
Hujan, tidak semua orang menyukainya karena tetesan airnya yang merugikan orang, tapi hujan bisa membuat diri seseorang merasa tenang karena keindahannya.
Seperti Riska, wanita yang sangat menyukai hujan. Dia tak mengeluh pakaiannya basah karena guyuran air yang begitu deras.
Dan menurut Riska hanya hujanlah yang mau menemaninya di kala sedih.
Airnya yang turun dari langit seperti air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Aku bersyukur, karena aku bisa menikmati air hujan yang segar ini." ucapnya sembari meluruskan kakinya di atas tanah yang sudah basah.
"Terakhir kali, aku merasakan kenikmatan hujan, saat Ayah masih ada di sampingku."
"Jujur aku merindukan moment-moment itu. Berkumpul dengan Ayah dan ibu, lalu tertawa bersama di teras rumah sembari menikmati cemilan dan teh hangat." ucap Riska sembari mendongakkan wajahnya ke langit.
"Ayah, ibu, asal kalian tahu, aku bertahan di sini karena kalian. Sebenarnya, aku tersiksa di sini. Pasti kalau kalian melihatku di sini, kalian akan menangis, tapi aku tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak mau membuat kalian cemas. Apalagi kita butuh uang yang banyak untuk pengobatan Ayah. Kenapa? Kenapa harus Mas Hilman? Kenapa tidak orang lain saja? Sikap lembut Mas Hilman hanya di perlihatkan saat kalian ada saja. Setelah kalian pergi, aku di perlakukan seperti sampah yang tidak berharga. Hanya karena aku membela Rachel, Mas Hilman memberiku hukuman yang berat. Aku capek, Bu, Yah, aku tidak kuat jika di teruskan lagi. Ingin rasanya aku kabur dari tempat terkutuk ini, tapi aku tidak bisa. Bahkan sekarang, menurutku ... Kematianlah akhir yang baik untuk hidupku. Aku tidak kuat, Yah, Bu, hiks ... hiks ...." ucapnya dengan tersenyum.
Hilman terpaku saat mendengar semua keluh kesah istrinya. Lagi dan lagi, dia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menderita.
"Maaf!" hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Hilman. "Maaf, aku memang jahat."
Riska mengusap wajahnya yang basah, tak sengaja dirinya melihat bayangan seseorang yang bersembunyi di balik tembok.
Deg!
'I-itu bayangan Mas Hilman, bukan? Kalau benar, Mas Hilman ada di sini, apa Mas Hilman mendengar semua yang aku ucapkan? Kalau benar, apa dia marah dan menambah hukumanku lagi?' batinnya langsung berdiri membuang rumput yang sudah di cabutnya ke dalam tempat sampah.
Hilman menghapus air matanya yang hampir saja menetes, dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan mengurungkan niatnya memberikan payung kepada istrinya.
Di saat Hilman keluar persembunyiannya, tiba-tiba dia mata Hilman bertemu dengan mata Riska. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Sadar dengan sikapnya, Riska langsung memalingkan pandangannya.
"Ma-maaf, Mas." ucapnya.
"Hem," jawab Hilman dengan perasaan malu nya. 'Ah, sial! Kenapa dia bisa tahu aku di sini.' umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Tak ingin menambah masalah, Riska memutar tubuhnya dan berjalan menuju rerumputan lagi.
"Hei," panggil Hilman membuat Riska menoleh ke arahnya.
"I-iya, Mas?" jawab Riska ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan, ha?" tanya Hilman.
"A-aku mencabut rumput, Mas." jawab Riska polos. 'Semoga saja, Mas Hilman tidak mendengar umpatanku!' batinnya.
"Menurutmu, mataku bermasalah, ha? Aku juga tahu, kamu mencabut rumput, tapi apa yang kamu lakukan!" kesalnya.
'Apa jawabanku salah? Aku menjawab sesuai pertanyaannya.' batin Riska kebingungan.
'Ssial! Kenapa mulutku tidak bisa bicara dengan jelas,' geram Hilman dalam hati yang berusaha menutupi sikap geroginya. "Hei, kenapa diam saja!" ucapnya lagi.
