
"Tapi kenapa, Bu? Siapa tahu, dengan adanya aku di sisi ayah, ayah bisa cepat sadar. Dan masalah Mas Hilman, aku yakin dia bisa menjaga diri saat aku tidak bersamanya." jawab Riska yang sedang berdiri di dekat jendela kamar.
"Biarkan Ayahmu menjadi urusan ibu, Ris, kamu fokus saja dengan suamimu. Ibu tidak mau, mendapat teguran dari siapapun tentang kelakuanmu yang tidak bisa menghormati suamimu. Ingat, Riska, Hilman sudah membantu kehidupan kita selama ini. Kamu sekolah, punya mobil dan rumah, semuanya karena Hilman. Jika bukan Hilman yang menanggungnya, mungkin kita sudah menjadi gelandangan dan ayahmu sudah berada di alam kubur karena kita tidak sanggup membayar pengobatannya." ucap Bu Dewi panjang lebar.
Riska tersenyum kecut setelah mendengar ucapan ibunya.
'Apa yang ada di otak ibu hanya jasa Mas Hilman selama ini? Tapi ibu tidak pernah memikirkan perasaanku yang tertekan hidup dengannya?' gumamnya dalam hati.
"Riska, kamu masih dengar ibu, kan?" tanya Bu Dewi lagi.
"Iya, Bu. Aku mendengarnya," jawabnya.
"Baguslah, kalau kamu mendengarnya. Jadi, mulai dari sekarang ... kamu harus bersikap baik dan melayani suamimu dengan baik. Jangan lupa, ibu minta cucu dari kalian. Bukan ibu saja, kalau ayahmu sadar, dia pasti meminta seorang cucu juga."
'Cucu? Kita saja pisah kamar, bagaimana aku bisa hamil? Ibu ada-ada saja,' batin Riska. "Aku tidak yakin, doakan saja yang terbaik untuk pernikahan ini, Bu." jawabnya.
"Istirahatlah, temanilah suamimu. Ibu juga mau istirahat." titah Bu Dewi.
Riska mengangguk, setelah itu dirinya mengakhiri panggilan telfonnya.
"Cucu? Ibu minta cucu? Mana mungkin aku memberikan cucu? Ingat, kita ini menikah paksa." gumamnya, kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk. "Hoam, lama kelamaan aku ngantuk!"
Ke esokkan hari.
Seperti biasa, Riska di bangunkan oleh sinar matahari yang menembus ke dalam kamarnya dan menyinari wajahnya.
Tubuhnya menggeliat dan merasakan keanehan di kamarnya, tepatnya di tirai jendela kamar tempatnya tidur.
'Siapa yang membuka tirai jendela ini? Padahal, semalam aku menutupnya? Apa jangan-jangan, ada angin besar?' gumamnya dalam hati. 'Ah, sudahlah, abaikan saja tirai itu. Sekarang, aku harus mandi dan menyiapkan sarapan pagi untuk suamiku."
Riska menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan di balik pintu kamar istrinya yang terbuka sedikit, terlihat Hilman yang sedang memantaunya.
Melihat istrinya sudah bangun dari tidurnya, Hilman langsung turun ke dapur dan membuatkan sarapan pagi ala chef Hilman.
'Karena semalam, Riska sangat menyukai makananku. Maka hari ini, aku akan memasaknya sedikit banyak. Aku juga penasaran, seperti apa makanan buatanku, hehehe!" ucapnya kemudian mencium aroma wangi masakannya, "Aromanya wangi sekali," sambungnya.
Riska bergegas menyelesaikan ritual mandinya dan turun ke bawah.
Tiba-tiba di saat dirinya sedang menuruni tangga, Riska mencium aroma masakan.
"Siapa yang masak?" gumamnya sembari mempercepat langkahnya.
Setelah sampai di lantai bawah, Riska berlari menuju dapur dan alangkah terkejutnya saat dia melihat suaminya yang sedang berkutat di dapur.
__ADS_1
"Astaga!" pekiknya membuat Hilman menatap ke arahnya.
Hilman terkejut mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa?" tanyanya memastikan.
Riska menggelengkan kepalanya sembari menarik ke dua sudut bibirnya ke atas. "Tidak apa-apa, Mas. Maafkan suaraku tadi." ucapnya, 'Kenapa Mas Hilman masak lagi?' batinnya.
"Siapkan kopi hangat untukku." titah Hilman mematikan kompornya dan menyajikan masakan buatannya di atas piring.
