal saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya, Jeno yang mendengar decakan keluar dari mulut Jaemin itu menoleh dan menanyakan kenapa Jaemin seperti itu.
"Kakak kamu aku tanya enggak dijawab, kan ada pepatah yang ngomong kalau malu bertanya sesat dijalan. Tck!"
Jeno melirik Mark yang sedari tadi diam sambil menatap tajam semua anggota baru, "Mark" kini Jeno menatap Jungwoo yang baru saja memanggil Kakaknya, Mark. Namun tidak ditanggapi oleh Mark, Jeno menghela nafasnya pelan kemudian bertanya pada Jungwoo maksud kedatangannya memanggil Kakaknya, Mark.
"Ada apa, Kak Jungwoo?"
Jungwoo menggelengkan kepalanya pelan kemudian menjauh dari tempat mereka bertiga, "tumben berantem" kata Jaemin yang mendapat tatapan tajam dari Mark.
"Giliran Jisung,"
Mark, Jeno, dan Jaemin memfokuskan indra penglihatan mereka saat Jisung menari. Pujian kagum keluar dari mulut mereka, dengan sebuah refleks tepuk tangan memenuhi ruang latihan untuk pertama kalinya karena sedari tadi semua anggota baru sebelum Jisung menarikan tarian dengan cara yang kaku, tidak bersemangat, dan acak-acakan.
Jisung membungkukkan badannya sebelum melangkahkan kakinya menuju anggota team dancer utama sambil tersenyum senang. Mark, Jeno, dan Jaemin otomatis berebut tempat untuk berdiri di samping Jisung.
"Yang tua ngalah dong!"
"Enak aja!"
"Udah men--
"Enggak!"
"Siapa cepat dia dapat!"
"Yang muda ngalah! Hush! Sana!"
Semua anggota klub dance termasuk Ten menggelengkan kepalanya melihat drama yang diciptakan oleh Mark, Jeno, dan Jaemin. Sedangkan Jisung hanya diam, "sama aku aja, yuk?" Jisung mengangguk kemudian berdiri di samping Jungwoo.
"Mau bikin Jisung ngehindarin aku? Aku terima tantangan kamu, Kim Jungwoo" gumam Mark. Jaemin dan Jeno saling pandang, tidak mengerti kenapa Mark tidak menyukai Jungwoo padahal mereka tahu jika Mark dan Jungwoo tidak pernah bertengkar sebelumnya. Ya, sebelum bertemu dan mengenal seorang Park Jisung.
Mark melihat Jisung dan Jungwoo yang mengobrol akrab, dilangkahkan kakinya menuju Ten untuk mengobrol sesuatu. Kemudian berjalan mendekati Jisung dan menarik tangan Jisung untuk mengikutinya. Jaemin dan Jeno berteriak tidak terima dengan Mark yang mengambil garis start, "wah, wah, wah, ngambil garis start duluan dia!"
"Enggak terima aku tuh!"
"JAEMIN! JENO! DIAM KALIAN!"
"Enggak bisa dong, Pak."
__ADS_1
"Iya, demi cinta dan takdir."
"ENGGAK USAH LEBAY! DIAM ATAU LATIHAN KALIAN BERTAMBAH SERATUS KALI LIPAT!"
Mulut Jeno dan Jaemin langsung bungkam ketika Ten mengancam untuk menambahkan porsi latihan untuk mereka berdua. Jeno mendengus kasar, sedangkan Jaemin mengerucutkan bibirnya kesal namun terkesan lucu dan menggoda bagi kaum hawa yang melihatnya.
Jungwoo menundukkan kepalanya dan menatap nanar lantai ruang latihan, "padahal aku rela putus sama Lucas dan ngejadiin Taeil kambing hitam" gumam Jungwoo.
Sementara itu, Jisung mengusap lembut hidungnya yang bertabrakan dengan punggung Mark ketika Mark berhenti secara tiba-tiba. "Kak Mark kalau berhenti bilang-bilang, dong" keluh kesal Jisung sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maaf."
Mark mengulurkan tangannya menyentuh dan mengusap lembut pipi kenyal Jisung, kemudian mencubit gemas dan menciumnya. Tentu saja hal itu membuat Jisung terkejut dan sontak saja tangan Jisung bergerak menampar keras pipi Mark.
"Maaf."
Mark yang hendak menggenggam tangan Jisung langsung terhenti ketika Jisung menepis tangan Mark kasar. "Aku enggak bisa nahan diri lebih lama lagi, Jisung. Kapan kamu putus sama Renjun?" ucapan Mark membuat Jisung membulatkan kedua bola matanya, "maksud Kak Mark apa? Kak Mark suruh aku putus sama Kak Renjun? Kenapa?"
"Karena Kakak suka sama kamu."
"Tapi aku enggak suka sama Kakak. Aku udah anggap Kak Mark sebagai Kakak aku, jadi maaf Kak Mark."
****************
Haechan merinding ketakutan ketika melewati lorong koridor yang terlihat sangat sepi, tidak dirinya bukan takut karena itu. Melainkan suara tangisan dan isakan yang semakin terdengar jelas.
Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara tangisan itu terdengar sangat jelas dibanding sebelumnya, Haechan berhenti disebelah jendela yang terbuka lebar sehingga angin luar bisa masuk bebas. Matanya menangkap tubuh seseorang yang meringkuk dan menyembunyikan wajahnya, "Kenapa nan----
Jisung?"
Haechan langsung melompat keluar dan menatap Jisung khawatir, "kamu kenapa nangis? Jatuh? Tapi enggak ada yang luka, kamu kenapa?"
Jisung semakin mengeraskan suara tangisannya, membuat Haechan memeluk tubuh Jisung dan menepuk pelan kepala Jisung untuk menenangkannya. Kedua tangan Jisung bergerak membalas pelukan Haechan, mencengkram kuat seragam Haechan, membasahi seragam Haechan dengan air matanya, serta menjadikan tubuh kekar Haechan menjadi tumpuan tubuhnya.
Mendapati Jisung dengan kondisi seperti ini membuat Haechan merasakan sakit di dadanya, perasaanya seolah teriris melihat seseorang yang dia suka menangis seperti ini.
"Kak Mark bilang kalau dia suka sama aku."
Pergerakan Haechan menepuk pelan kepala Jisung terhenti ketika mendengar cerita Jisung, "dia nanya aku kapan putus sama Kak Renjun. Padahal aku sayang banget sama Kak Renjun, aku enggak mau putus sama Kak Renjun. Aku harus gimana, Kak Haechan? Aku juga enggak mau bikin Kak Mark sedih."
Jika saja Haechan berada di posisi Mark, mungkin saat ini dia dilanda perasaan bersalah karena membuat Jisung menangis dan bingung dan mungkin saja itu yang dirasakan oleh Mark saat ini, setidaknya itu yang dipikirkan Haechan.
"Aku enggak tahu harus kasih saran apa ke kamu, karena Kakak juga ngerasain hal yang sama. Tapi, kalau kamu butuh teman cerita kamu bisa ke Kakak, oke? Anggap aja aku sebagai Kakak kamu."
__ADS_1
Bohong!
"Kamu udah aku anggap sebagai adik kesayangan aku."
***Bohong!
Haechan, bodoh***!
Haechan membohongi dirinya sendiri dan juga Jisung. "Jisung?" Haechan melepaskan pelukannya pada Jisung kemudian membiarkan Jisung berlari kecil dan memeluk Renjun. Haechan menatap nanar pasangan yang ada di depannya, dimana perempuan yang dia sukai memeluk kekasihnya di depan mata Haechan.
Untuk saat ini, Haechan membiarkan Jisung bersama Renjun karena dia tahu Jisung lebih membutuhkan Renjun. Tetapi untuk besok, Haechan akan mendekati Jisung dengan caranya. Yaitu sebagai seseorang yang dianggap Kakak oleh Jisung, dan perlahan-lahan mempengaruhi pikiran Jisung untuk menyukainya. Sebuah senyuman sinis dan sorot mata yang tajam seperti seorang pembunuh yang berhasil membunuh korbannya kini terpatri di wajah Haechan.
"Repot ya, kalau punya musuh lima orang yang sama-sama negerebutin satu perempuan."
Haechan melangkahkan kakinya meninggalkan Renjun dan Jisung. Renjun menatap tanpa ekspresi punggung Haechan yang perlahan-lahan menghilang, "kamu kenapa?"
Jisung semakin mengeratkan pelukannya pada Renjun, "aku enggak mau putus!" Renjun menatap bingung Jisung, seingatnya dia tidak pernah mengatakan jika dirinya ingin putus dari Renjun dan hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Kamu kenapa?" Tanya Renjun sekali lagi yang mendapat lirihan nama Mark dari mulut Jisung. Setidaknya Renjun sedikit mengerti siapa yanga membuat Jisung menangis dan berkata seperti itu. Renjun melepaskan pelukan Jisung, kemudian mencubit gemas pipi kenyal kekasihnya dan mencium singkat bibir kekasihnya. Jisung tersenyum manis, "pulang, yuk?"
***************
"Ngapain aja tadi sama Jisung?"
"Ketuk pintu dulu sebelum masuk."
Jeno merotasikan kedua bola matanya jengah ketika mendapat jawaban yang tidak berhubungan dengan pertanyaannya. Mark hanya diam dan menyelimuti seluruh tubuhnya, "kalau orang nanya itu dijawab, Kak."
"Bukan urusan kamu, Kakak capek."
Jeno berdecak kasar kemudian menutup keras pintu Mark yang membuat Winwin yang sedang memasak makan malam terkejut, "ada apa?" Tanya Taeyong yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Enggak papa" jawab Jeno yang langsung meninggalkan Taeyong dan menutup pintu kamarnya keras, membuat Taeyong kesal karena ulahnya.
"SEKALI LAGI TUTUP PINTU KERAS, UANG JAJAN KALIAN AYAH TURUNIN!"
"MAAF, AYAH."
"AMPUNI HAMBA, BAGINDA."
***Choose!
All member NCT Dream x Park Jisung!AU
__ADS_1
Story by FukuzawaAmanda
Bersambung***••••••