Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 16


__ADS_3

Riska mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu, tapi aku senang sekali Mas Hilman membawaku kemari. Aku berasa seperti mempunyai keluarga baru di sini." jawabnya, 'Aku tidak boleh membocorkan identitas Mas Hilman ke rachel.' batinnya.


"Oh, aku pikir, ada acara khusus." ucap Rachel tersenyum.


"Kamu duduk sini dulu, ya! Aku mau ambil air hangat untuk mengompres kakimu." titah Riska meminta sahabatnya duduk di teras panti.


Rachel mengangguk dan menatap sekitar panti. 'Mas Hilman kemana?'


Sedangkan di dalam panti, Hilman menarik tangan istrinya. "Aku tidak suka dia ada di sini." ketusnya.


"Mas, setelah aku mengobatinya, aku akan mengantarkannya pulang. Kamu tidak perlu khawatir." jawab Riska meyakinkan suaminya.


"Urusi saja wanita berhati ibliis itu. Aku tidak tahu dengan isi otakmu. Sudah aku bilang, dia bukan wanita baik-baik. Dia hanya parasit yang ingin merebut apa yang kamu punya!"


"Aku tidak percaya, Mas. Aku yang lebih mengenalnya di banding kamu. Tolong kamu hargai dia sebagai sahabatku, Mas. Buang rasa tidak sukamu. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan orang-orang yang berada di sekitarmu. Seharusnya, kamu bisa bersikap sepertiku." kesal Riska lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Hilman mengepalkan tangannya erat dan berjalan menuju kamarnya.


Di teras panti, melihat ekor mata wanita yang berkeliaran memandang tempat tinggalnya, Rian pun langsung menghampirinya dengan membawa satu buah bola bermainnya.


"Tante ini, Tante tidak tahu diiri kan?" tanya Rian memastikan.


Rachel menarik ke dua alisnya saat mendengar pertanyaan anak kecil di hadapannya.


"Siapa yang tidak tahu diiri?" tanyanya tak terima.


"Tante lah, masa aku. Namaku kan Rian bukan tidak tahu diiri." jawab Rian sembari memainkan bolanya. "Untuk apa Tante di sini? Dan kenapa mata Tante berkeliaran seperti sedang mencari sesuatu?" tanyanya lagi.


Rachel melambaikan tangannya meminta Rian semakin mendekat ke arahnya.


Mengerti gerak tubuh wanita di hadapannya, Rian pun berjalan satu langkah lebih dekat.


"Ada apa, Tan?" tanyanya dengan polos.

__ADS_1


"Apa kamu mengenal Mas Hilman dan Riska?" tanya Rachel lirih.


"Aku kenal. Memangnya kenapa?" tanya Rian balik.


'Anak kecil ini kenal dengan mereka. Sepertinya, ada yang mereka tutupi dariku. Aku harus cari tahu apa yang mereka tutup-tutupi dariku.' gumam Rachel dalam hati.


"Tan, Tante melamun?" titah Rian menyadarkan lamunan Rachel.


"Tidak, Tante tidak melamun. Oh, iya, kenapa kamu bisa kenal dengan Mas Hilman dan Riska? Sebenarnya, apa hubungan kalian?"


"Tante kepo, ya?" jawab Rian tertawa. "Kalau Tante kepo, Tante bisa tanyakan langsung ke Om Hilman dan Tante Riska, tidak perlu bertanya padaku. Karena aku masih kecil dan aku tidak tahu yang di maksud hubungan. Ya, sudah, aku mau main dulu atau perlu aku tanyakan ke Tante Riska tentang pertanyaan Tante tadi?" tanya Rian yang mendapat gelengan kepala dari Rachel.


"Tidak perlu. Aku bisa tanya sendiri." jawabnya ketus.


"Hahahaha ... Tante marah." kekeh Rian membuat Rachel semakin tersulut emosi.


"Siapa yang marah, ha! Pergilah, dasar anak kecil tidak tahu diri. Pantas anak kecil sepertimu di telantarkan. Pasti orang tua mu menyesal telah melahirkanmu." ketus Rachel menyinggung perasaan Rian.


Rian menangis setelah mendengar ucapan Rachel.


