
Akhirnya pertemuan dengan klien nya pun selesai.
"Terimakasih pak Andrian. Besok sekretaris saya akan membawa surat kontraknya. Semoga kerjasama kita berjalan lancar. Ya.!
" sama- sama Pak. Terimakasih juga sudah mempercayakan proyek ini kepada kami."
"Dan maaf sudah mengganggu hari liburnya." kliennya pun tersenyum kearah ku.
Kak Andrian pun berjalan kearah meja kerjanya. Dan aku pun kembali membaca buku yang ku pegang dengan posisi menghadap jendela.
Dengan tiba - tiba dia merangkul ku dari belakang. Dia menyingkirkan rambutku yang menutupi leher sebelah kanan dan mengecupnya singkat.
"Kamu seksi sekali Mila. "
Aku pun berbalik mengahadapnya.
"Oh ya.!! " aku menarik hidungnya dengan gemas.
"Aku pengen kita cepat - cepat nikah sayang..! " kita baru semalam jadian kak.!
"Ya aku tahu sayang.. Tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
dia mengecup kening ku lama. Lalu turun ke hidung dan lanjut ke bibir ku.
Dia mengecup bibir ku pelan dan melepasnya.
"Mil. Aku akan. Melamar mu awal bulan depan. " Aku menatap penuh tanda tanya.
"Bibir kamu candu buat ku Mil. bisa-bisa aku khilaf sayang." Aku mengerti tantang perasaannya.
"Apa pun begitu juga kak. Yang penting yang terbaik."
"Kita pulang sekarang ya. "
Aku pun mengangguk tanda setuju.
****
Saat dalam perjalanan
"Kita jemput orang tua kamu di terminal mana...? " tanya kak Andrian
"Sebentar ya kak. Mila telfon dulu."
Aku mencoba telfon ibu aku karna memang ibu sama bapak hanya memiliki 1 handphone. Ku coba sekali lagi ternyata masuk.
("Assalamu'alaikum buk. ")
(" waalaikumsalam. Ini dengan siapa ya..? ("Saya anak dari ibu ini. Anda siapa.? ")
(" saya suster dirumah sakit sudirman. Ibu anda mengalami kecelakaan bus tadi siang, anda diharapkan segera kesini. ")
(" bagaimana keadaan nya...?)
__ADS_1
("Ibu anda berada dalam keadaan kritis. ")
Tut ...
suara tanda bahwa sambungan telfon telah putus.
" kenapa Mil.? "
" kak kita ke RS Sudirman kak. Bua yang ibu tumpangi mengalami kecelakaan" aku berkata sambil menangis.
Ya Allah selamatkan kedua orang tua ku. Aku membatin.
Kak Andrian memacu mobil nya dalam kecepatan sedang. Jarak dari rumah aku ke RS cukup jauh.
Kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam. Dalam perjalanan tak berhenti - berhenti nya aku memanjatkan doa.
Akhirnya aku sampai di UGD RS Sudirman aku langsung ke resepsionis.
"Permisi sus.
" iya ada yang bisa di bantu.??
"Mau tanyak sus. Buk Siti dirawat ruangan apa sus..?
" buk Siti sedang dalam kondisi kritis buk. Sekarang lagi di tanganin di Ruang ICU. Ibu bisa tunggu diruang tunggu ya"
"Kalau bapak Trisno sus.,
"Belum ada datanya buk. Mungkin masih dalam evaluasi.. Harap bersabar buk ya
"Baik sus. Terimakasih"
Mata ku yang sedari tadi tidak berhenti- berhentinya menangis kini sudah sangat sembab.
"Sayang tenang ya.. Ibu pasti bisa melewati ini semua.! "
aku mengangguk sambil menatap nya tapi hati ku tetap cemas.
*****
Aku melihat ke dalam ruangan ICU melalui jendela yang tertutup rapat. banyak alat dan kabel -kabel yang terpasang di tubuh ibuku. Dan ada layar monitor yang menampakkan beberapa garis naik turun dan berbunyi bip. Namun tiba -tiba
Bip.. Bip.. Bippppppppp
Aku panik. Garis yang ada di monitor yang semulanya bergelombang kini menjadi lurus semuanya.. Para suster dan dokter berlari ke arah tempat tidur ibu ku.
