Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 18


__ADS_3

"Wanita itu!" tunjuk Bu Siti ke arah Rachel.


Hilman menatap sekertarisnya dengan tatapan tajam.


"Dia mengatakan hal yang tidak pantas di katakan." jawab Ibu panti dengan nada dinginnya.


"Bu, memangnya apa yang dikatakan oleh sahabatku?" kini giliran Riska bicara. "Maafkan perlakuan sahabatku, Bu."


"Dia sudah menghina Rian." ketus Bu Siti.


"Ini salah paham, Bu. Aku tidak pernah menghina Rian. Kalau tidak percaya, ibu bisa tanyakan langsung ke Riska." elak Rachel.


"Iya, Bu. Aku tahu bagaimana sikap sahabatku, Rachel. Ini hanya kesalahpahaman saja. Rachel tidak pernah menghina Rian. Aku dan Mas Hilman baru saja mendengar penjelasan dari Rachel tentang Rian." jawab Riska.


"Kamu tertipu, Ris. Dia bukan sahabat yang baik." ujar Bu Siti.


"Jangan percaya, Ris. Kita sudah lama mengenal dan mana mungkin, aku jahat padamu." timpal Rachel berusaha meyakinkan wanita di sampingnya.


Melihat istrinya terdiam, Hilman langsung meminta Bu Siti untuk masuk ke dalam panti.


"Kita masuk, biarkan dia memilih yang salah!" titah Hilman yang di setujui oleh ibu panti tersebut.


"Ibu," cegah Riska berhasil meraih tangan wanita paruh baya itu.


"Ada apa?"


"Bu, bukannya aku tidak mau percaya, tapi aku tahu bagaimana sikap dan sifat sahabatku. Ini hanya kesalahpahaman saja. Aku mohon, ibu jangan marah padaku atau Rachel." mohon Riska.


"Ibu tidak marah, ibu hanya kecewa dengan sikapmu yang terlalu mempercayai orang lain."


"Tapi dia bukan orang lain untukku. Rachel sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri." jawab Riska, "Atau begini saja, aku panggil Rian dan kita dengarkan penjelasannya."


"Tidak perlu. Aku tidak mau melihat Rian menangis. Kau urusi saja sahabatmu." ketus Hilman menarik tangan ibu panti agar masuk ke dalam panti.


Riska menghembuskan napasnya kasar, "Tolong jangan membuatku bingung." lirihnya.


Rachel tersenyum sinis saat melihat pertengkaran suami istri itu. 'Aku pastikan, pernikahanmu tidak akan bertahan lebih lama lagi.' batinnya.


'Ya, Tuhan, kenapa masalah ini menjadi rumit.' gumam Riska dalam hati.

__ADS_1


Setelah kepergian suami dan ibu panti, Riska langsung menatap wajah Rachel yang terlihat murung.


"Rachel, aku obati kaki mu dulu. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang." titah Riska yang mendapat gelengan kecil dari wanita di hadapannya.


"Tidak perlu, Riska. Lebih baik aku pergi dari tempat ini sekarang juga. Aku tidak mau karena kehadiranku, kamu bertengkar dengan suamimu. Sekali lagi, maafkan aku, ya. Aku merasa bersalah sekali." ucap Rachel beranjak dari tempat duduknya sembari berpura-pura menahan sakit.


"Jangan! Aku tidak mengizinkanmu pergi sebelum lukamu terobati. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu, Chel. Kita obati lukamu dulu, ya! Setelah itu, aku antar kamu pulang." bujuknya.


"Tapi suamimu dan ibu tadi, bagaimana?" tanya Rachel menjatuhkan pantatnya di kursi semula.


"Tidak apa-apa. Jangan memikirkan mereka," jawab Riska dengan senyuman manisnya. "Kamu tunggu di sini ya, aku mau ambil air hangatnya." ucapnya lagi, kemudian berjalan masuk ke dalam dapur.


Rachel tertawa renyah setelah kepergian sahabatnya. "Hahaha ... Riska, Riska, dia benar-benar bodooh. Dia tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh. Tapi aku senang mempunyai teman sepertinya, aku memanfaatkan kepolosannya untuk mendapatkan Mas Hilman." gumamnya.


Riska berlari menuju dapur untuk mengambil wadah dan air hangat. Setelah itu, dia berjalan cepat menuju sahabatnya yang berada di teras depan panti.


