![Choose! [NCT Dream X Female! Jisung]](https://asset.asean.biz.id/choose---nct-dream-x-female--jisung-.webp)
Suara peluit memberhentikan kegiatan pemanasan murid kelas X-A. Guru Olahraga, Min Yonggi membuat tim putera dan tim puteri untuk bertanding permainan bola basket.
Semua murid perempuan kelas X-A duduk di pinggir lapangan untuk melihat pertandingan basket tim putera. Mereka berteriak untuk menyemangati dan sekaligus berfangirl ria.
"Wah Guanlin hebat banget ya!" Puji Jinyoung yang masih fokus melihat Guanlin. Daehwi memutar bola matanya kesal, "masih hebat Samuel dong!"
"Guanlin!"
"Samuel!"
"Guanlin!"
"Samuel!"
Jisung yang duduk diantara Jinyoung dan Daehwi menggerutu kesal, lalu Jisung menampar pipi Jinyoung dan Daehwi.
"Kok ditampar sih, Sung?" Tanya mereka berdua tidak terima dengan perilaku Jisung, "kalian berisik sih!" Jawab Jisung dengan nada kesal.
"Iya deh yang lagi ngeliat Chenle main basket. I know, kok."
"Enggak, tuh! Jangan sok tahu, ya!"
Jinyoung dan Daehwi tertawa, "iya deh yang direbutin sama lima senior. Chenle mah apa atuh, butiran debu dia."
"Chenle imut, kok. Meskipun enggak tampan." Bela Jisung yang mendapat anggukan setuju dari Jinyoung dan Daehwi. Mereka bertiga pun mengobrol hingga pertandingan tim putera sudah berakhir.
Kini giliran tim putera yang melihat pertandingan tim puteri, mereka tertawa saat melihat segerombolan murid perempuan yang sedang bermain di satu tempat.
"Hahahaha, perempuan memang gitu ya kalau main bola!" Kata Seonho, dia memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa yang berlebihan.
"Eh lihat ada yang main narik rambut, ini kok makin enggak beres ya?" Tanya Guanlin yang bingung melihat pertandingan tim puteri kelas mereka.
"Beruntung banget ya, Jisung masih punya otak. Jadi enggak ikut-ikutan gila kayak mereka" kata Chenle, matanya fokus pada Jisung yang berusaha melerai Jinyoung dan Hyungseob.
"Dasar pembantu sarang!"
"Sarang lebah maksudnya, hahahaha."
Para murid laki-laki sibuk berkomentar tentang cara bermain basket murid perempuan kelas mereka, "WEH AWAS KENA BOLA! WOI JISUNG AWAS!"
sontak mereka terkejut mendengar suara Daehwi, Chenle langsung berlari untuk menolong Jisung. Chenle menempelkan kepala Jisung di dadanya, kemudian dia menepis bola yang akan mengenai kepala Jisung.
"Heh! Kalau mau ngelempar bola yang benar dong! Pakai rumus fisika materi gerak parabola! Kalau enggak ngerti sini aku ajarin!"
Min Yonggi selaku guru olahraga mengerti situasi, akhirnya dia meniup peluit yang bertanda sebagai akhir dari kegiatan olahraga mereka.
"Kamu enggak papa, kan?" Tanya Chenle khawatir, Jisung mengangguk, "enggak papa, terimakasih banget ya."
"Syukur banget kalau kamu enggak papa."
__ADS_1
Daehwi merasa iri dengan perilaku Chenle, "coba aja ya aku punya cowok kayak Chenle!" Ucapnya yang bermaksud menyindir Samuel, orang yang ia sukai.
Guanlin tertawa lalu menepuk bahu Samuel, "sabar, bro! Hahahaha." Jinyoung menggelengkan kepalanya, lalu mengajak Daehwi dan Jisung ke toilet untuk mengganti baju olahraga mereka dengan seragam.
"Kita duluan ya, Chenle, Guanlin, Samuel."
Chenle, Guanlin, dan Samuel melambaikan tangan mereka dan tersenyum. Merasa di amati, Chenle melihat sekitar lapangan.
"Kenapa, Le?" Tanya Samuel yang bingung dengan sikap Chenle, "enggak papa. Ayo ganti baju."
Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan keluar untuk pulang. Beberapa dari mereka keluar kelas untuk menuju ruang ekstrakurikuler yang mereka ikuti.
Sore ini, beberapa ekstrakurikuler akan mengadakan kegiatan pertama mereka dengan anggota baru. Jisung dan Chenle berjalan bersama karena ruang organisasi mereka satu arah.
"Males banget, deh. Ketemu Kak Haechan lagi!" Keluh Chenle yang dibalas tawa pelan dari Jisung. Jisung hanya memberikan semangat pada Chenle, "tapi, kok kamu enggak mau ketemu sama Kak Haechan sih? Padahal dia orangnya lucu, loh."
"Masih lucu kamu daripada dia." Jisung langsung memukul punggung Chenle, "aduh! Sakit, Jisung!"
Jisung mendengus kasar, Chenle mengacak rambut Jisung.
"Chenle! Nanti kusut rambut aku!"
"Tetap cantik, kok."
