
Riska menggelengkan kepalanya. "Aku tidak memikirkan apapun. Maafkan aku, Mas." jawabnya.
"Sudah, biar aku saja yang memungutinya. Sebaiknya kita beli beberapa kardus saja. Dan fokuslah dengan tujuan kita. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia." ucap Hilman.
"Iy-iya, Mas. Sekali lagi maafkan aku. Aku memang ceroboh." jawab Riska. 'Ish, Riska, kenapa kamu tidak fokus seperti ini, ha! Buang jauh-jauh pikiranmu tentang selingkuhan suamimu. Ingat, pernikahan kalian atas dasar keterpaksaan. Dan aku juga yakin, kalau Mas Hilman sangat mencintai anak dan selingkuhannya sampai-sampai Mas Hilman membelikan semua kebutuhan mereka.' batin Riska.
Setelah beberapa menit berbelanja. Kini Hilman dan Riska telah selesai dan dalam perjalanan menuju suatu tempat yang diyakini Riska adalah rumah selingkuhan suaminya.
Berulang kali, Riska meminta di pulangkan saja, tapi tak mendapat respon dari sang suami.
Keringat dingin pun mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Entah kenapa, dirinya menjadi takut. Pikiran akan di hina dan di sebut pelakor pun terus bertengger di otaknya.
"Mas, kamu antarkan aku pulang, ya! Tiba-tiba tubuhku--"
"Diam. Sekali lagi kamu bicara, aku tidak segan-segan menghukummu." ancam Hilman membuat Riska menggerutu dalam hati.
'Selalu saja mengancamku dengan hukuman. Tapi apa aku siap melihat kemesraan Mas Hilman dengan selingkuhannya? Dan apa aku siap di sebut pelakor? Lebih baik, aku pura-pura tidur. Aku tidak mungkin menampakkan wajah masam ku di depan Mas Hilman.' batinnya.
Setelah hampir satu jam mobil yang dikendarai Hilman membelah jalanan ibukota. Kini mobilnya sudah terparkir mulus di halaman rumah yang cukup besar dan luas.
Banyak sekali anak kecil yang berlarian menunggu Hilman keluar dari mobil.
"Turunlah," titah Hilman tak mendapat respon.
Tak mendapat respon, akhirnya Hilman menoleh dan melihat sang istri tertidur.
"Aku heran, setiap perjalanan, dia selalu tidur. Apa hobinya selalu tidur?" gumamnya sembari menggoyangkan tubuh Riska.
Riska yang berpura-pura tidur pun menggeliat, 'Aduh, apa aku siap membuka mataku dan melihat wajah selingkuhan suami ku?' batinnya dalam hati.
"Bangunlah, kita sudah sampai!" ucap Hilman.
__ADS_1
"Hoam, iya," jawab Riska membuka matanya dan terkejut saat melihat banyaknya anak kecil yang berdiri di depan mobilnya. "Mas, siapa mereka? Tidak mungkin mereka semua anakmu, kan?" tanyanya tak percaya.
Hilman terkekeh, "Mereka semua anakku, sekarang kita turun!" titahnya sembari membuka pintu mobil dan keluar.
Riska mengucek ke dua matanya tak percaya, 'Banyak sekali dan rata-rata semua anak-anak di sini berusia 5 tahunan. Bagaimana caranya Mas Hilman membuatnya?" gumamnya monolog.
"Ayo turun! Jangan diam saja di mobil. Biar aku kenalkan pada mereka semua." titah Hilman membuat Riska membuka pintu mobil dan turun.
Beberapa anak kecil tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
"Hai, Tante cantik. Pasti Tante cantik ini, istri dari Om Hilman ya?" tanya seorang anak kecil berambut kriting.
Riska mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil tersebut.
"Iya, Tante istri dari Om Hilman. Siapa namamu? Kenapa kamu begitu menggemaskan, hem? Dan di mana ibu kalian?" tanya Riska mencubit pipi anak kecil itu dengan gemas.
