Choose! [NCT Dream X Female! Jisung]

Choose! [NCT Dream X Female! Jisung]
Part 14


__ADS_3

"Yes! Akhirnya di follback sama Kak Jeno!"


"Hilih, baru di follback doang."


"Bodo!"


"By the way, Lamiku sayang."


"JIJIK, KAK ECHAN!"


"HEH! enggak sopan ya kamu!"


"Bodo part two!"


"Kak Echan kepo nih, gimana bisa kamu ketemu sama si Jenong?"


"Kak Jeno, bukan Jenong."


"Buruan ceritain, ah. Enggak usah bawel!"


Lami hanya diam, menghiraukan Haechan yang menatapnya penuh harap untuk segera menceritakannya. Tangannya sibuk bergerak sekedar mengetik kata untuk seseorang, dengan senyuman yang menghiasi wajah imutnya. Haechan mencibir pelan, direbutnya handphone Lami yang membuat Lami berteriak kesal meminta handphonenya untuk dikembalikan. Haechan menggunakan jari terlunjuknya dan menggerakkan kekanan dan kekiri.


"Enggak bakal Kakak balikin kalau kamu belum cerita!"


Dengusan kasar keluar dari mulut Lami, tangannya terlipat di depan dadanya, tanda dirinya sedang kesal. "Yaudah, ini cerita. Janji bakal ngembaliin handphone Lami, kan?"


"Iya,"


"Jadi....."


(Flachback On)


Berulang kali dengusan kasar dan helaan nafas lelah keluar dari mulut Lami. Sudah sekitar dua jam dirinya berdiri di depan toko buku sembari menunggu hujan reda. Lami mengambil handphonenya sekedar mengecek jam dan notifikasi dari Kakak Laki-lakinya yang menyebalkan, Lee Donghyuck atau kerap dipanggil Haechan.


"Kak Haechan lama amat sih! Jamuran nih nungguin terus, menunggu itu capek!"


Banyak orang yang berada di samping Lami, yang juga ikut meneduh memandangnya bingung saat Lami mencibir keras. Karena terlalu lama menunggu, seperti menunggu dia yang tidak menyukaimu, akhirnya Lami memberanikan diri menerobos hujan yang saat itu turun dengan sangat deras.


Percikan air kotor membuat sepatunya kotor dan basah, bahkan totebag yang Lami gunakan untuk melindungi kepalanya sudah sangat basah.


"Yah, tasnya basah. Tau ah, yang penting pulang! Kak Haechan lama banget, beli makanan aja lama, pantes enggak punya pasangan!"

__ADS_1


Saat itu, Lami terus berlari menyusul Haechan yang sedang membeli makanan di toko yang lumayan jauh dari tempatnya meneduh. Tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang dan mengebut, Lami terus saja berlari hingga seorang pengguna motor mengerem mendadak saat Lami tiba-tiba berada di depannya.


Lami yang terkejut langsung berjongkok dan memeluk tubuhnya sendiri, "belum mau mati muda, belum mau mati muda. Masih banyak dosa, apalagi dosa sama Kak Haechan. Lami sayang kok sama Kak Haechan, jangan cabut nyawa Lami dulu, Tuhan."


Tangan yang hendak terulur seketika berhenti mendengar celotehan Lami, ditatapnya Lami dengan tatapan datar namun terkesan khawatir. Ya, khawatir karena takut Lami mengadu pada polisi.


"Hei, enggak papa? Maaf, tapi bukan salahku juga, sih."


Lami menatap seseorang yang berada di hadapannya, dengan tangan yang masih terulur yang tadinya ingin menepuk pundak Lami sekarang untuk membantu Lami berdiri. Lami menerima uluran tangan dari orang itu, "enggak papa, untung enggak mati. Masih banyak dosa, maaf juga."


Ingin rasanya Lami terbang keatas langit saat orang itu tersenyum hingga matanya menyipit, "adik Haechan, ya? Dari tadi kamu bilang nama Haechan."


Lami mengangguk, "Kakak kenal Kak Echan?"


"Echan?" Tawa dari orang yang hampir menabraknya membuat hidup Lami berjalan lamat, ditatapnya wajah orang itu dengan perasaan yang menggelitik di dadanya.


