
Pintu lift terbuka. Tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya, Hilman lebih memilih berjalan keluar lift menuju ruangannya.
Riska mengerucutkan bibirnya karena ucapannya di abaikan. Dia berjalan menyusul suaminya yang sudah berjalan lebih dulu.
Setelah masuk ke dalam ruangan CEO, Riska tidak melihat sahabatnya.
"Kemana Rachel, Mas?" tanya Riska menatap sekitar ruangan.
"Tunggu saja di sini. Dia sedang sibuk mengerjakan tugasnya yang lain." jawab Hilman. "Kau boleh buka maskermu, tapi perlu kau ingat, jika ada ketukan pintu, kau harus menggunakan maskermu lagi." titahnya.
"Aku perduli, Mas. Yang aku perdulikan hanyalah sahabatku saja. Setelah urusanku dengan sahabatku selesai, aku akan pergi dari kantormu ini." gumam Riska.
"Jika tidak ada instruksi dariku, maka kau tetap di sini." jawab Hilman membuka beberapa berkas yang berada di mejanya. "Jika lapar atau haus, bilang saja padaku. Aku akan meminta OB untuk menyiapkan segala keperluanmu."
"Aku tidak butuh OB atau lainnya, Mas. Aku datang kemari karena aku memikirkan Rachel. Cepat beritahu dia, kalau aku sudah di sini, Mas." titah Riska.
"Aku sibuk." jawab Hilman sembari mengetik sesuatu di papan keyboardnya.
'Sibuk, apa yang Mas Hilman kerjakan sampai-sampai dia bisa mengatakan kalau dirinya sibuk? Apa permintaanku terlalu berat? Padahal permintaanku hanya memanggil Rachel dan Mas Hilman bilang sibuk. Apa sebaiknya, aku hampiri saja Rachel?' gumam Riska dalam hati. 'Iya, lebih baik aku temui saja Rachel daripada mengandalkan Mas hilman.' batinnya sembari beranjak dari tempat duduknya.
Hilman menghentikan jemarinya yang menari di papan keyboard.
"Mau kemana?" tanyanya pada sang istri.
"Aku mau ke ruang kerja Rachel, Mas. Aku mau lihat sahabatku bekerja. Siapa tahu, Rachel sedang kesulitan." jawabnya.
"Tidak perlu. Aku tidak mengizinkanmu pergi. Kembali ketempat semula. Aku akan pesan makanan untukmu." titah Hilman.
"Tapi, Mas, kasihan Rachel. Kedatanganku ke sini karena Rachel, Mas. Dia membutuhkan bantuanku."
"Patuhilah semua perintahku atau kamu ingin melihat temanmu kehilangan pekerjaannya?" ancam Hilman membuat Riska mau tak mau kembali ke tempat duduknya.
'Mas Hilman sangat menyebalkan. Kedatanganku kemari untuk membantu kesulitan Rachel, tapi kenapa Mas Hilman tidak mengizinkanku menemuinya. Huh, lama kelamaan aku jenuh duduk di ruangan sebesar ini tanpa ada yang bisa di ajak bicara.' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Hilman meraih telfon genggamnya dan menelfon OB kantornya. Sembari menunggu telfonnya di angkat, Hilman mencoba menatap wajah istrinya yang terlihat kesal.
"Makanan apa yang kamu inginkan?" tanya Hilman setelah panggilannya tersambung dengan ketus OB.
"Aku tidak selera makan, Mas. Kamu saja yang pesan makanan." jawab Riska datar.
Riska mengambil ponselnya yang berada dalam tas.
Di scroll media sosialnya untuk menghibur dirinya yang sedang jenuh.
Hampir satu jam, Riska memainkan ponselnya, tapi orang yang sedang di tunggu-tunggunya tidak kunjung datang sampai dirinya mendengar suara ketukan pintu dari luar ruang kerja suaminya.
Tok ...
Tok ....
Hilman yang mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan pun langsung meminta sang istri memakai maskernya.
"Pakailah maskermu." titahnya.
"Jangan banyak bertanya. Pakai saja maskermu atau biaya pengobatan ayahmu akan ku hentikan. Kamu mau terjadi sesuatu dengan Ayahmu, ha?" ancam Hilman membuat Riska menuruti perintah sang suami.