Setelah selesai mengompres kaki Rachel, Riska pun menawarkan dirinya untuk mengantar pulang sahabatnya tanpa izin dari suaminya.


"Sekarang, aku antar kamu pulang!" ucapnya sembari mengulurkan tangannya. "Aku bantu!" titahnya lagi.


"Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu lagi." tolak Rachel.


"Pesankan aku taksi online saja. Aku bisa pulang sendiri." pinta Rachel yang di tolak mentah-mentah oleh Riska.


"Aku tidak bisa membiarkanmu pulang menggunakan taksi online."


"Riska, aku mohon ... jangan membuatku semakin merasa bersalah karena sikapmu yang terlalu perhatian padaku. Kamu tidak bisa fokus padaku sementara suamimu marah padamu!" ujar Rachel berpura-pura kesal.


"Aku bisa mengatasi Mas Hilman. Kamu tenang saja, Chel." jawab Riska meyakinkan sahabatnya.


"Please, pesankan aku taksi saja. Biar aku pulang sendiri." mohon Rachel. 'Aku tidak bisa terlalu lama di sini.' batinnya.


"Tapi, Chel--"


"Aku mohon, Riska. Aku janji, setelah sampai rumah, aku beri kabar kamu!" pinta Rachel memotong ucapan sahabatnya.


Riska menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Baiklah, aku pesankan taksi online untukmu, tapi kamu harus janji, setelah sampai di rumah, kamu beri kabar aku!"


"Aku janji, kamu memang sahabat terbaikku, Riska." jawab Rachel merentangkan ke dua tangannya.

__ADS_1


Riska memeluk erat sahabatnya. "Aku beruntung sekali mempunyai sahabat sepertimu."


"Bukan kamu saja, tapi aku juga beruntung mempunyai sahabat sepertimu." jawab Rachel dengan senyum sinisnya.


Riska menarik tubuhnya dan tersenyum pada sahabatnya. "Aku pesankan taksi online dulu, ya!"


"Terimakasih," jawab Rachel.


Sedangkan di dalam panti, terlihat Hilman yang sedang berbicara serius dengan ibu panti.


"Dia selalu membela sahabatnya." ucapnya sembari menatap lurus ke depan.


"Ini tidak baik untuk pernikahanmu. Sebaiknya, kamu jauhkan istrimu dari sahabatnya." jawab Bu Siti.


"Dengan cara apa? Berulang kali, aku berusaha membongkar kebusukan sahabatnya, tapi Riska sama sekali tidak pernah mempercayaiku." ujar Hilman frustrasi. "Aku ingin sekali Riska melihat betapa buruknya sikap sahabatnya itu."


"Ibu akan membantumu, Hilman. Kamu tenang saja." ujar Bu Siti kemudian melihat Riska yang baru saja masuk ke dalam panti. "Istrimu sudah datang, sebaiknya kamu jangan marahi istrimu dulu. Bicaralah dengan baik." titahnya membuat Hilman mencari batang hidung istrinya.


Riska berjalan mencari keberadaan anak kecil yang bernama Rian, tapi belum sempat dirinya bertemu Rian, dia malah melihat suaminya yang sedang menatap ke arahnya.


"Mas Hilman," ucapnya menghampiri sang suami.


"Ibu mau ke dapur dulu. Kalian bisa bicara berdua," titah Bu Siti.


"Tunggu, Bu!" cegah Riska, "Aku minta maaf." sambungnya lagi.


"Untuk apa kamu minta maaf? Kamu tidak salah." jawab ibu panti.


"Aku tahu, ibu kecewa denganku karena sikapku yang terus-menerus membela Rachel, sahabatku." lirihnya menundukkan wajahnya.


"Sudahlah, jangan membahas masalalu. semuanya sudah berakhir. Tapi perlu kamu ingat, Riska. Terkadang orang terdekat kita, adalah musuh kita sendiri. Jangan terlalu dekat apalagi percaya dengan yang namanya sahabat. Belum tentu sahabatmu itu baik di belakangmu."


"Iya, Bu. Sekali lagi maafkan aku." lirih Riska.


"Jangan minta maaf pada ibu saja, tapi minta maaflah kepada suamimu dan Rian."


"Iya, Bu. Sekarang juga, aku cari Rian." jawabnya yang memberanikan diri menatap wajah suaminya.


"Mas Hilman, aku minta maaf!"

__ADS_1


__ADS_2