Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 9


__ADS_3

"Lihat saja, nanti. Jika kamu terus melawanku, aku akan menghukummu. Aku akan ambil semua hak ku yang ada di tubuhmu. Jadi, jangan macam-macam denganku." ketus Hilman membuat Riska terdiam.


Ting!


Pintu lift terbuka, Hilman mengulurkan tangannya ke arah sang istri.


Tak ingin mengecewakan suami di depan umum. Riska pun menerima uluran tangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata.


Hilman menggandeng sang istri keluar lift, mereka berjalan bersama-sama.


Riska menundukkan kepalanya karena tak ingin semua karyawan suaminya melihat wajahnya yang kesal.


"Jangan tatap lantai terus." ucap Hilman sembari menunggu mobil yang di bawakan oleh security kantornya.


"Aku tidak mau mereka melihat wajahku yang masam, Mas." jawabnya.


Melihat mobilnya sudah terparkir mulus di depan lobby, Hilman langsung merangkul pundak sang istri dan tak lupa dia membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Riska masuk dan menjatuhkan pantatnya di bangku samping kemudi.


"Kita pulang kan, Mas?" tanya Riska lagi saat mobil itu berjalan keluar gerbang kantor.


"Kita ke supermarket," jawab Hilman.


"Iya, Mas."


Hening, keadaan di mobil menjadi hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar di telinga mereka berdua.


Sesekali Hilman melirik sekilas wanita di sampingnya yang sedang melamun.


Sedangkan Riska, wanita itu mulai bosan dengan keadaan di dalam mobil. Sesekali dia menguap.


"Tidurlah," titah Hilman membuat Riska menatapnya sesaat.


"Tidak bisa." jawab Riska menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. 'Aku takut, kalau aku tidur, mas Hilman melakukan apa yang seharusnya tidak di lakukan, tapi aku ngantuk.' batin Riska yang lagi dan lagi menguap.


Perlahan mata Riska memejam karena tak bisa menahan rasa kantuknya lebih lama lagi.

__ADS_1


Hilman tersenyum tipis saat mendengar suara napas teratur istrinya.


"Dia bilang, dia tidak bisa tidur, tapi belum ada lima menit bicara, dia sudah tidur. Hal seperti ini yang membuatku tertarik padamu, Ris." gumamnya lirih.


Setelah cukup lama mobilnya membelah jalanan ibukota. Kini mobil yang dikendarai Hilman sudah terparkir mulus di parkiran bawah tanah Mall terbesar di kota Jakarta.


Mesin mobil sudah di matikan. Seatbelt yang melingkar pun sudah terlepas.


"Rupanya, tidurmu sangat lelap. Aku jadi tidak tega membangunkannya." gumamnya sembari membelai wajah istrinya. "Bahkan sentuuhan tanganku saja tidak menggangu tidurmu. Aku tidak mungkin membangunkan tidurmu ini. Sebaiknya, aku menunggumu terbangun." sambungnya lagi.


Setengah jam berlalu, Hilman masih setia menunggu sang istri yang tertidur pulas. Di saat Hilman tengah memandang kagum kecantikan istrinya dari dekat, tiba-tiba ponselnya bergetar membuatnya sedikit kesal.


Tanpa melihat nama si penelepon, Hilman langsung mengangkatnya.


Di sebrang sana, Rachel tersenyum bahagia setelah telfonnya tersambung dengan pria idamannya.


"Hallo Mas," sapa Rachel membuat Hilman menarik ponselnya dan memastikan nama si penelepon.


'Wanita ini memang licik. Di depan Riska, dia seperti wanita polos dan lugu, tapi di belakang Riska, dia sangat busuk.' batin Hilman kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya lagi.


"Kau tahu, aku siapa? Aku ini atasanmu, dan kau tidak perlu menghubungi atasanmu dengan--"


"Aku tidak butuh kau!" ketus Hilman mengakhiri panggilannya.


Riska terbangun saat mendengar nada ketus suaminya yang sangat dekat dengannya.


Melihat istrinya terbangun, Hilman menarik tubuhnya dan berpura-pura memainkan ponselnya.


"Mas," panggil Riska, "Kita sudah sampai?"