"Iy-iya, Mas. Ini kamu yang masak?" tanya Riska basa basi. "Kenapa banyak sekali dan dapat bahan-bahan dari mana? Bukankah di rumah--"
"Apa gunanya ponsel, ha? Cukup klik, pesan lalu antar. Siapkan kopi hangat saja. Setelah itu, kita makan bersama." potongnya.
Riska membuatkan kopi hangat suaminya sembari bertanya-tanya dalam hati.
'Bagaimana rasa masakan itu? Dan kenapa Mas Hilman masak begitu banyak?' ucapnya dalam hati saat menuangkan air hangat dari termos dan karena melamun memikirkan makanan buatan suaminya, tanpa sadar cangkir kopi itu yang sudah terisi penuh tak sengaja menyiram tangan Riska.
"Aw ...." pekiknya.
"Kenapa?" tanya Hilman saat mendengar teriakkan istrinya.
"Tanganku terkena air panas, tapi aku tidak apa-apa, Mas." jawab Riska meletakkan termos dan melihat seluruh jemari tangannya yang merah.
"Tidak perlu, Mas. Kopimu belum--"
"Jangan pikirkan kopi, pikirkan saja dirimu. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan mu." jawab Hilman menarik kursi ke arah istrinya. "Duduk saja!"
Riska menjatuhkan pantatnya sembari meniup-niup tangannya yang memerah.
"Huh, huh, huh, sakit sekali."
Hilman mengambil kotak P3K.
"Ulurkan tanganmu!" titahnya membuat Riska mengulurkan tangannya.
Dengan perlahan juga hati-hati, Hilman mengoleskan salep di seluruh jemari istrinya.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanyanya yang fokus mengobati luka istrinya.
"Aku melamun, Mas," jawab Riska jujur.
"Lain kali, jangan melamun di saat mengerjakan sesuatu."
"Iya, Mas. Maaf, aku memang salah." jawab Riska memejamkan matanya saat dirinya merasakan sakit.
__ADS_1
"Tahan, tidak akan lama." titah Hilman.
"Tapi sakit, Mas." jawab Riska.
"Sedikit rasa sakit saja. Memangnya, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai kamu tidak menyadari air panas itu mengenai tanganmu." tanya Hilman penasaran.
"Aku sedang memikirkan, jam berapa aku ke kantormu. Dan apa nanti aku di sambut dengan baik, atau sebaliknya." jawabnya berbohong.
"Tidak ada yang berani menyambutmu dengan buruk. Atau kamu ingin, aku mengumpulkan semua staff kantor untuk menyambutmu, Hem?" goda Hilman.
"Mas, aku serius." kesal Riska.
"Aku juga serius. Untuk apa aku berbohong, Hem?" jawabnya, "Sudah selesai."
"Terimakasih, Mas. Rasa sakitnya sudah reda." jawab Risma.
Hilman menganggukkan kepalanya sembari membereskan peralatannya.
"Aku ambilkan kamu makan dan aku suapi!" ucap Hilman yang mendapat gelengan dari istrinya.
"Tidak perlu, Mas. Aku masih bisa makan sendiri." cegahnya.
"Aku tidak butuh bantahan!"
"Ta-tapi, Mas, Aku--"
"Stop! Jangan membantahku, aku sudah masak banyak hari ini. Dan aku tidak mau melihatmu kesusahan makan." ketus Hilman.
"Tapi, Mas, aku--"
"Menolak artinya hukuman." ancam Hilman.
'Hukuman? Baiklah, aku patuh tapi bagaimana dengan rasa masakan Mas Hilman? Aduh jangan sampai aku ketahuan berbohong karena rasa masakan yang semalam. Bisa-bisa Mas Hilman kecewa padaku.' batinnya.
"Aku siapkan sarapan pagimu, dulu. Beruntung aku memasak banyak pagi ini. Jadi, kamu tidak perlu bersusah payah memasak untuk malam hari." titah Hilman.
"Kamu sudah mencicipi masakan mu sendiri, Mas?" tanya Riska ragu.
"Menurutmu?" tanya balik Hilman.
'Aku rasa, makanan ini mempunyai rasa yang sama seperti makanan semalam. Hanya beda menu saja.' batin Riska.
"Buka mulutmu," titah Hilman membuat Riska membuka mulut.
"Bagaimana, enak?" tanyanya lagi setelah makanan itu masuk ke dalam mulut istrinya.
__ADS_1