Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 12


__ADS_3

"Om Hilman sedang berbunga-bunga!" pekiknya lagi membuat Hilman berlari mengejarnya.


Rian berlari ke arah Riska dan bersembunyi di balik tubuhnya.


"Tan, Om Hilman jahil. Tolong aku, Tan! Aku tidak mau di sentil!" rengeknya membuat Hilman menggelengkan kepalanya.


"Dia tidak benar. Dia yang mulai duluan." jawab Hilman yang membela dirinya sendiri.


"Aku? Om Hilman yang sangat tampan. Mana mungkin aku memulai duluan. Kata ibu, kita harus menghargai orang yang lebih tua." jawab Rian.


"Berikan anak itu padaku!" titah Hilman pada sang istri.


"Tidak, Mas. Kasihan Rian." jawab Riska.


"Kamu tidak tahu apa yang dilakukan Rian padaku. Maka dari itu, berikan dia padaku." titah Hilman lagi.


"Memangnya, apa yang Rian lakukan padamu, Mas?" tanya Riksa membuat Hilman terdiam.


'Aku tidak mungkin mengatakan, kalau anak itu menggodaku dan mempergokiku sedang memandangmu dari kejauhan.' batin Hilman.


"Kamu tidak bisa mengatakannya, kan? Itu artinya, kamu yang salah, Mas!"


"Tan, aku tahu kenapa Om Hilman diam. Apa Tante mau aku ceritakan?" goda Rian menaik turunkan alisnya.


Hilman melototkan matanya seakan memberi kode untuk Rian diam.


Mendapat kode dari Om nya, Rian pun semakin tertarik untuk menggoda.


"Tan, mau tidak?" tanyanya lagi.


Riska tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Jangan bilang, Om Hilman menceritakan kisahnya yang buruk, kemudian kamu--"


"Tidak, Tan. Om Hilman tidak pernah menceritakan kehidupannya, tapi tadi, aku tidak sengaja melihat Om Hilman sedang--" ucapan Rian terhenti saat mendengar deheman dari Hilman.


"Ekhem!"

__ADS_1


"Aku lapar, daripada kita mendengarkan cerita anak kecil yang belum tentu benar. Sebaiknya, kita makan. Pasti banyak anak-anak lainnya yang sudah menunggu kita." titah Hilman yang tak lepas menatap Rian.


"Apa yang dikatakan Hilman benar, sebaiknya kita makan malam saja. Kasihan anak-anak yang lain sudah menunggu kita." titah ibu Siti.


"Ya, sudah." jawab Riska pasrah, "Ayo, Rian. Kita makan malam. Setelah itu, kamu harus tidur." titah Riska.


Rian melambaikan tangannya meminta Riska mendekatkan wajahnya ke arahnya.


Riska patuh, dia mendekatkan wajahnya ke arah anak kecil yang ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku memergoki Om Hilman sedang memandang Tante!" bisiknya membuat seketika Riska terdiam.


"Ayo! Kenapa kalian diam saja!" titah Hilman.


"Iya, Om!" pekik Rian berlari menuju meja makan.


Riska tersadar dari lamunannya dan melihat anak kecil yang berada di depannya sudah menghilang entah kemana.


'Apa yang dikatakan Rian? Dia bilang, kalau dia memergoki Mas Hilman sedang memandangku. Apa arti dari memandang? Atau jangan-jangan dia mempunyai rencana yang tidak aku ketahui?' gumamnya dalam hati.


"Cepat, setelah makan malam, kita pulang!" titah Hilman.


"Mas, kamu yang benar, dong! Malu tahu di lihat semua anak-anak. Pasti mereka pikir, kita sedang bertengkar." kesal Riska yang di abaikan suaminya.


"Ayo anak-anak kita makan malam. Ibu sudah membuatkan beberapa menu makanan. Kalian bisa ambil sendiri dan jangan berebut, ya!" titah Bu Siti membuat semua anak-anak antusias mengantri untuk mendapatkan makan malamnya.


Hati Riska terasa adem saat melihat anak-anak itu tertawa bahagia.