"Namaku Rian, Tante. Dan kita semua di sini tidak punya orang tua. Ini panti asuhan, Tan." jawab Rian dengan raut wajah sedihnya.
"Tante, Tante kenapa diam?" tanya Rian menggoyangkan tubuh Riska membuat Riska tersadar dari lamunannya.
"Tante tidak apa-apa, sayang. Maafkan Tante, ucapan Tante barusan sangat menyinggung perasaanmu sampai-sampai kamu sedih seperti ini. Maafkan Tante, ya!" titah Riska mengusap rambut keriting itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Tan. Oh, iya, aku masuk dulu. Teman-temanku sudah masuk semua. Tante ajak Om Hilman suruh masuk ke dalam. Di dalam ada ibu panti yang sangat baik."
"Iya, sayang. Kamu masuk dulu. Tante harus bicara empat mata dengan Om Hilman." titah Riska membuat Rian berlari masuk ke dalam panti asuhan.
Hilman mendekat ke arah istrinya. "Ayo, masuk! Jangan diam saja!" titahnya.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal, kalau kamu mau ke panti asuhan, Mas?" tanya Riska.
"Untuk apa? Bukankah, sekarang kamu sudah tahu tujuanku? Apa pentingnya aku bilang lebih awal? Ujung-ujungnya kita sampai juga, kan? Dan jangan menuduhku selingkuh lagi. Aku tidak pernah selingkuh darimu."
__ADS_1
"Aku mana tahu, Mas. Bisa saja kamu selingkuh di belakangku, tapi kamu menutupinya dengan rapat." ucap Riska kemudian berjalan masuk ke dalam panti di ikuti oleh Hilman di belakangnya.
Setelah masuk ke dalam panti, Riska di sambut hangat oleh wanita paruh baya yang mengeluarkan aura positif dalam dirinya. Apalagi dengan hijabnya yang menutupi seluruh bagian atasnya.
"Pasti kamu istri Hilman yang bernama Riska." ucap wanita paruh baya yang bernama Siti. "Perkenalkan nama saya Siti, biasa di panggil Ibu panti."
"Senang bisa bertemu dengan ibu Siti." jawab Riska dengan senyum manisnya.
"Hilman, kamu benar, dia wanita yang sangat cantik. Ibu senang, akhirnya kamu bisa mendapatkan wanita pujaanmu." ucap Ibu panti.
"Biasa saja, Bu. Menurutku dia tidak terlalu cantik. Ibu jangan memujinya terus. Bisa-bisa dia terbang." ucap Hilman tersenyum sinis ke arah sang istri. "Aku mau melihat anak-anakku yang masih bayi. Oh, iya, aku membawa beberapa bahan pokok serta pakaian bayi untuk anak-anak panti."
"Iya, ibu di beritahukan anak-anak. Ajak sekalian istrimu," titah ibu panti.
"Bayi? Memangnya di sini ada bayi?" tanya Riska memastikan.
"Ada beberapa bayi yang di buang atau di titipkan di panti ini. Biar Hilman menemanimu mengelilingi seluruh sudut panti." ucap ibu panti, "Kamu mau menemani istrimu, kan?"
"Iya, Bu." jawab Hilman kemudian berjalan menuju kamar khusus bayi di ikuti Riska di belakangnya.
Riska menatap seluruh sudut ruangan. 'Mas Hilman ternyata baik juga. Dia memikirkan nasib anak panti di sini. Aku benar-benar salut padanya.' gumamnya dalam hati.
"Tidak perlu memujiku dalam hati!" ucap Hilman tiba-tiba.
'Apa? Kenapa Mas Hilman bisa tahu kalau aku sedang memujinya? Apa mata batin Mas Hilman terbuka?' batin Riska bertanya-tanya.
Hilman masuk ke dalam ruangan yang berada di tengah-tengah rumah panti.
Riska terkejut saat melihat banyak box bayi yang terisi penuh.
"Mas, banyak sekali bayi nya?" tanya Riska syok.
__ADS_1