Mereka menempelkan alat kejut di dada ibu ku. Ya Tuhan selamat kan ibuku.
Aku menangis sejadi-jadinya saat para suster mencabut alat dan kabel yang ada di tubuh ibu ku. Aku lemah, kaki ku lunglai tak mampu berpijak. Saat aku akan terjatuh ke lantai Kak Andrian langsung memeluk ku dan berkata. "Yang sabar sayang. , ! Dokter pun keluar.
"dengan keluarga buk Siti. !!
"Iya kami pak."
__ADS_1
"Maaf saya dan rekan-tekan sudah berusaha. Namun takdir berkata lain. Ibu Siti tidak bisa di selamat kan lagi. Karna luka dalam nya begitu parah. Sekali lagi saya ucapkan maaf. "
Dokter pun berlalu. Aku yang terduduk di bangku ruang tunggu tak bisa berkata-kata lagi. Kak Andrian lah yang mewakili ku.
Tidak lama berselang. Dina dan keluarganya sampai. Dina langsung memeluk ku.
" Yang sabar ya Mil"
"Keluarga buk Siti. Silahkan masuk jika ada yang ingin melihat buk siti untuk yang terakhir kalinya. Karna jasat nya akan kami mandikan. "
Aku langsung masuk kedalam. Aku memeluk jasad ibu ku sambil menangis.
"Ibu. Kenapa ibu tinggalkan Mila sendiri. Mila belum sempat bahagiain ibu. Bapak pun belum ada kabarnya bu." Semua kenangan. Manis langsung terlintas di pikiran ku
. "Udah sayang. Biarkan ibumu. pergi dengan tenang. Ikhlaskan sayang. " tante memeluk ku.
Aku harus ikhlas agar ibu bisa tenang disana. Para suster pun membawa jasad ibu ku ke ruang jenazah. Aku menunggu di kursi tunggu di depan kamar jenazah.
Aku tidak menyangka harus kehilangan ibu terlalu cepat. Ibu yang selalu mendukung ku, ibu sebagai tempat aku berandar. Ibu adalah malaikat bagi ku.
*****
Pov Andrian
Aku tidak menyangka orang tua dari orang yang ku sayangi pergi begitu cepat Disaat aku akan menyampaikan keinginan diri ku untuk melamar anak mereka.
Hati ku begitu teriris saat ku lihat orang yang ku sayangi menangis sampai matanya sembab tak berbentuk.
Saat Mila berada di kamar ibu nya. Aku berinisiatif untuk mencari info tentang ayahnya yang menjadi korban kecelakaan juga. Dan ternyata ayah nya pun ikut bersama istri tercinta.
Meninggalkan anak gadis mereka yang begitu manis.
Bagaimana aku akan menyAmpaikan berita ini kepada Mila.
Ketika aku sampai diruang tunggu. Ku memberi isyarat kepada mamakuu dengan menggelengkan kepala ku. Pertanda bahwa ayah Mila juga sudah tiada. Aku yakin mama bisa menyampaikan dengan cara yang lebih baik dari pada aku.
"Mila sayang. Dengerin tante ya. Mila harus kuat karna memang Mila anak yang kuat tante tau itu. Mila yang sabar ya.. Tante mau kasih kabar ,,kalau...bapak Mila sudah menghadap Allah bersama ibu."
Ku lihat tubuh Mila melemah dan hampir terjatuh andaikan mama terlambat memeluk Mila. Aku langsung menggendong Mila dan berlari ke UGD lagi. Karna Mila tidak sadarkan diri.
******
Pov Mila.
aku yang mendengar dan menatap calon mertua ku pun tak bisa berkata apa -apa. Dengan tiba- tiba kepala ku sakit, dan pandangan ku perlahan -lahan memudar. Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Saat aku tertidur aku melihat ibu dan bapak saling menggenggam tangan dan memakai pakaian serba putih. Tak ada sepatah kata pun yang keluar.
Mereka hanya tersenyum padaku, sambil melambaikan tangan.. Merekapun membelakangi ku.
"Ibu bapak mau kemana. Jangan tinggalin Mila sendiri.. . Mila ikut bu"
berulang kali aku memanggil. Tetapi mereka tidak menoleh sedikit pun. Aku berlari ingin menggapai mereka namun mereka begitu cepat berlalu dan kabut pun menelan bayangan mereka.
__ADS_1