Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 8


__ADS_3

"Kamu percaya kalau aku tidak akan tinggal diam, kan? Kamu tidak perlu takut, ada aku yang selalu menjagamu, Hel!" sambungnya lagi.


Mendengar ucapan istrinya, tanpa sadar ke dua sudut bibir Hilman tertarik ke atas mengukir senyum sinisnya.


'Dia benar-benar tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh. Aku harus membuat istriku sadar.' gumamnya dalam hati.


"Kamu ke ruanganmu dan tenangkan dirimu. Untuk urusan Mas Hilman, biar aku yang mengurusnya, okeh?" titah Riska.


'Untuk sekarang, aku memang tidak bisa mendapatkan hatimu, Mas, tapi aku yakin ... suatu saat, aku bisa merebutmu dari Riska. Yang pantas menjadi istrimu itu aku bukan Riska, wanita miskin yang sedari dulu menggantungkan hidupnya padamu.' batin Rachel kemudian berjalan keluar ruangan.


Setelah melihat kepergian sahabatnya, Riska berjalan tiga langkah ke arah sang suami.


"Mas, aku mohon ... dia sahabatku sekaligus karyawan di kantormu. Jangan memperlakukan Rachel seperti tadi. Aku tahu, aku yang memintamu untuk memperkejakan Rachel, tapi jangan bersikap kasar padanya. Kalau dia salah, kamu bisa tegur aku," ucap Riska.


"Menegurmu? Menegur karena kesalahan orang lain? Aku bukan pria pengecut! Aku tidak pernah melihat siapa orang itu atau jabatannya. Jika dia salah, aku akan bertindak sendiri tanpa merepotkan orang lain."


"Tapi caramu salah, Mas. Kamu hampir saja menampar Rachel. Atasan tidak boleh bermain tangan kepada bawahannya." ucap Riska frustrasi.


"Apa kamu tahu kesalahan wanita itu, sampai-sampai kamu membela nya, hem?" tanya Hilman menjatuhkan pantatnya di kursi kerjanya.


"Aku tahu, Mas. Bukankah tadi di rumah, kamu bilang kalau Rachel kurang menguasai beberapa materi pekerjaannya. Dan mas Hilman memintaku untuk mengajarinya. Maka sudah jelas kalau pertengkaran kalian karena Rachel yang--"


"Dia menggodaku." potong Hilman.


Riska terpaku sesaat setelah mendengar pengakuan suaminya.


"Hahaha ... Mas, cukup! Tidak mungkin Rachel menggoda Mas Hilman. Aku tahu sikap dan karakter Rachel, dia sahabatku. Jangan mencoba-coba mengadu dombaku dengan sahabatku sendiri." kekeh Riska.

__ADS_1


"Aku mengatakan yang sejujurnya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa katakan sendiri pada orangnya. Untuk apa aku berbohong, tapi aku yakin ... sahabatmu itu tidak akan mengakui kesalahannya."


"Tapi tidak mungkin Rachel menggodamu, Mas. Kalau dia menggodamu, kenapa sedari dulu, sebelum kamu menikah denganku, Rachel tidak--"


"Aku tidak menyukainya, mana mungkin aku menerima cintanya." ketus Hilman. "Sekarang, masuklah ke kamar. Aku harus bekerja." titah Hilman.


"Kita belum selesai bicara, Mas. Aku tidak tahu hubunganmu dengan Rachel di masalalu. Dan aku juga tidak percaya, kalau Rachel menggodamu. Tapi jika semua yang kamu ucapkan benar, kenapa kamu tidak mau menikahinya? Untuk urusan cinta, menurutku itu tidak penting. Lebih baik di cintai dari pada mencintai, Mas. Seperti pernikahan kita yang tidak ada kata cinta, bukankah itu sangat memberatkan ke dua pihak? Setidaknya--"


"Masuklah, atau aku beri hukuman." ancam Hilman membuat Riska mendengus kesal.


"Aku mau ke ruangan Rachel. Pasti sekarang dia sedang sedih dan aku ingin menghiburnya." titah Riska.


"Aku tidak mengizinkanmu. Kembali ke kamar atau temani aku di sini. Patuhu semua perintahku atau aku putus biaya pengobatan ayahmu yang koma." ancamnya lagi.


Akhirnya Riska berjalan menuju sofa sembari mengumpat suaminya dalam hati. 'Aku tidak bisa membangkang karena ini menyangkut kesehatan Ayah.' gumam dalam hati.