Suka?


Cinta?


Kagum?


"Aku Lee Jeno, teman kelas Kak Echanmu."


"Berarti kalau nikah, enak dong. Enggak usah ganti marga, hahaha bercanda."


Saat itu, hujan menjadi saksi pertemuan Lami dengan Jeno. Lami yang senang bertemu dengan Jeno, sedangkan Jeno? Entahlah Lami tidak akan mengetahui apa yang berada di pikiran Jeno saat itu. Hanya Tuhan dan Jeno saja yang tahu.


(Flashback Off)


"......kayak gitu ceritanya, udah mana handphone aku!"


Haechan memberikan handphone Lami, dilihatnya Lami yang bersorak senang dan tersenyum saat jarinya sibuk mengetikkan kalimat yang Haechan tahu untuk siapa kalimat tersebut, Lee Jeno.


Haechan menghela nafasnya, "besok berangkat sekolah sendiri, ya? Kakak mau jemput Jisung."


"Ih, kok gitu sih kak?!"


*************


Sudah kesebelasan kali Jeno menghela nafasnya sambil menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang kecil. Pikirannya kembali mengingat pertemuannya dengan Jisung saat Jisung tersesat mencari kelasnya, kedekatannya bersama Jisung yang awalnya biasa saja hingga dia melakukan hal yang membuat hubungan dirinya dengan Jisung merenggang.

__ADS_1


Saat itu, yang ada dipikiran Jeno hanya kesal, cemburu, dan marah menjadi satu. Dan yang terjadi, dia mencium Jisung, bahkan lebih disebut sebagai frenchkiss. Sungguh dia tidak bisa berpikir jernih saat melihat Jisung menatap Kakaknya penuh kekaguman.


Otaknya kembali mengingat Jisung yang sedikit takut dengannya saat di pameran seni pagi tadi. Tubuh Jisung sedikit kaku dan gemetar takut, membuat dirinya semakin bersalah, meskipun dia sudah meminta maaf namun Jisung memerlukan waktu.


Jeno menatap layar handphonenya yang menampilkan chatroom antara dirinya dengan Lami.


LamiLee


Kak Jeno udah makan?


19:54


Jarinya mengetik kalimat untuk membalas pesan dari Lami, kemudian dia menaruh handphonenya di meja bundar kecil yang berada di sampingnya. Jeno mengusap wajahnya kasar ketika wajah Jisung hadir dipikirannya kembali, di masih menyukai Jisung, pikirnya.


"Padahal udah bilang kalau aku udah enggak suka lagi sama dia. Maaf Kak Mark,"


Jeno menghela nafasnya, "sakit banget ngelihat mata Jisung yang takut sama aku" ucapnya sambil *** baju di area dadanya.


"Cinta bisa datang ketika sudah terbiasa, tapi kok aku belum bisa suka sama Lami, ya? Padahal udah coba ngebayangin wajah Lami, tapi malah wajah Jisung yang kepikiran."


***********


Jisung mengedipkan matanya berkali-kali saat melihat seseorang berada di depan rumahnya, "Kak Haechan? Kok disini? Kenapa?"


Hechan tersenyum sembari mencubit pipi pelan Jisung yang seperti mochi, "mau jemput kamu. Yuk berangkat sekolah bareng?"


"Tapi aku udah janji sama Ayah ka---Loh? Kok mobil Ayah udah pergi sih?! AYAH!" Teriak Jisung saat dirinya melihat mobil putih Ayahnya meninggalkan garasi rumah.


"Aku udah izin sama Ayah kamu, yuk berangkat."


Jisung menghela nafasnya pelan kemudian mengangguk, mereka berdua berjalan menuju motor Haechan yang terparkir di depan halaman rumahnya. Haechan memasangkan helm untuk Jisung, "My Princess Echan, pegang pinggang aku dong."


"Enggak mau, pegang pundak Kakak aja."


Haechan menarik lembut tangan Jisung dan melingkarkannya ke area pinggangnya, "kayak gini aja, aku suka. Aku juga suka kamu, Princess Jicung."


Choose!


All member NCT Dream x Park Jisung!AU


Story by FukuzawaAmanda

__ADS_1


Bersambung••••••


__ADS_2