
Riska terkejut saat mendengar suara suaminya yang sedang emosi.
"Mas, tolong jaga nada bicaramu. Kita sedang berada di panti. Beri contoh yang baik kepada anak-anak panti." titah Riska yang baru saja datang.
"Bawa dia pergi dari sini. Dan aku pastikan, mulai besok dan seterusnya, wanita ini tidak pernah menginjakkan kakinya di kantorku." ketus Hilman.
"Tuan, tolong!" lirih Rachel bersujud di hadapan H.ilman. "Maafkan aku, tapi aku sangat butuh pekerjaan ini. Aku tidak tahu, harus mencari pekerjaan kemana lagi. Tolong jangan pecat aku." lirihnya.
Riska meminta sahabatnya untuk duduk seperti semula. "Jangan seperti ini, chel. Kamu tidak boleh bersujud." pintanya.
"Aku pantas, Riska. Aku tidak mau di pecat dari kantor suamimu. Aku tahu, bagaimana susahnya mencari pekerjaan. Jadi, aku mohon ... tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua kesalahanku." pinta Rachel memohon.
Riska tak tega saat melihat sahabatnya bersujud di hadapan suaminya. Lagi dan lagi, dia mencoba membela sahabatnya.
"Mas, kamu beri kesempatan sekali lagi untuk Rachel, ya. Lagi pula kesalahan apa yang Rachel lakukan sampai-sampai kamu memecatnya?"
"Kesalahan apa? Menurutmu, aku memutuskan sesuatu itu dari apa, ha? Dia sudah menghina Rian. Aku tidak suka orang lain menghina saudara-saudaraku."
"Menghina Rian? Apa yang diucapkan Mas Hilman benar? Kamu menghina Rian, Chel?" tanya Riska pada sahabatnya.
Rachel menggelengkan kepalanya. "Semua itu tidak benar, Ris. Aku tidak mungkin menghina Rian. Aku juga tidak tahu siapa Rian." jawabnya.
"Mas, mungkin ada kesalahpahaman. Tidak mungkin Rachel menghina Rian." ucap Riska semakin membakar amarah Hilman.
Hilman terkekeh saat mendengar ucapan istrinya. "Pasang telingamu baik-baik dan jangan membela monster sepertinya." ketus Hilman.
"Mas, jaga bicaramu." ujar Riska merasa tersinggung dengan ucapan suaminya.
"Hahaha ... kenapa? Sakit hati?" sindir Hilman. "Aku juga sakit hati saat kamu lebih membela sahabatmu itu di banding suamimu sendiri. Okeh, sekarang aku tanya, siapa yang menolongmu saat kamu susah? Siapa yang menghiburmu saat kamu sedih? Siapa! Hanya aku, Riska! Sahabatmu hanya berperan sedikit dalam kehidupanmu. Yang berperan seutuhnya hanya aku dan keluargamu. Selama ini aku diam dan selalu menuruti semua permintaanmu, tapi kali ini aku tidak bisa. Aku capek menghadapi sikap sahabatmu yang selalu membuat ulah."
__ADS_1
"Ta-tapi, Mas. Rachel tidak mungkin menghina Rian. aku tahu, siapa Rachel. Aku sudah mengenalnya lama." lirih Riska tak berani menatap wajah suaminya.
"Lalu, menurutmu, Rian bohong? Menurutmu, anak sekecil Rian bisa membohongi kita semua? Tidak! Justru, setiap ucapan yang di keluarkan dari mulut anak sekecil Rian itu adalah kejujuran." ucap Hilman.
"Tuan, maafkan aku. Aku bersalah, tapi aku tidak berniat mengatakan hal itu. Semua ini hanya kesalahpahaman saja. Aku tidak menghinanya. Aku sedang memaki pergelangan kaki ku yang sakit, tapi di saat aku sedang memaki, tiba-tiba datanglah seorang anak kecil. Aku benar-benar tidak tahu, dan aku meminta maaf." lirihnya berbohong.
"Riska, kamu percaya padaku, kan? Aku tidak mungkin memaki anak kecil? Kaki ku sedang sakit, Ris, dan aku merasa kesal karena mempunyai kaki selemah ini. Tolong percaya padaku." mohon Rachel.
"Tenangkan dirimu. Aku tahu, kamu tidak sengaja, kan?" jawab Riska sembari mengusap pundak sahabatnya.
