
"Lalu apa?" tanya Hilman penasaran.
"Masalah hukuman." jawab Riska.
Hilman memakan mie instan tersebut. "Kenapa? Ada apa dengan hukumanmu? Jangan bilang, kamu menyerah dan berbalik arah menjadi menyetujui perintahku?"
"Tidak, Mas. Tidak mungkin aku memecat sahabatku sendiri. Setelah aku menyelesaikan hukumanku, apa boleh aku memastikan sikap sahabatku. Aku tahu, Mas Hilman tidak mungkin menuduh orang sembarangan, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan sahabatku. Apalagi kita sudah mendengar penjelasannya tadi. Daripada aku terus berpikir dan bertanya-tanya, apa boleh aku mencari tahunya sendiri?" titah Riska sembari menundukkan wajahnya ke lantai.
Hilman menunjuk segelas air gelas. "Ambilkan air itu!" pintanya membuat Riska mengambilkan segelas air dan menyodorkan kepada suaminya.
Glek ...
Glek ....
"Apa kamu yakin?" tanya Hilman meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
"Aku yakin, Mas. Kamu bisa beri aku sedikit kepercayaan untuk keluar masuk rumah ini. Aku janji, aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu." jawab Riska meyakinkan suaminya.
Hilman menatap ujung kaki sampai ujung rambut istrinya. "Datang saja ke kantor sewaktu jam kerja. Dia akan membuat ulah." ucapnya.
Riska menarik ke dua sudut bibirnya sembari mendongakkan wajahnya ke arah suaminya.
"Mas Hilman mengizinkanku keluar masuk rumah ini?" tanyanya memastikan.
"Hem, tapi ingat! Sekali saja, kamu mengkhianati kepercayaanku, jangan harap aku bisa percaya lagi denganmu." ancamnya.
"Terimakasih, Mas. Aku janji, aku tidak akan mengkhianati kepercayaanmu, Mas. Aku akan menjaganya dan membuktikan kalau aku layak mendapatkan kepercayaan itu. Sekali lagi, aku berterimakasih padamu, Mas." ucap Riska bahagia yang dengan reflek menggenggam tangan suaminya.
Hilman terpaku sejenak saat melihat tangan istrinya yang sedang menggenggam tangannya. Bahkan sendok mie pun terjatuh dan masuk ke dalam mangkuk.
Mendengar suara sendok jatuh, Riska langsung tersadar dan meminta maaf.
"Ma-maaf, Mas, biar aku ambilkan sendok yang baru!" ucapnya berlari mengambil sendok baru untuk suaminya.
'Aku rasa, dengan cara memberinya sedikit kebebasan, Riska akan nyaman berada di sisiku. Dan aku lebih leluasa membuatnya jatuh cinta padaku.' gumamnya dalam hati.
'Akhirnya aku bisa keluar masuk rumah ini dengan bebas, tapi aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan Mas Hilman. Dan aku juga penasaran, apa yang di katakan Mas Hilman tentang Rachel memang benar apa adanya, atau hanya karangan yang sengaja di buat Mas Hilman supaya aku tidak berteman dengannya lagi.' gumam Riska dalam hati.
Hilman meminta istrinya untuk duduk di sampingnya. "Duduklah, temani aku makan." titahnya membuat Riska patuh.
__ADS_1
"Mas, kapan aku bisa mengunjungi kamu di kantor?" tanya Riska basa basi.
"Kapan saja, aku tidak mempermasalahkan." jawabnya santai.
"Tapi kalau Mas Hilman meeting atau ada pekerjaan di luar kantor bagaimana? Aku tetap menunggu Mas Hilman atau pulang saja?" tanyanya lagi.
"Tunggu saja di ruanganku. Dan satu hal lagi, jangan sampai sahabatmu tahu tentang kunjungan mu. Aku tidak mau ada drama lagi di kantor. Kantor itu tempatku mencari uang untukmu bukan ajang perdebatan atau air mata!" jawab Hilman. "Aku sudah selesai."
"Ya, sudah, Mas. Mas Hilman masuk kamar saja. Biar aku yang membereskannya." titah Riska beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu dulu." cegah Hilman.