"Aku sudah menjawabnya, Mas." jawab Riska membuat Hilman menghembuskan napasnya kasar.
"Apa yang kamu lakukan, Riska? Di luar sedang hujan, kamu bisa menyelesaikan hukumanmu membersihkan seisi rumah dulu, kan?" ucap Hilman yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Tidak, Mas. Kalau aku membersihkan seisi rumah lebih dulu, pasti akan memakan waktu yang lama. Aku juga takut membersihkan halaman samping rumah malam-malam. Maka dari itu, aku bertekad membersihkan samping rumah lebih dulu." jawab Riska yang tanpa sadar membuat Hilman tersenyum.
'Mas Hilman pasti sedang menertawakanku dari dalam hati.' batinnya.
"Masuklah!" titah Hilman kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Riska terpaku saat mendengar perintah suaminya. 'Hukuman apalagi yang akan aku dapatkan.' batinnya.
"Masuk!" titah Hilman lagi membuat Riska berlari menyusul suaminya masuk ke dala rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah. Hilman meminta istrinya untuk duduk di kursi meja makan.
"Duduk!" titah Hilman, "Dan jangan kemana-mana!" sambungnya lagi.
Riska menjatuhkan pantatnya di kursi sembari menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh. "Kira-kira Mas Hilman mau ngapain?" ucapnya kebingungan.
__ADS_1
Hilman berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil satu buah handuk, lalu turun memberikan handuk tersebut kepada istrinya.
"Mandilah di kamar mandi bawah dekat dapur!" titahnya sembari meletakkan handuk yang di bawanya di atas meja.
Riska mengambil handuk tersebut, "Terimakasih, Mas." ucapnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Hilman menjatuhkan pantatnya saat melihat istrinya pergi meninggalkannya.
'Aku tidak boleh membuatnya ketakutan.' gumamnya dalam hati.
Di dalam kamar mandi, Riska meletakkan handuk di atas wastafel.
"Sebenarnya, dia Mas Hilman bukan sih? Kenapa sikapnya berubah? Apa jangan-jangan Mas Hilman mempunyai rencana lain?" ucapnya berpikir, "Daripada aku memikirkan sikap Mas Hilman, sebaiknya aku mandi. Lama kelamaan tubuhku menggigil." sambungnya lagi.
Hilman menyiapkan teh hangat untuk istrinya dan meletakkannya di atas meja makan. Tak lupa, dia menyiapkan sup ayam hangat untuk istrinya yang kelaparan.
Setelah selesai menyiapkan makan malam untuk istrinya, dia dapat melihat pintu kamar mandi yang terbuka.
Setelah keluar dari kamar mandi, Riska mencium aroma wangi masakan yang membuat perutnya terus berbunyi.
Tak di sangka, dirinya melihat suaminya sedang menatapnya.
"Makanlah!" titah Hilman yang sudah duduk.
"Ta-tapi aku masih menggenakan handuk, Mas." jawab Riska dengan sikap bingungnya.
"Makan saja dulu, setelah itu pakai pakaianmu. Sup dan teh ini masih hangat dan cocok untukmu yang baru saja bermain air." titah Hilman menggeser kursi sampingnya menggunakan kaki.
Dengan rasa ragu, Riska berjalan lalu menjatuhkan pantatnya di kursi yang sudah di siapkan oleh suaminya.
"Terimakasih, mas." jawabnya canggung.
"Makanlah!" titah Hilman.
'Apa benar ini Mas Hilman? Atau jangan-jangan dia makhluk halus yang menjelma menjadi Mas Hilman? Atau jangan-jangan Mas Hilman sudah memasukkan racun ke dalam makanan ini?' tuduh Riska dalam hati.
__ADS_1
"Cepat makan!" titah Hilman tak sabar. 'Aku yakin, Riska akan memuji masakanku yang enak.' batinnya.
Riska mengambil sendok dan mengambil kuah dari sup. 'Ya, Tuhan, kalau benar, makanan ini sudah tercampur racun, aku mohon ... terimalah aku di sisimu.' batinnya