Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 15


__ADS_3

"Awas saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan berusaha merebutmu dari Riska!" geram Rachel berpura-pura tersandung dan terjatuh di tengah jalan.


"Mas Hilman, kakiku!" pekiknya membuat Hilman reflek memutar tubuhnya dan melihat sekertarisnya yang sedang memegang kakinya di tengah jalan.


"Jangan ber drama. Pergilah!" titah Hilman melanjutkan langkah kakinya lagi masuk ke dalam panti.


"Aku serius, Mas. Kaki ku sakit sekali. Aku tidak bisa berjalan. Tolong aku, Mas!" pintanya dengan raut wajah memohonnya.


Beberapa warga yang melihat kejadian itu pun nampak kesal dengan tingkah Hilman yang cuek.


"Bukannya pria itu menolong teman wanitanya yang sedang sakit, eh ... ini malah pria itu bersikap cuek." sindir salah satu ibu-ibu yang melihat kejadian tersebut.


Rian, anak kecil itu keluar panti dan ingin bermain dengan anak panti lainnya yang berada di samping halaman rumah, tapi dari kejauhan dia melihat Om nya yang sedang berdebat dengan seorang ibu-ibu membuatnya mau tak mau berlari ke arah Om nya.


"Om, ada apa?" tanya Rian yang tiba-tiba datang mengejutkan Hilman dan Rachel.


'Om?' gumam Rachel dalam hati. 'Anak yang keluar dari panti itu memanggil Hilman dengan sebutan Om?' batinnya lagi.


"Kamu berikan ini ke Tante." titah Hilman memberikan satu buah paper bag ke Rian.


"Iya," jawab Rian mengambil paper bag tersebut, "Tapi apa yang terjadi? Kenapa dari kejauhan, aku melihat om sedang berdebat dengan ibu-ibu di sini. Dan siapa wanita yang berada di tengah jalan itu? Kenapa menatap kita seperti--"


"Dia wanita tidak tahu diri." ujar Hilman.


"Wanita tidak tahu diri? Oh, nama wanita itu tidak tahu diri ya, Om?" tanya Rian dengan polosnya.


'Sialaan, apa-apaan Mas Hilman! Ini sama saja Mas Hilman mempermalukanku di depan umum.' geramnya dalam hati.


"Berikan paper bag itu ke Tante. Kasihan Tante Riska, dia sudah menunggunya." titah Hilman lagi.


"Iya, Om." jawab Rian kemudian berlari masuk ke dalam panti.


Setelah melihat kepergian Rian, Hilman langsung membantu sekertarisnya yang tengah kesakitan. Mau tak mau, dia menggendong wanita yang berstatus sebagai sekretaris di kantornya ke tepi jalan.


'Aku di gendong Mas Hilman? Mimpi apa, aku semalam!' batinnya kegirangan.


Setelah sampai tepi jalan, Hilman meletakkan Rachel di sembarang tempat. "Beruntung, sedari tadi, jalan di sini sepi." ucapnya ketus.


"Jangan marah-marah terus, Mas."

__ADS_1


"Jangan panggil aku dengan sebutan yang menjijikan itu!" ucap Hilman dengan sedikit emosi.


Sedangkan di sisi lain. Rian mengetuk kamar Hilman dan Riska.


Riska yang tengah melamun pun terkejut saat mendengar ketukan yang berasal dari luar pintu kamarnya.


"Pasti Mas Hilman, tapi kenapa Mas Hilman ketuk pintu? Biasanya tinggal masuk saja. Apa dia menghargai aku karena aku baru saja mandi?' gumamnya berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya sedikit.


Rian tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih saat melihat Riska menyembulkan sedikit kepalanya.


"Hai, Tante. Aku di suruh Om Hilman memberikan ini!" titah Rian sembari memperlihatkan paper bag yang di bawanya.


"Terimakasih." jawab Riska mengambil paper bag tersebut, "Om Hilman kemana, sayang? Kenapa tidak dia saja yang memberikan ini ke Tante?' tanyanya lagi.


