
"Kenapa diam saja, Mas? Jawab pertanyaanku, apa aku tertipu lagi?" tanya Riska lagi.
"Aku tidak tahu, apa arti ucapanmu. Jadi, untuk apa aku menjawabnya?" jawab Hilman dengan santai.
"Kalau begitu, aku boleh menemui Rachel, Mas? Aku mau membantu apa yang--"
"Masuklah ke kamarmu dan tunggu aku selesai bekerja. Setelah itu, kita pergi." titah Hilman.
"Pergi kemana, Mas? Aku sudah menuruti semua perintahmu, loh! Kedatanganku kemari karena sahabatku yang membutuhkan bantuan dariku. Dan aku ingin membantunya. Aku tidak terpikirkan untuk pergi bersamamu. Kita sudah menikah, tapi pernikahan kita, pernikahan terpaksa, Mas. Kita tidak saling mencintai. Aku bersyukur sekali kamu mau membantu keluargaku dan tidak meminta imbalan apapun yang memberatkan keluargaku. Walaupun sebenarnya, aku tidak kuat di posisi ini, Mas, tapi aku berusaha mengabulkan semua keinginan kalian. Jadi, aku rasa kita tidak bisa seperti pasangan suami istri di luar sana yang selalu menebar kemesraan. Dari pada kamu memintaku mengikutimu, lebih baik kamu izinkan aku untuk bekerja, Mas. Dengan cara bekerja, aku tidak lagi menyusahkanmu." ucap Riska panjang lebar.
Emosi Hilman kembali memuncak saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Tanpa sadar, dia melempar pena yang di pegangnya ke sembarang arah. Sorot matanya memancarkan amarah yang begitu dalam. Suasana di dalam ruangan pun tiba-tiba berubah menjadi mencekam.
Riska lebih memilih diam saat melihat sorot mata suaminya yang tajam.
"Aku minta maaf," ucapnya lirih lalu berlari masuk ke dalam kamar.
Hilman melihat setiap pergerakan istrinya yang berlari ketakutan.
Setelah istrinya masuk ke dalam ruang istirahat, Hilman mencoba meredakan emosinya dengan cara meneguk segelas air dingin yang sudah di sediakan.
'Aku harus sabar menghadapi wanita yang aku cintai.' gumamnya dalam hati.
Di dalam kamar, Riska meletakkan tasnya di tepi kasur. Bayangannya selalu tertuju pada raut wajah emosi suaminya yang menakutkan.
"Kenapa dia begitu menakutkan? Dan kenapa aku harus terjebak dalam ikatan pernikahan bersamanya? Ya, Tuhan, aku takut, aku takut ucapanku menyinggung perasaan Mas Hilman dan Mas Hilman tidak bisa mengendalikan emosinya. Apalagi banyak berita di televisi tentang kekeeerasan dalam rumah tangga. Aku takut Mas Hilman melakukan hal itu padaku." lirih Riska menggigit ujung kuku nya sembari berjalan mondar-mandir.
"Tapi aku tidak bisa berdiam diri dan patuh padanya. Aku harus bebas dari Mas Hilman. Harus!" sambungnya lagi.
__ADS_1
Setelah lelah berpikir, akhirnya Riska tertidur di dalam kamar.
Rachel datang sembari membawa beberapa berkas untuk Hilman.
Biasa, dengan pakaian yang sedikit terbuka dan gaya berjalannya yang genit, Rachel menghampiri Hilman.
"Mas, ini ada beberapa berkas yang belum di tandatangani. Mungkin Mas Hilman lupa," ucap Rachel meletakkan dua berkas di atas meja kerja Hilman.
Rachel melihat sekeliling ruangan yang sepi. Perlahan tangannya mulai menyentuh punggung dan pundak Hilman, membuat Hilman tak nyaman.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku. Tugasmu di sini hanyalah bekerja bukan menggoda atasan." ketus Hilman.
"Kenapa, Mas? Aku tahu, pernikahanmu dengan Riska pernikahan yang terpaksa, kan? Dan seperti yang kamu lihat sendiri, Riska mempunyai sikap yang amat dingin. Dia tidak mungkin melayani suaminya dengan terpaksa. Mungkin, dia--"
"Cukup, jangan hina sahabatmu sendiri. Ingat, karena sahabatmu, kau bisa berada di kantor ini. Sebaiknya, kembali ke ruanganmu dan fokuskan dirimu ke pekerjaanmu. Banyak sekali pekerjaanmu yang tidak beres." ketus Hilman.
