
Hilman terkejut dan langsung menggeser kakinya. "Ada apa?" tanyanya.
Riska menatap wajah tampan suaminya yang baru saja terbangun tidurnya karena ulahnya.
"Ma-mas, ja-jadi kaki itu kakimu?" tanya Riska memastikan.
"Kaki? Kaki yang mana? Sudah deh, jangan mengganggu tidur orang lain. Aku masih ngantuk!" kesal Hilman yang diabaikan Riska.
Riska melihat penampilannya yang masih utuh. "Semalam, aku tidur dengannya dan dia tidak menodaiku, kan? Dia-- tapi tidak mungkin dia menodaiku. Lihat saja, pakaikanku masih utuh." gumamnya yang dapat di dengar oleh Hilman.
"Aku suamimu dan aku pantas melakukan itu!" kesalnya sembari mengubah posisi tidurnya.
"Mas, kamu dengar apa yang aku ucapkan?"
"Kalau aku tidak dengar itu artinya telingaku tidak berfungsi. Lagian, tidur sama suami sendiri sudah seperti tidur dengan orang lain saja." gerutunya.
"Ta-tapi aku lirih mengucapkannya loh, Mas. Aku pikir kamu tidak akan dengar. Aku jadi malu kan!" ujar Riska beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah turun dari tempat tidur, Riska berjalan menuju kamar mandi.
Deg!
'Pakaian gantiku!' gumamnya dalam hati kemudian memutar tubuhnya. "Mas," panggilnya.
"Apa lagi?"
"Pakaian gantiku. Aku tidak terpikirkan kalau kita akan nginap dan aku tidak menyiapkan pakaian ganti. Kemarin sore saja aku tidak mandi." lirihnya.
"Lalu apa urusannya denganku? Kamu bisa pakai pakaian yang ada di tubuhmu, kan?"
"Ta-tapi, Mas, Pakaian ini bau, apa aku beli saja pakaikan baru. Atau aku pulang dulu?" saran Riska membuat Hilman turun dari ranjang.
"Bersihkan tubuhmu, tidak perlu memikirkan pakaian." titah Hilman kemudian melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 6 pagi.
__ADS_1
Riska menimang-nimang ucapan suaminya sejenak. 'Tapi apa yang dikatakan Mas Hilman ada benarnya juga, walaupun pakaian ini bau, tapi setidaknya aku sudah mandi. Ish, tapi aku tidak bisa membayangkan. Apa kata anak-anak nanti? Pasti mereka mengejek pakaianku yang bau.' gumamnya dalam hati.
"Masuklah, tidak perlu banyak berpikir lagi!" titah Hilman saat melihat istrinya melamun di dekat pintu kamar mandi.
"Sebaiknya aku pulang saja, Mas, karena aku pikir menggunakan pakaian kotor, bukan solusi yang tepat. Aku takut saja, tubuhku gatal atau pakaianku bau. Lebih baik, aku pesan taksi dan pulang. Kamu tunggu saja di sini." saran Riska.
Hilman terkekeh saat mendengar ucapan istrinya, "Pulang? Baiklah, kalau kau pulang itu artinya kita akan pulang. Dan aku pastikan, aku atau pun kamu tidak akan menginjakkan kaki kita lagi di tempat ini dan mereka akan berpikir, kalau kamulah penyebabnya." ancam Hilman membuat Riska semakin kesal.
"Lalu, aku harus apa, Mas? Aku tidak bisa menggunakan pakaian ini lagi." gerutunya.
"Masuklah dan bersihkan tubuhmu. Di sini banyak anak kecil. Mungkin saja, ada beberapa anak yang ukuran bajunya sama denganmu. Kita bisa pinjam atau kamu bisa pakai baju Bu Siti? Walaupun sedikit kebesaran tapi menurutku semua itu tidak masalah." jawab Hilman.
Mendengar jawaban suaminya, Riska langsung melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Setelah melihat istrinya hilang dari balik pintu kamar mandi. Hilman langsung menghubungi sekertarisnya yaitu Rachel.
Tut ...
Tut ....