'Ternyata Mas Hilman pernah merasakan hal seperti ini. Makan harus mengantri, tidur berdesak-desakan dengan anak lain. Seharusnya aku bisa jauh lebih bersyukur walaupun sekarang aku seperti tahanan, tapi Mas Hilman tetap memperlakukanku dengan lembut. Ya, sesekali dia suka mengancamku, bukan sesekali tapi setiap hari dia mengancamku.' gerutunya dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Hilman saat melihat istrinya melamun.


"Tidak, Mas. Aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya bahagia melihat mereka bahagia. Andai, aku tahu, kamu akan membawaku ke tempat ini, pasti aku akan borong semua apa yang ada di Mall." jawab Riska berbisik.


Hilman tersenyum tipis, "Aku takut, kamu tidak suka dengan tempat seperti ini." ucapnya.

__ADS_1


"Tidak suka?" ujar Riska menatap wajah suaminya, "Kenapa tidak suka? Justru aku suka sekali, Mas. Aku merasa, aku seperti mempunyai keluarga baru. Kamu tahu sendirikan, di rumah tidak ada siapa-siapa selain kamu. Tidak mungkin juga aku menceritakan semua keluh kesah ku padamu. Kita tidak akrab, Mas." lirih Riska.


"Kita bisa jadi teman, kalau kamu belum bisa menganggapku sebagai suamimu." tawar Hilman.


Riska tak percaya saat mendengar ucapan suaminya. "Kamu ngomong apa sih, Mas!"


"Aku?" ujar Hilman menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu ada-ada saja. Kamu ini bukan temanku, kamu ini suamiku. Walaupun pernikahan kita terpaksa, tapi kamu tetap suamiku, Mas. Sudahlah, Mas, daripada kamu bicara tidak jelas. Lebih baik, kita makan saja. Mau aku ambilkan makan malam? Jangan terlalu percaya diri, Mas. Aku menghargaimu di depan banyak orang." ucap Riska mengedipkan salah satu kelopak matanya.


"Satu piring untuk berdua. Aku tidak napsu makan." jawab Hilman berjalan menuju anak-anak panti yang sedang menyantap makan malamnya di lantai beralas karpet.


'Satu piring untuk berdua? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah, hal itu sangat romantis? Apa ini rencana Mas Hilman. Dia mau memperlihatkan ke Bu Siti kalau dirinya bahagia dengan cara makan satu piring untuk berdua?' gumam Riska dalam hati.


Setelah mengambil makan malamnya. Riska berjalan dan duduk di samping suaminya.


"Ini, Mas, sesuai pesanan mu. Satu piring berdua, tapi sendoknya tetap dua." ucap Riska.


Hilman mengambil makanannya dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Kalian tidak mau menginap di sini? Kebetulan di sini banyak kamar kosong." tanya Bu Siti.


"Tidak, Bu. Aku dan Mas Hilman tidak mungkin merepotkan ibu." jawab Riska dengan senyum manisnya. 'Kalau aku menginap di sini, itu artinya aku akan tidur satu ranjang dengannya? Oh, tidak, aku belum siap. Aku takut, Mas Hilman melakukan hal di luar nalarku.' gumamnya dalam hati.


"Itu ide yang bagus. Kebetulan besok weekend. Dan aku ingin menghabiskan waktu weekend ku bersama anak-anak." jawab Hilman membuat Riska terkejut.


"Mas, apa yang kamu ucapkan. Kita tidak mungkin merepotkan Bu Siti." tekan Riska.


"Siapa yang merepotkan? Sebagai wanita sekaligus istri yang baik. Seharusnya, kamu bantu Bu Siti." jawab Hilman dengan santai.


"Ya, sudah. Ibu akan siapkan kamar untuk kalian setelah selesai makan malam." ujar Bu Siti.


"Dua kamar atau satu kamar, Bu?" tanya Riska tiba-tiba.


"Satu kamar saja, kan?" jawab Bu Siti.

__ADS_1


"Oh, iya, Bu, satu kamar. Terimakasih, Bu." ujar Riska. 'Satu kamar? Aku akan satu kamar dengan Mas Hilman? Wah, moment yang tidak pernah aku bayangkan! Aku harus berjaga-jaga. Aku akan pasang semua bantal demi mempertahankan kehormatanku.' batinnya.


__ADS_2