"Baguslah, akhirnya kamu bangun juga. Cepat turun!" titah Hilman membuka pintu mobilnya di ikuti oleh Riska.


'Sudah berapa menit aku tertidur? Apa Mas Hilman sengaja menungguku bangun atau kita baru saja sampai?' gumam Riska bertanya-tanya dalam hati.


Setelah keluar dari mobil, Hilman meminta sang istri menggunakan maskernya dan Riska pun mematuhinya.


Mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam Mall.

__ADS_1


Riska menatap seluruh sudut Mall yang ramai. "Ini pertama kalinya aku ke Mall dengan status yang berbeda." gumamnya yang dapat di dengar oleh Hilman.


Hilman menatap sekilas wajah istrinya. "Beli apa pun yang kamu inginkan." titahnya yang mendapat gelengan dari Riska.


"Tidak, Mas. Barang-barang yang kamu berikan untukmu masih banyak. Aku ikut denganmu karena orang tua serta sahabatku, Mas." jawab Riska.


"Baiklah, kita belanja beberapa bahan pokok makanan, dan perlengkapan bayi." titah Hilman kemudian mencari toko perlengkapan bayi terlengkap.


"Perlengkapan bayi?" gumam Riska kebingungan, "Memangnya, untuk siapa, Mas?" tanyanya lagi.


Hilman tidak menjawab, dia berjalan dan memilih puluhan baju bayi yang berkualitas, tak lupa dia mengambil beberapa popok bayi membuat Riska menganga. Pasalnya dia belum pernah melihat suaminya memborong semua pakaian bayi. Terlintas pikiran suaminya mempunyai selingkuhan di belakangnya.


'Apa semua barang-barang ini akan di berikan ke selingkuhan Mas Hilman? Tidak mungkin Mas Hilman membeli perlengkapan bayi untukku. Apalagi kita berdua tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Aaaa ... semua ini bukan urusanmu, Riska. Mau Mas Hilman mempunyai selingkuhan atau tidak, itu tidak penting. Pernikahan kalian hanya pernikahan terpaksa. Jadi, tidak menutup kemungkinan kalau Mas Hilman mempunyai anak dari selingkuhannya, tapi aku tidak sanggup melihat kebahagiaan mereka. Sebaiknya, aku minta antarkan pulang saja.' batinnya.


Melihat istrinya melamun, Hilman segera menarik tangan sang istri.


"Kita pergi berbelanja bahan pokok makanan." titah Hilman sembari menenteng tiga paper bag berukuran besar.


"Mas, biar aku bantu." tawar Riska.


"Bantulah aku mencari bahan pokok saja." jawab Hilman.


"Untuk selingkuhan Mas Hilman ya?" tebak Riska tiba-tiba yang menghentikan langkah kaki Hilman.


Melihat suaminya diam, Riska seketika tersenyum, "Ti-tidak Mas, aku bercanda, tapi kalau ucapanku benar. Aku bersyukur, akhirnya kamu bisa menemukan wanita pujaanmu. Pasti aku duri di antara rumah tangga kalian ya? Setelah ini, antarkan aku pulang, ya."


'Jadi, Riska mengira kalau semua barang yang aku beli, untuk selingkuhanku? Tapi biar saja dia berpikir seperti itu.' batin Hilman.


"Mas," panggil Riska membuyarkan lamunan Hilman.


"Jangan banyak bertanya. Kita masuk dan cari bahan pokok sebanyak mungkin." titah Hilman menitipkan barang belanjaannya dan masuk ke dalam supermarket.


Riska mengambil beberapa kantong beras, minyak, roti, dan lainnya.


'Kenapa rasanya hambar sekali setelah mengetahui Mas Hilman mempunyai anak dan selingkuhan di belakangku. Padahal, baru beberapa hari kita menikah.' batinnya sembari mengambil mie instan.


Karena tak fokus, mie instan itu jatuh berceceran di lantai membuat Hilman langsung memungutinya.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku, aku tidak sengaja." ucap Riska ikut memunguti mie instan yang jatuh ke lantai karena ulahnya.


"Apa yang kamu pikirkan?"


__ADS_2