"Om Hilman ada di depan panti bersama wanita tidak tahu diri. Kalau begitu, aku pergi dulu, Tan! Aku mau bermain dengan teman-temanku!" ujar Rian kemudian pergi dari hadapan Riska.


Riska menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju tepi ranjang sembari memikirkan ucapan Rian.


"Wanita tidak tahu diri? Memangnya siapa?" tanya Riska penasaran.


Riska memakai pakaian yang di berikan suaminya dengan cepat.


Setelah pakaian itu melekat di tubuhnya, Riska langsung keluar kamar dan mencari keberadaan suaminya.


Ibu Siti yang melihat Riska terburu-buru pun langsung menghampirinya.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya Ibu panti yang menghentikan langkah kaki Riska.


"Aku? Aku mau mencari mas Hilman, Bu." jawabnya.


"Memangnya, Hilman kemana?"


"Kata Rian, dia ada di depan bersama wanita tidak tahu diri. Dan aku penasaran, kenapa Rian menyebut wanita itu dengan sebutan wanita tidak tahu diri. Jadi, aku hanya ingin memastikan saja, siapa sosok wanita itu." jawab Riska yang kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


"Ibu ikut!" titah Bu Siti.


Rachel terpojokkan saat Hilman menegurnya, tanpa sengaja ekor matanya melihat seseorang wanita yang dia kenal keluar dari rumah yang bertuliskan panti asuhan 'Harapan Bunda'.


"Riska!" teriak Rachel membuat Hilman mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


Riska berusaha mencari sumber suara setelah mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Dia dapat melihat sahabatnya yang sedang bersama suaminya.


'Rachel, kenapa Rachel bersama Mas Hilman?' batin Riska kemudian berlari menghampirinya.


"Tolong aku, Riska. Kaki ku terkilir." lirihnya memohon.


"Iya, aku tolong kamu, tapi kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Riska penasaran.


"Aku mendapat pesan dari suamimu untuk mengirimkan pakaian baru wanita ke alamat ini. Dan tapi tiba-tiba di dalam perjalanan, kaki ku terkilir." lirih Rachel mengusap kaki kanannya.


'Oh, jadi Mas Hilman yang memberitahukan keberadaan kita kepada Rachel.' batin Riska sembari menghembuskan napasnya lega.


"Masuklah! Biar ini menjadi urusanku!" titah Hilman yang sudah muak melihat sahabat wanitanya ber drama.


"Kasihan Rachel, Mas. Kakinya terkilir." ucap Riska tak tega, "Kamu bisa gendong Rachel dan bawa masuk ke dalam panti, kan?" sambungnya lagi.


"Tidak perlu. Aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam panti selain keluargaku." tegas Hilman.


"Ibu setuju dengan Hilman." timpal Bu Siti.


"Tapi, Bu, dia sahabatku. Aku tidak mungkin menelantarkan sahabatku yang tengah kesakitan." ucap Riska memohon.


"Tuan, aku mohn ... kaki ku benar-benar tidak bisa berjalan." ucap Rachel yang tengah berakting.


"Mas, kasihan Rachel. Kita tolong, ya!"


"Ibu, kasihan sahabatku. Aku mohon, Bu. Tolong sahabatku." mohon Riska sembari mengatupkan tangannya di dada.


"Terserah kalian!" ketus Hilman kemudian masuk ke dalam panti.


'Aku rasa ada yang tidak beres dengan wanita itu. Aku bisa melihat raut wajah Hilman yang kesal.' gumam Bu Siti dalam hati.


"Ibu, aku mohon, aku mau menolong sahabatku dulu." pintanya memohon.


"Baiklah, jika suamimu mengizinkan, maka ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Bawa sahabatmu masuk ke dalam." titah Bu Siti kemudian berjalan masuk ke dalam panti.


Rachel tersenyum tipis saat di perbolehkan masuk ke dalam panti.


"Terimakasih, Riska, kamu memang sahabat terbaikku." ucapnya bahagia.

__ADS_1


"Sama-sama. Terimakasih juga untuk pakaiannya. Aku suka sekali." jawab Riska membantu sahabatnya berjalan masuk ke panti.


"Kalau boleh tahu, kenapa kalian ada di sini?"


__ADS_2