
Deg!
Riska terpaku saat merasakan masakan suaminya.
"Ke-kenapa rasanya beda sekali?" ucapnya tanpa sadar.
"Beda? Memangnya, apa yang beda dari makananku?" tanya Hilman membuat Riska menggelengkan kepalanya.
"Ti-tidak, Mas. Aku hanya--"
"Enak, tidak?" tanyanya yang memotong ucapan istrinya.
"I-iya, ini enak sekali, Mas. Aku tidak percaya, kalau kamu bisa masak seenak ini." jawabnya jujur, 'Ini benar-benar enak, tidak seperti masakan yang semalam.'
"Aku sudah tahu kalau masakanku enak. Bukankah semalam kamu sudah merasakan masakanku? Hanya saja, semalam, aku bingung membedakan mana gula dan garam, tapi sekarang aku sudah bisa membedakannya." jawab Hilman menyuapkan istrinya lagi.
"Pantas saja." jawab Riska keceplosan.
"Pantas saja?" gumam Hilman. "Apa semalam, masakanku tidak enak?"
"Bukan seperti itu, Mas. Aku salah bicara." jawabnya.
"Aku butuh jawaban jujur darimu. Apa semalam makananku bermasalah? Jika iya, katakan saja! Aku tidak mau ada yang kamu sembunyikan dariku!" tegas Hilman.
Riska menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sedikit, Mas! Asin, heheh!" jawabnya.
Bukan kesal atau marah, Hilman malah terkekeh saat melihat eskpresi istrinya yang menggemaskan.
"Kenapa tertawa, Mas?" tanya Riska.
"Memangnya aku tidak boleh tertawa?"
"Iya, boleh saja, kamu tertawa, tapi reaksimu yang seperti ini sangat di luar pikiranku. Aku pikir, kamu marah mendengar jawabanku yang jujur." ujar Riska.
"Tidak akan. Makanlah!" titah Hilman.
Riska mengangguk dan menerima suapan dari suaminya sampai tak terasa makanan yang berada di piring sudah pindah ke perut Riska.
"Makasih, Mas." ucapnya.
"Hem. Istirahatlah, aku harus pergi!" pamit Hilman.
__ADS_1
"Tapi kamu belum makan, Mas? Lebih baik, kamu makan dulu. Tidak baik, menyetir dalam keadaan lapar." titah Riska. "Aku ambilkan ya? Lagi pula, masakanmu benar-benar enak, aku tidak berbohong!"
"Aku sudah telat!" jawabnya.
"Tapi, Mas, aku--"
"Mau melawanku?" ancam Hilman menatap tajam wajah istrinya.
"Aku tidak takut! Kamu tunggu di sini. Aku ambilkan roti."
"Tidak perlu, Riska!" kesal Hilman walaupun di dalam hati bahagia.
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu beli roti, kan? Aku melihat satu bungkus roti, tadi?" tanya Riska dengan ekor mata yang berlarian mencari satu bungkus roti.
"Iya, tapi aku siapkan roti itu untukmu sewaktu-waktu kelaparan jika tidak ada aku di sini." jawab Hilman menunjuk ke arah laci rak meja paling atas.
Riska membuka laci meja paling atas dan melihat satu bungkus roti.
"Bawalah, sebagai gantinya, aku akan memasak untukmu, Mas!" titah Riska memasukkan sebungkus roti berukuran kecil itu ke dalam saku jas suaminya. "Aku janji, sebelum jam makan siang, aku akan datang!" sambungnya lagi.
Hilman menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah. Oh, iya, satu hal lagi."
"Apa, Mas?"
Riska mengangguk, saat melihat ketulusan suaminya dari sorot matanya. "Aku sudah memaafkanmu, Mas. Aku juga minta maaf, karena selama ini aku selalu berpikir buruk tentangmu."
"Buruk? Memangnya, apa yang kamu pikirkan tentangku?" tanya Hilman.
"Tidak, Mas." jawab Riska.
"Katakan saja, aku tidak akan marah. Hitung-hitung, ini awal pertemanan kita setelah menikah. Dan jangan takut padaku. Ceritakan saja!" titah Hilman yang penasaran.
"Em ... kamu yakin, kalau aku ceritakan semuanya, kamu tidak akan marah padaku, Mas? Dan tidak akan menghukumku?" tanyanya penuh keraguan.