"Tolong yakinkan suamimu. Aku mohon, Riska." pintanya memperlihatkan raut wajah melasnya.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Kamu tenang saja, ya," titah Riska kemudian memberanikan diri menatap wajah suaminya.
"Mas, aku mohon ... beri kesempatan untuk Rachel. Lagi pula, kamu sudah dengar penjelasan Rachel, kan? Dia sedang memaki kakinya sendiri yang sakit, bukan memaki Rian. Mungkin Rian sedang ada masalah dengan anak panti lain. Jadi, hatinya sedikit sensitif." ucap Riska.
"Aku tidak merasa di bodohi sahabatku sendiri. Aku hanya membela yang benar, Mas." jawab Riska.
"Mulai berani melawanku, ha!" geram Hilman. "Sudah aku bilang, kalau aku tidak suka dengan orang, jangan--"
"Mas, aku minta maaf, aku tidak pernah melawanmu." lirih Riska, "Aku mohon, Mas, jangan pecat Rachel. Kesalahannya kepada Rian bukan kesalahan pekerjaan. Jadi, kamu tidak bisa memecatnya."
Rachel mengangguk membenarkan ucapan Riska, "Benar, kesalahanku hari ini bukan masalah pekerjaan melainkan masalah pribadi. Jadi, Tuan Hilman tidak bisa memecatku." ucap Rachel.
Di dalam rumah panti. Rian berlari mencari ibu Siti dan memeluknya erat, membuat Ibu panti itu kebingungan.
"Apa yang terjadi padamu, hem?" tanya Bu Siti. "Kenapa kamu menangis, apa Rian bertengkar dengan anak-anak lain?" sambungnya lagi.
"Ibu, apa benar, ibuku menelantarkanku juga menyesal mempunyai anak sepertiku, hiks ... hiks ..." tanya Rian di selingi isak tangisnya.
__ADS_1
"Kamu kata siapa, Rian?" tanya Bu Siti sedikit terkejut. "Siapa yang bicara seperti itu?"
"Wanita yang bernama tidaak tahu diiri itu, Bu. Tadi, Tante dan Om Hilman membawa wanita itu dan dia mengatakan hal seperti itu. Apa benar, orang tuaku menyesal mempunyai anak sepertiku, Bu, hiks ... hiks ...."
'Wanita tiidak tahu diiri? Apa jangan-jangan yang di maksud Rian itu, wanita yang di depan? Aku harus menegurnya.' gumamnya dalam hati sembari mensejajarkan tubuhnya dengan Rian.
"Rian, kamu main saja dan jangan pikirkan ucapan wanita itu. Kamu ini masih kecil. Dan ibu yakin, tidak ada orang tua yang tega membuang anaknya sendiri. Kamu anak ibu, sayang!" ucapnya mengelus pucuk rambut anak kecil di hadapannya.
"Ibu, tapi ibu bukan ibu kandungku. Di mana orang tuaku, Bu. Ibu tidak mungkin melahirkan banyak anak sedangkan aku tidak pernah melihat ayah."
"Kamu tenang saja. Walaupun ibu Siti bukan ibu kandungmu, tapi ibu janji ... ibu akan memberikan seluruh kasih sayang ibu yang utuh agar Rian dan anak-anak yang lain tidak merasa kesepian." bujuk Bu Siti. "Sekarang, jangan menangis."
"Tapi ibu janji, ya, ibu akan tetap menjadi ibuku sampai aku besar nanti. Ibu tidak boleh menelantarkan aku." pinta Rian yang di setujui oleh Bu Siti.
"Janji, sayang. Ibu tidak akan menelantarkanmu. Sekarang, kembalilah bermain bersama teman-temanmu. Kamu tidak perlu memikirkan hal seperti ini, okeh!" ucap Bu Siti sembari mengedipkan salah satu kelopak matanya.
"Iya, Bu." jawab Rian kemudian berlari menuju halaman samping rumah, di mana teman-temannya berada.
Setelah melihat kepergian anak asuhnya. Bu Siti berjalan menuju teras depan rumahnya.
"Hilman," panggil Bu Siti.
Hilman menoleh, "Ada apa, Bu?" tanya Hilman.
"Apa benar, yang di ucapkan Rian?" tanya Bu Siti.
"Memangnya apa yang dikatakan Rian, Bu? Aku tidak tahu." jawab Hilman.
"Wanita itu!" tunjuk Bu Siti.
__ADS_1