'Kenapa ibu mau menerima menantu seperti Mas Hilman, sih!' geram Riska dalam hati sembari memakai maskernya.
Setelah melihat istrinya memakai masker, Hilman membukakan pintu ruangannya dengan remote control yang terhubung pintu ruangan.
Pintu terbuka, Riska dapat melihat seorang pria berpakaian OB sedang membawa nampan berisi makan siang pesanan Hilman.
"Letakkan saja makanan itu di meja depan istriku. Dan suruh dia makan, kalau dia tidak mau makan, itu artinya kau yang aku pecat." ucapnya santai.
"Ta-tapi Tuan, apa salah saya?" tanya karyawan itu ketakutan.
"Apa perlu aku jelaskan lagi, ha!" pekik Hilman.
__ADS_1
"Ti-tidak, Tuan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar Nyonya mau makan makanan ini." jawab pegawai OB.
"Mas, apa-apaan, kenapa kamu memperlakukan karyawanmu dengan kasar. Masalah aku mau makan atau tidak, itu bukan urusan karyawanmu. Kamu tidak bisa sembarangan pecat orang." kesal Riska.
"Diam. Aku tidak bicara denganmu. Aku sedang bicara dengan karyawanku! Kamu bukan karyawanku, Ris!"
"Aku memang bukan karyawanmu, tapi aku istrimu. Aku berhak menegur suamiku sendiri jika dirinya bersalah." jawab Riska lalu menatap wajah OB yang ketakutan. "Keluarlah, aku berjanji, suamiku tidak akan memecatmu. Lanjutkan saja pekerjaanmu." titah Riska membuat OB itu berlari keluar ruangan.
"Tidak sopan!" umpat Hilman menjatuhkan pantatnya lagi di kursi kebesarannya.
"Yang tidak sopan itu kamu, Mas. Seharusnya kamu bisa menghargai semua karyawanmu." kesal Riska, "Sikapmu berubah, Mas. Di depan ibuku, kamu bersikap selayaknya malaikat sampai-sampai ibuku sangat mempercayaimu untuk menjadikanmu menantunya, tapi--"
"Makan makananmu, atau aku pecat semua orang yang bersangkut paut denganmu." ancam Hilman.
'Mas Hilman benar-benar menyebalkan.' gumam Riska dalam hati.
"Ayo, makan. Sedari pagi, aku tidak melihatmu makan. Jadi, aku pesankan kamu makan siang yang cukup banyak. Setelah selesai makan, beristirahatlah di kamar yang sudah aku sediakan. Aku tidak mau, jam tidurmu berantakan." ucap Hilman.
"Tapi aku bukan anak kecil yang semuanya harus--"
"Sekali lagi bicara, maka aku pecat semua orang yang bersangkut paut denganmu. Apa kamu mau melihat orang-orang yang selama ini baik padamu justru mendapat musibah yang di sebabkan olehmu sendiri? Apa kamu tega, hem?" ancam Hilman.
"Terserah kamu mau menganggapku sebagai bonekamu, Mas, tapi demi semua orang di sekitarku bahagia, aku akan patuh padamu. Sekali lagi, aku ingatkan, Mas! Aku patuh karena orang-orang terdekatku bukan karena aku takut padamu." kesal Riska memakan makanan yang ada di atas meja.
Hilman melirik sekilas saat melihat istrinya makan dengan lahap. 'Untung saja, aku tahu makanan kesukaan Riska. Jadi, aku tinggal minta OB untuk membelinya.' batin Hilman dalam hati.
'Tunggu dulu, kenapa makanan ini, seperti makanan langgananku, ya?' gumam Riska dalam hati, 'Tapi tidak mungkin Mas Hilman tahu tempat makan favoritku. Pasti semua ini hanya kebutuhan saja.' sambungnya lagi.
Riska bersendawa sembari meluruskan kakinya di sofa, setelah kenyang menghabiskan semua makanan yang di letakkan di atas meja.
"Mas, aku sudah selesai makan. Sebelum aku masuk ke kamar, aku mau tanya sedikit padamu, tapi aku mohon padamu, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur." ucap Riska serius.
"Katakan saja, aku mendengar semua pertanyaanmu." titah Hilman.
__ADS_1
"Baiklah, apa hari ini aku tertipu dengan ucapanmu itu, Mas?" tanya Riska menghentikan jemari Hilman berhenti menari di papan keyboard.