"Tapi aku bisa menggantikan posisi Riska, Mas. Dan aku yakin, kamu tidak akan menyesal memilihku."
"Dia ada di sini?" tanyanya. "Wah, aku pikir, dia akan cuek padamu, Mas, tapi ternyata pikiranku salah. Baiklah, aku akan pergi, tapi kamu pikirkan ucapanku matang-matang, Mas. Aku bisa menggantikan posisi Riska. Aku tidak mau, orang tampan dan mapan sepertimu mendapat istri ketus seperti Riska."
"Dalam hitungan ke tiga, kau tidak meninggalkan ruangan ini, maka aku akan me--" ucapan Hilman terhenti saat Rachel mengusap punggung tangan Hilman.
"Aku akan pergi, Mas, tapi pertimbangkan semua tawaranku. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Mas Hilman." ucap Rachel lalu mengedipkan salah satu kelopak matanya.
"Panggil aku Tuan atau Pak Hilman. Ini kantor bukan taman." ketus Hilman.
Di dalam kamar, Riska terbangun saat mendengar suara keributan dari luar kamarnya.
__ADS_1
"Mas Hilman sedang bicara dengan siapa? Kenapa nadanya seperti marah-marah?" gumam Riska sembari menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan menuju pintu.
"Seharusnya, aku yang menjadi istrimu bukan Riska, Mas. Sedari dulu, aku sudah menaruh rasa padamu. Tapi kamu lebih memilih wanita miskin itu." kesal Rachel.
Mendengar istrinya di hina, tanpa sadar tangan Hilman melayang dan hampir menampar wajah wanita di hadapannya, beruntung suara teriakan Riska mampu menghentikan tangan Hilman.
"Mas, apa yang kamu lakukan!" pekik Riska berlari menuju sahabatnya. "Rachel, kamu tidak apa-apa, kan?" ucapnya cemas.
"Aku tidak apa-apa, Ris, terimakasih sudah membelaku." jawab Rachel memeluk tubuh Riska erat.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Maafkan Mas Hilman, ya. Aku akan tegur Mas Hilman." ucap Riska menarik tubuhnya.
"Tidak perlu, dia atasanku. Aku salah dan dia pantas memarahiku. Kalian jangan bertengkar. Aku tidak mau melihat sahabatku bertengkar karenaku." lirih Rachel dengan wajah memelasnya membuat Riska merasa iba.
Riska memegang erat tangan sahabatnya, "Walaupun kamu salah, tapi Mas Hilman tidak pantas menamparmu, Hel. Aku akan tegur!" ucap Riska kemudian menatap wajah suaminya.
"Mas, apa yang kamu lakukan? Rachel karyawan baru di sini. Wajar kalau dia membuat kesalahan. Seharusnya, kamu bisa bimbing dia bukan memarahinya. Dia sahabatku, Mas, sahabat terbaikku."
"Sahabat bermuka dua." sindir Hilman membuat Riska semakin tak terima.
"Jaga ucapanmu. Siapa yang bermuka dua? Rachel? Rachel tidak mungkin bermuka dua. Aku sudah mengenalnya lama, Mas. Yang bermuka dua itu kamu, Mas! Kamu bersikap baik di depan ibuku tapi--"
"Suruh dia pergi dari ruanganku. Aku tidak mau melihat wajahnya." ketus Hilman.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya sudah membuat kesalahan dan--"
"Kamu tidak salah, Hel, Mas Hilman yang salah. Sebaiknya kamu pergi ke ruanganmu. Biar aku yang bicara dengan suamiku." titah Riska meyakinkan sahabatnya yang sedang ber drama.
__ADS_1
'Riska, Riska, dasar wanita bodoh. Kau membela orang yang salah!' ucap Rachel dalam hati. "Tapi, Ris, aku harus minta maaf. Aku tidak mau di pecat dari kantor ini. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."
"Kamu percaya padaku, kan?" tanya Riska memastikan.