Rachel kebingungan saat mendengar tangis anak kecil yang baru saja di hiina nya.


"Hei, kenapa menangis? Jangan menangis di sini, dong! Menangislah di tempat lain. Aku tidak mau, Mas Hilman atau yang lainnya datang lalu menuduhku yang tidak benar." ujar Rachel.


"Hiks ... hiks ... Tante jahat, Tante bilang kalau aku di telantarkan dan orang tuaku menyesal karena melahirkan anak sepertiku. Memangnya, aku salah apa, Tan? Aku tidak pernah nakal dan aku selalu membantu teman-temanku yang kesulitan." jawab Rian sembari menangis.


"Ya, sudah, aku minta maaf, tapi bisakah kau pergi dari hadapanku. Aku tidak mau Mas Hilman mendengar suara tangisanmu." usir Rachel.


"Tidak mau, aku tidak mau pergi dari sini. Ini rumahku, dan yang seharusnya pergi itu Tante bukan aku!" pekik Rian.


Rachel menutup telinganya, "Hust, jangan keras-keras. Semua orang bisa tahu, kalau kamu nangis."


"Hiks ... hiks ... biarkan saja. Tante jahat!" ketusnya.

__ADS_1


'Aduh, bagaimana ini. Aku tidak mau, tangis anak kecil ini membuat Mas Hilman semakin ilfill padaku,' gumamnya dalam hati. "Em ... bagaimana kalau aku beri kamu uang, tapi sebagai gantinya kamu berhenti menangis, bagaimana?" tawar Rachel sembari mengeluarkan dompetnya dari tas kecil.


"Tidak mau," tolak Rian.


"Lalu, kamu mau nya apa, hem?" tanya Rachel sembari melihat situasi panti asuhan yang sepi. "Jangan menangis lagi, dong!" sambungnya lagi.


Riska yang tengah menunggu air mendidih pun langsung berlari saat mendengar suara tangis yang tak asing di telinganya.


'Itu seperti suara rian.' gumamnya dalam hati.


Hilman berlari keluar panti. "Apa yang terjadi? Dan kenapa kamu menangis?" tanyanya saat melihat salah satu anak panti menangis. "Katakan, siapa yang membuatmu menangis." tanyanya lagi.


Rian menunjuk ke arah Rachel. "Om, Tante itu jahat." ucapnya.


Rachel menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar. Aku tidak jahat." elaknya.


"Tante itu jahat, Om. Dia yang membuatku menangis."


"Bukan, Mas. Mana mungkin aku membuat anak kecil menangis. Memangnya aku tidak punya kerjaan lain?" elak Rachel lagi.


Hilman mensejajarkan tubuhnya dengan Rian sembari mengusap rambut pendek Rian dengan lembut.


"Apa yang terjadi? Coba ceritakan kepada Om. Tante ini bersikap kasar dengan Rian sampai Rian menangis, Hem?" tanya Hilman halus.


Rachel terpaku saat mendengar nada lembut dari pria yang di sukainya.


'Mas Hilman, baru pertama kali ini, aku mendengar suaramu yang lembut. Ingin rasanya hatiku melayang terbang tinggi.' gumamnya dalam hati.


"Om, Tante itu mengatakan, kalau aku anak yang di telantarkan dan orang tuaku menyesal karena sudah melahirkanku. Memangnya, aku tidak pantas lahir, Om, hiks ... hiks ...."


"Benar-benar keterlaluan." geram Hilman kemudian meminta Rian masuk ke dalam panti. "Masuklah ke dalam. Biar Om yang mengusir Tante ini." titahnya.


"Iya, om. Aku juga tidak suka melihat Tante ini di sini." jawab Rian lalu masuk ke dalam panti.

__ADS_1


Rachel menggelengkan kepalanya saat melihat tatapan tajam dari pria di hadapannya. "Mas, kamu salah paham. Anak kecil itu yang menjebakku. Dia sedang mengadu domba kita. Mana mungkin, aku berbicara seperti itu di depan anak kecil yang tidak berdosa." ucap Rachel meyakinkan Hilman.


"Apa aku bisa percaya seratus persen padamu setelah mendengar ucapan yang keluar dari anak kecil itu, ha!" pekik Hilman mengejutkan Riska.


__ADS_2