"Poko--
Jisung dan Chenle menoleh, buru-buru Jisung merapikan rambutnya kembali. Jisung yang merasa rambutnya sudah rapi langsung menyapa balik sambil tersenyum.
"Kak Renjun."
Chenle berdecih pelan, "enggak usah sok imut deh, Sung! Jijik tahu enggak?"
"Kok kamu gitu? Tadi kamu puji aku!"
"Enggak tuh, kamu aja yang kepedean!"
"Chenle jahat!"
Renjun hanya menghela nafasnya, dia langsung menarik lengan Jisung agar berdiri di sampingnya. "Kamu masih kecil, Le. Enggak berhak ngerebut hal milik orang dewasa."
"Berhak, dong! Lagipula Jisung belum jadi pacar kakak! Udah ah males ribut sama Kak Renjun!" Chenle langsung meninggalkan Renjun dan Jisung.
"Chenle kok gitu, sih? Jisung salah apa sama dia?" Renjun mengusap air mata Jisung dengan jarinya, "bukan kamu yang salah. Dia kayak gitu karena cemburu sama aku."
"Kok Kak Renjun tahu?" Tanya Jisung, "karena kakak juga ngerasain itu waktu ngelihat kamu sama cowok lain" jawab Renjun.
Jisung hanya mengangguk walaupun tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dimaksud, "ke kelas melukis, yuk?"
__ADS_1
Renjun mengenggam tangan Jisung, membuat Jisung menundukkan kepalanya sambil memegang jantungnya yang berdebar kencang. Sesampainya di kelas melukis, semua murid perempuan yang tadinya berteriak histeris karena melihat Renjun kini menggerutu kecewa saat melihat genggaman Renjun pada Jisung.
Renjun melepaskan genggamannya lalu menyuruh Jisung duduk. Sebegai ketua seni melukis, Renjun memberikan arahan pada anggota baru untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Satu setengah jam kemudian, semua kegiatan ekstrakurikuler berakhir. Semua murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di perbolehkan pulang, kecuali ketua dari masing-masing ekstrakurikuler.
"Maaf enggak bisa nganter kamu pulang. Kamu enggak papa pulang sendirian? Mau nunggu aku enggak?" Jisung menggelengkan kepalanya lalu memberikan senyuman agar Renjun mempercayainya.
"Enggak papa kok, Kak. Kak Renjun fokus aja sama pertemuan antar ketua. Aku pulang dulu ya, Kak."
Renjun mengecup dahi Jisung, "hati-hati, Jisung." Jisung memegang dahinya yang dikecup Renjun, dia langsung berlari menuju halte sekolah. Renjun yang melihatnya itu hanya tersenyum, "kalau dia malu manis banget, sih."
Jisung mengatur nafasnya, "loh, kamu belum pulang?" Jisung berteriak saat seseorang bertanya tepat di telinganya.
"Kak Mark! Kenapa kakak selalu bikin aku kaget, sih? Untung aku enggak punya riwayat penyakit jantung!" Ucap Jisung kesal sambil memukul punggung Mark berulang kali.
Mark hanya meringis pelan saat punggungnya dipukul Jisung, "aduh iyaiya, maafin Kakak ya. Kamu kenapa belum pulang?"
"Baru selesai ikut kegiatan pertama di seni lukis. Kak Mark kenapa belum pulang?"
"Main dulu di lapangan, aku antar kamu pulang ya?"
Jisung menggelengkan kepalanya, "kenapa? Kalau kamu diculik sama hantu gimana? Atau diculik sama om-om pedofil gimana?"
"Ih Kak Mark kok kayak gitu? Kak Mark jangan nakutin aku, dong!" Jisung memeluk tubuhnya erat dan merinding saat membayangkan dirinya benar-benar diculik oleh om-om pedofil maupun hantu.
Mark hanya tertawa, lalu ia menarik Jisung dan membukakan pintu mobilnya. Jisung hanya menghela nafasnya pasrah, 'kayaknya semua cowok yang mau nganterin aku pulang caranya kayak gini deh, narik lengan aku.' Batin Jisung.
Mark langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah Jisung, "perumahan rumah kamu dekat sama perumahan rumah aku. Aku jemput kamu tiap hari, ya?"
"Enggak usah, Kak. Nanti ngerepotin kakak, lagipula aku berangkat bareng sama Ayahku. Lumayan pengganti waktu ngobrol kalau Ayah pulang malem."
"Sayang banget ya sama Ayah kamu?"
Jisung mengangguk semangat, "sayang banget dong! Ayah baik, tampan, humoris, lucu, pokoknya perfect lah menurut aku!"
Mark hanya mendengar Jisung membicarakan kelebihan Ayahnya, ia merasa sedikit iri dengan hubungan Jisung dan Ayah Jisung.
'Bokap mana pernah kayak gitu!' Batin Mark kesal. Tiba-tiba Mark menghentikan mobilnya membuat Jisung juga menghentikan cerita tentang Ayahnya.
"Kenapa, Kak Mark?"
"Jisung, kapan kamu sayang aku? Seperti kamu sayang sama Ayah kamu?"
Choose!
All member NCT Dream x Park Jisung!AU
__ADS_1
Story by FukuzawaAmanda
Bersambung••••••