"Wah, Mas Hilman menelfonku! Pasti dia merindukanku. Sudah aku tebak, orang seperti Mas Hilman tidak akan betah di sisi Riska." gumamnya sembari menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Hallo, Mas. Pasti kamu merindukanku, ya?" ucapnya dengan senyum-senyum sendiri.
Hilman mendengus kesal saat mendengar jawaban yang tak enak dari sekertarisnya.
'Ternyata aku salah menelfon orang!' gumamnya dalam hati.
"Mas Hilman." panggil Rachel dari seberang sana.
"Jaga ucapanmu dan hormati aku sebagai atasanmu." ketusnya.
"Ini bukan jam kantor. Jadi, kita bukan atasan dan bawahan lagi, Mas. Oh, iya, ada apa kamu menelfonku? Pasti kamu merindukanku dan--"
"Siapkan pakaian baru untuk Riska secepatnya dan kirim ke alamat yang aku kirimkan untukmu!" ketus Hilman yang memotong pembicaraan sekertarisnya.
__ADS_1
"Memangnya kalian di mana?" tanya Rachel penasaran.
"Setengah jam pakaian itu belum sampai, akan ku pastikan kemarin hari terakhirmu bekerja." ucap Hilman yang langsung memutuskan panggilan telponnya.
Rachel menggeram kesal dan beranjak dari tempat tidurnya.
"Sebenarnya, kemana perginya mereka? Dan kenapa harus aku yang membelikan pakaian untuk Riska, tapi kalau aku tidak membeli dan mengirimnya, pasti Mas Hilman akan hilang respect dan ujung-ujungnya aku semakin susah meluluhkan hatinya. Sebaiknya, aku turuti saja permintaan Mas Hilman sekalian aku cari tahu dimana mereka sekarang. Kebetulan aku punya baju baru yang belum pernah aku pakai. Aku bisa memberikannya kepada Riska." gumamnya berlari menuju lemari dan mencari pakaian barunya.
Sedangkan di satu sisi, setelah menyelesaikan ritual mandinya. Riska keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
Ekor matanya berkeliaran di setiap sudut kamarnya. "Di mana Mas Hilman?" gumamnya saat tak melihat suaminya di dalam kamar.
Tak ingin di pergoki mencari sang suami, Riska mencoba mencari pakaian untuk dirinya di atas kasur tapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Dia sama sekali tidak melihat satu biji pakaian untuk dirinya.
"Huh, aku pikir, di saat aku mandi, Mas Hilman menyiapkan pakaian untukku, tapi ternyata semua itu hanya khayalanku saja. Aku tidak melihat pakaian itu dan tidak melihat Mas Hilman juga. Nasibku sungguh malang, mempunyai suami yang tidak mencintaiku membuatku harus mandiri." ujarnya sembari menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.
Hilman sedang menunggu sekertarisnya di depan panti. Berulang kali, dia melirik jam di pergelangan tangannya.
"Apa dia sudah bosan bekerja di perusahaanku? Kalau benar, aku langsung mengadakan pesta meriah di kantor." ucapnya monolog.
Setelah kurang lebih menunggu hampir 10 menit, akhirnya Hilman melihat taksi yang berhenti tak jauh darinya. Segera mungkin, dia berlari menuju taksi tersebut.
Rachel turun dari taksi saat melihat bos nya berlari ke arah taksinya.
"Mas, kamu--"
"Berikan pakaian yang aku mau." titah Hilman menengadah.
"Ini pakaian yang kamu mau, Mas, tapi kenapa kamu di depan panti asuhan? Dan di mana Riska?" tanya Rachel basa basi. "Hari ini aku tidak ada acara apapun. Apa boleh aku gabung dengan kalian?" sambungnya lagi.
"Pergilah! Aku tidak ingin moment kebersamaanku dengan istriku terganggu olehmu." ketus Hilman mengambil paper bag pesanannya dan berjalan pergi.
"Mas, apa kamu tega melihatku--"
__ADS_1
"Aku menganggapmu karena istriku. Sekali lagi, kamu tidak bisa menghargai Riska, akan ku pastikan, Riska sendiri yang akan menendangmu dari kantor!" ketus Hilman melanjutkan langkahnya meninggalkan Rachel seorang diri.
Rachel menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian. "Awas saja!"