"Sudah aku bilang, aku minta maaf karena membuatmu takut, tapi untuk masalah hukuman, sebenarnya aku hanya bercanda. Katakan saja, apa isi hatimu tentangku."
"Apa ya ... aku berpikir dulu!" jawabnya lalu pura-pura berpikir.
"Cepatlah!" titah Hilman yang mulai kesal.
"Em ... aku selalu berpikir kalau kamu orang yang jahat, Mas! Aku pikir, kamu orang yang selalu memanfaatkan kekurangan seseorang demi tercapainya tujuanmu, Mas! Contohnya seperti menikah. Kamu dan ibu mendesakku supaya aku mau menikah denganmu."
__ADS_1
"Kamu menyesal menikah denganku? Katakan saja sejujurnya." ujar Hilman.
Riska menatap wajah suaminya sekilas. 'Kalau aku bilang, awalnya aku menyesal, apa Mas Hilman akan berubah kasar lagi padaku? Walaupun sekarang, aku mulai nyaman menjadi istrinya.' gumamnya dalam hati.
"Kalau menyesal atau tidak menyesal aku tidak tahu, Mas! Karena aku yakin, ada hikmah di balik pernikahan ini dan aku tahu hikmahnya, Mas." jawab Riska tersenyum. "Aku bisa menyelamatkan ayahku dan memastikan orang tuaku tidak kekurangan, menurutku semua itu hikmah di balik pernikahan kita, Mas. Jadi, mau sebenci apapun aku padamu, aku tetap berterimakasih padamu. Berkatmu, ayahku bisa menjalani pengobatan, dan ibuku bisa tersenyum bahagia."
"Itu artinya, kamu tidak menyesal menikah denganku?" tanya Hilman dengan menaik turunkan alisnya.
Riska terkekeh saat melihat ekspresi wajah suaminya. "Kenapa, Mas?" ucapnya.
"Kita buka lembaran baru ya? Kalau kita belum bisa menerima pernikahan ini, setidaknya kita bisa menjadi teman yang baik." pinta Hilman tiba-tiba.
"Kamu yakin, Mas?" tanya Riska tak percaya, "Aku pikir, kamu mau menceraikanku karena sikapku yang keras kepala."
"Perceraian akan membuat orang yang tidak menyukai kita tersenyum bahagia. Daripada kita bercerai, lebih baik kita berteman." sarannya.
"Kalau kamu yakin, aku juga yakin, Mas. Mulai sekarang kita berteman!" jawab Riska mengulurkan tangannya.
Hilman menerima uluran tangan istrinya. "Okeh. Sekarang, aku akan membebaskanmu. Kamu boleh melakukan apapun sesuka hatimu, tapi jangan pernah berpikir untuk kabur."
"Aku setuju, tapi Mas Hilman harus berjanji padaku, hilangkan kata hukuman di kamusmu, Mas." ujar Riska di setujui oleh Hilman.
"Aku setuju," jawabnya. 'Selangkah lebih dekat dengannya!' batinnya.
'Semoga saja, ini awal yang baik untuk hatiku.' gumam Riska dalam hati.
Setelah cukup lama mengobrol, kini Hilman berpamitan kepada istrinya untuk pergi bekerja.
Riska pun mengantarkan Hilman sampai teras depan rumahnya.
"Kita teman, Mas!" ucapnya.
"Iya," jawab Hilman lalu masuk ke dalam mobil.
Riska masuk ke dalam rumah setelah melihat mobilnya yang dikendarai suaminya menghilang dari halaman rumahnya.
Hatinya berbunga-bunga dan tak segan-segan Riska menari menuju dapur.
"Aku tidak bermimpi kan? Aku dan Mas Hilman bisa akur seperti pasangan suami istri walaupun kita hanya sebatas teman." ucapnya tak percaya.
Sedangkan di dalam mobil, Hilman tersenyum bahagia sembari menyetel musik.
__ADS_1
"Hari ini, hari paling bersejarah bagiku! Aku harus merayakan hari bersejarah ini. Em ... bagaimana kalau aku ajak Riska dinner? Tapi aku harus merahasiakan semua ini dari wanita yang bernama Rachel! Aku tidak mau, acaraku berantakan karena wanita iblis itu!" gumamnya lalu merogoh saku celana mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu restoran termewah di kota.
"Aku yakin, Riska suka dengan kejutan ini!" gumamnya.