Hilman membaca berkas yang di berikan sekertarisnya, Rachel. Lagi dan lagi, Hilman marah karena kerja Rachel yang tidak benar. Di lemparkan dua berkas itu ke lantai.


"Aku menghargainya karena dia sahabatmu, tapi jika pekerjaannya tidak beres dan acak-acakan, aku pun marah. Aku menggajinya dan aku ingin dia memberikan hasil kerja kerasnya yang terbaik juga." gumamnya. "Lihatlah pekerjaannya. Apa di sekolah, dia tidak di ajarkan menghitung! Aku memintanya untuk menghitung semua pengeluaran proyek yang di desa, tapi apa yang dia lakukan? Dia mengetik ulang tanpa menghitungnya. Aku rasa pekerjaan sekertaris tidak cocok untuknya. Aku akan pindahkan dia di bagian OB atau cleaning servis. Pekerjaan itu sangat cocok untuknya."


Riska berjalan memunguti berkas dan membacanya. Apa yang dikatakan suaminya memang benar, pekerjaan sahabatnya memang tidak benar. Selain tidak di hitung pengeluaran dana, Riska juga melihat beberapa typo penulisan yang salah.


'Rachel memang salah, tapi aku tidak tega jika dia di pindahkan ke bagian OB.' batinnya lalu melihat suaminya menggenggam telfon genggamnya.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Riska memastikan.


"Menurutmu? Bukankah sudah jelas apa yang aku katakan tadi? Aku mau memindahkan sahabatmu itu ke bagian--"

__ADS_1


"Jangan, Mas!" mohon Riska berjalan menuju suaminya. "Aku mohon, jangan pindahkan Rachel ke bagian OB, Mas. Aku yakin, dia tidak sengaja melakukan ini. Aku mohon, Mas." pintanya sembari menggenggam tangan Hilman.


"Dia tidak pantas menjadi sekertarisku. Aku akan cari sekertaris yang lebih pantas dan profesional."


"Aku mohon, Mas. Selama ini, kamu selalu menuruti semua permintaanku, kan? Dan aku mohon, jangan turunkan jabatan Rachel. Biar aku yang menegurnya. Aku tidak mau kehilangan sahabat sepertinya." pintanya lagi.


"Perusahaanku perusahaan besar dan aku menggaji semua karyawan untuk bekerja mengembangkan perusahaan bukan untuk bermain-main. Kali ini, aku tidak bisa memberinya kesempatan." ketus Hilman beranjak dari tempat duduknya.


"Mas, aku mohon, jangan turunkan jabatan Rachel. Aku berjanji, aku akan menuruti semua permintaanmu asalkan kamu mau menuruti permintaanku yang satu ini. Aku akan patuh, Mas. Aku janji." rayu nya lagi.


"Mas, aku tidak punya teman selain Rachel dan Nilla. Kamu tahu sendiri, semua teman-temanku pergi karena mereka menganggapku simpananmu, pria dewasa yang selalu berada di sisiku, pria dewasa yang selalu mengawasiku. Hanya mereka yang mau berteman denganku. Aku butuh teman, Mas." pintanya memohon.


"Dia musuhmu. Ganti saja dengan Nilla. Aku yakin, dia lebih berpengalaman dan tidak bermuka dua." tawar Hilman.


"Tidak bisa, Nilla sudah bekerja. Dan Rachel sangat membutuhkan pekerjaan ini. Dia sedang di terpa banyak masalah. Jangan turunkan jabatan Rachel, aku mohon, Mas. Tolong kamu kabulkan permintaanku." mohon Riska mengatupkan ke dua tangannya di daddda.


Hati Hilman luluh saat melihat wajah istrinya yang sedih.


"Ikut aku!" titah Hilman kemudian menyambar kunci mobilnya dan pergi keluar ruangan.


Riska memakai maskernya dan berjalan mengikuti suaminya.


Di ruang sekertaris, Rachel melihat pria incaran pergi bersama sahabatnya.


"Kira-kira mereka pergi kemana?" gumam Rachel menatap kepergian Riska dan Hilman.


Hilman masuk ke dalam lift di susul oleh istrinya di belakangnya.

__ADS_1


Setelah pintu lift tertutup, Riska mencoba bertanya.


"Sebenarnya, kita mau kemana, Mas? Apa kamu mau menghukum ku?" tanyanya dengan ragu.


__ADS_2