"iya, Mas, kenapa?" tanyanya yang tak sengaja menatap wajah tampan suaminya. 'Em ... di pikir-pikir Mas Hilman tampan juga. Seharusnya, aku beruntung mempunyai suami sepertinya. Sudah tampan, mapan dan bertanggung jawab, tapi kenapa aku malah ingin bercerai darinya?' batinnya.
"Pakailah pakaian yang tertutup. Jangan lupa memakai masker!" titah Hilman.
'Detak jantungku, ada apa dengan detak jantungku? Kenapa berdetak dua kali lebih cepat?' gumam Riska dalam hati.
"Hei, kau dengar apa yang aku ucapkan, kan?" tanya Hilman setelah beberapa menit tak ada jawaban. "Hei?" sapanya lagi.
Riska tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, Mas. Aku dengar kok!" jawabnya.
'Apa yang Mas Hilman ucapkan? Aku juga tidak tahu, apa yang Mas Hilman ucapkan. Kan aku sibuk ngalamun. Bagaimana ini? Bagaimana aku menjawab pertanyaan mas Hilman yang sama sekali aku tidak tahu. Jangan sampai aku salah menjawab,' batinnya kebingungan.
"Cepat jawab!" titah Hilman.
"Mas, maafkan aku, tadi aku melamun dan aku tidak mendengar apa yang kamu katakan. Sekali lagi, maafkan aku!" lirih Riska.
"RISKA!" geram Hilman. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sampai-sampai kamu mengabaikan ucapanku, ha!" pekiknya lagi.
"Em ... kamu, Mas!" jawab Riska keceplosan.
"Aku?" tanya Hilman memastikan. "Memangnya ada apa denganku, ha?"
'Mana mungkin aku bilang, kalau aku mengagumimunya. Bisa-bisa Mas Hilman besar kepala.' gumamnya dalam hati.
"Hei, jawab pertanyaanku! Atau jangan-jangan, kamu sedang memuji ketampananku, ya!" tebak Hilman membuat reflek Riska menganggukkan kepalanya.
"Iya, eh bukan Mas!" jawabnya gugup.
__ADS_1
Hilman terkekeh saat mendengar jawaban istrinya yang jujur.
"Okeh, aku anggap jawaban pertamamu adalah jawaban jujurmu."
"Ta-tapi, aku ti--"
"Hukuman atau bebas!" ancamnya.
"Bebas, Mas." jawab Riska patuh.
"Bagus, itu artinya kau melamun karena memujiku, iya, kan?" tanyanya penuh percaya diri.
'Lebih baik, aku iyakan saja. Daripada aku mendapat hukuman.' gumamnya dalam hati. "I-iya, Mas." jawabnya.
"Bagus, tapi lain kali kalau mau memuji, tidak perlu di dalam hati. Cukup katakan saja di depan orangnya, itu jauh lebih baik!" ucap Hilman beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Riska seorang diri di ruang meja makan.
'Kenapa aku jadi malu seperti ini saat Mas Hilman mengetahui kalau aku sedang memujinya? Apa jangan-jangan aku mulai mempunyai rasa? Tapi tidak mungkin aku mempunyai rasa untuknya.Tapi jika benar, aku mempunyai rasa bagaimana?' batinnya. 'Jangan bodoh, Mas Hilman saja tidak mempunyai rasa padamu. Jangan sampai kamu mempunyai rasa. Ingat, aku mau menikah dengannya karena ayah dan ibu.'
Sedangkan di dalam kamar, Hilman merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sembari menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih biru.
"Aku tidak percaya, Riska memuji ketampananku. Ini merupakan awal yang baik untukku memperbaiki rumah tangga ini." gumamnya tersenyum.
Setelah membersihkan mangkuk kotor, Riska berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Riska meraih ponselnya mencoba menghubungi ibunya yang berada di luar negeri.
Tut ...
Tut ....
"Hallo," ucap wanita paruh baya di sebrang sana.
"Ibu, akhirnya aku bisa mendengar suara ibu lagi. Bagaimana keadaan ibu dan Ayah?" tanya Riska dengan suara beratnya dan pelupuk mata mengembun.
"Aku sangat merindukan kalian. Aku ingin bertemu kalian." sambungnya lagi.
"Bu, apa boleh aku menjenguk Ayah? Aku sangat merindukan ayah. Aku mau merawatnya, Bu." pintanya memohon.
"Urus saja suamimu, sayang!" jawab Dewi dari sebrang sana.
__ADS_1