
Setelah sampai di kantornya. Hilman segera menelfon sang istri, tapi lagi dan lagi niatnya di urungkan karena melihat Rachel yang datang ke ruangannya.
"Ketuklah pintu! Semua orang mempunyai privasi masing-masing!" sindir Hilman.
"Maaf, Mas, tapi aku takut kamu masih marah padaku. Aku minta maaf atas kejadian kemarin, ya? Aku benar-benar menyesal." lirih Rachel.
"Jika tidak ada urusan, kau bisa pergi dari sini!" usir Hilman mengeluarkan ponselnya dan melihat wallpaper ponselnya foto sang istri yang diam-diam dia potret.
Tak sengaja Rachel melihat wallpaper ponsel Hilman. "Mas, kamu menyukai Riska?" tanya Rachel syok.
"Dia istriku. Bukankah sepasang suami istri harus saling menyukai, menyayangi dan mencintai? Jadi, jangan pernah berpikir kalau aku dan Riska akan berceraai, atau jangan pernah berpikir kau bisa menggantikan posisi Riska di rumahku. Ingat, itu!"
"Ta-tapi, Mas. Sedari dulu, aku yang menyukaimu bukan Riska. Seharusnya, kamu menikah denganku, Mas! Kamu percaya kalau cintaku lebih besar dari Riska, kan?"
"Aku tidak perduli. Kau bisa pergi dari ruanganku!" usir Hilman.
Dengan rasa kecewa, Rachel berjalan keluar ruangan. Setelah berada di luar ruangan, Rachel meremmaas jemarinya erat.
'Kamu itu milikku, Mas, bukan milik Riska ataupun wanita lain. Jadi, mau tidak mau, aku harus bertindak kasar kepadamu, Riska.' batinnya.
Sedangkan di sisi lain. Riska menyiapkan bahan makanan yang akan di masaknya. Beberapa sayuran, sosis, nugget, dan bumbu dapur lainnya sudah berada di atas meja dan siap di jadikan beberapa makanan lezat.
"Semoga saja, makanan kesukaanku bisa menjadi makanan kesukaan Mas Hilman. Dan semoga saja, apa yang dikatakan Mas Hilman tentang Rachel itu tidak benar. Rachel sahabatku, dan aku berusaha mempercayainya." ucapnya sambil menyalakan kompornya.
Setelah selesai memasak dan menyiapkan bekal untuk suaminya. Riska bergegas berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sopan.
"Perfect!" ucapnya saat melihat penampilan dirinya.
Riska melirik sekilas jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
"Sudah jam 10 pagi. Sebaiknya aku cepat-cepat antarkan makan siang ini ke Mas Hilman jangan sampai aku datang terlambat, kasihan Mas Hilman!" gumamnya kemudian berlari keluar kamar dan menuruni satu persatu anak tangga.
Sampai di lantai dasar, Riska mengambil makanan yang sudah di siapkan dan dia menyempatkan diri untuk merapikan penampilannya di kaca etalase yang berada di dekatnya.
"Em ... sudah rapih!" gumamnya kemudian berjalan menuju pintu utama rumahnya.
Setelah keluar dari gerbang rumahnya. Riska merasa ponselnya yang bergetar.
__ADS_1
"Mas Hilman? Kenapa Mas Hilman menelfonku? Apa jangan-jangan ada sesuatu yang tertinggal?" lirihnya menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga. "Hallo, Mas?" ucapnya setelah tersambung dengan suaminya.
"Ada di mana?" tanya Hilman dari seberang sana.
"Di depan rumah mau ke kantormu. Memangnya kenapa? Apa ada yang tertinggal?" tanya balik Riska.
Hilman berpikir sejenak saat mendengar jawaban sang istri.
"Hallo, Mas? Kamu mendengarkanku, kan?" tanyanya memastikan.
"Hem, berhati-hatilah. Hubungi aku jika ada sesuatu di jalan." titah Hilman.
"Iya, Mas. Ya, sudah, aku matikan telfonnya. Sampai bertemu kawan!" jawab Riska kemudian mengakhiri panggilannya.
Hilman meletakkan ponselnya di atas meja. "Kawan? Kenapa sekarang aku membenci kata 'Kawan'? Tapi sudahlah, lagi pula aku yang memulainya dengan kata-kata itu. Jadi, aku harus menerima dipanggilnya dengan sebutan kawan."
Riska menghentikan taksi yang lewat. "Pak, antarkan aku ke alamat ini, ya!" titahnya memberikan alamat perusahaan suaminya.
"Baik, Bu." jawab supir taksi
Tak membutuhkan waktu lama untuk taksi yang di tumpanginya Riska sampai di depan lobby kantor milik suaminya.
"Aku harus memikirkan cara ampuh agar mereka berpisah. Aku tidak bisa menggunakan cara lemah lembut lagi, bisa-bisa mereka saling jatuh cinta dan pupus sudah harapanku mendapatkan Mas Hilman." ucapnya berjalan mondar-mandir.
10 menit berjalan mondar-mandir, akhirnya terlintas beberapa cara di otaknya untuk memisahkan Riska dengan Hilman.
"Em ... aku bisa gunakan cara ini." ucapnya meraih cermin dan merapikan make up nya.
Setelah selesai merapikan penampilannya. Rachel bergegas menuju ruangan Hilman.
Dan Hilman pun terkejut saat melihat kedatangan Rachel yang terlihat berbeda dengan make up yang tebal.
"Mas Hilman, aku mau bicara empat mata denganmu!" pinta Rachel melenggak-lenggok tubuhnya di depan atasannya itu.
Hilman berusaha menutupi rasa syoknya dari Rachel dengan cara berpura-pura fokus bekerja.
"Mas, aku mohon ... kita perlu bicara empat mata!"
__ADS_1
"Tidak ada yang dibicarakan lagi. Kembalilah bekerja dan perbaiki make up mu, itu! Aku tidak mau seseorang melihat penampilanmu yang menor itu!" ketus Hilman.
"Aku melakukan semua ini demi kamu, Mas!" ucap Rachel. "Riska tidak pantas menjadi istrimu. Yang pantas menjadi istrimu itu, aku! Kita sudah berteman lama dan aku menyukaimu sedari dulu!" sambungnya.
Deg!
Jantung Riska terasa berhenti berdetak saat mendengar pengakuan dari sahabatnya sendiri.
'Ja-jadi apa yang dikatakan Mas Hilman benar, kalau Rachel menyukainya?' gumamnya dalam hati yang syok.
"Mas, buka hatimu untukku. Dan aku pastikan, kamu tidak akan menyesal jika menerimaku."
"Maaf, aku sudah mempunyai istri dan istriku adalah sahabatmu sendiri. Seharusnya kau malu kepada istriku." ucap Hilman.
"Untuk apa aku malu, Mas? Sebenarnya apa hebatnya Riska di matamu, Mas? Dia sama sekali tidak bisa dibanggakan atau di unggulkan. Lihat saja, semasa sekolahnya, dia selalu merepotkan dan memeras uangmu untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya. Aku merasa iba padamu. Tidak seharusnya, kamu menikahi wanita sepertinya." kesal Rachel.
'Jadi ini sifatmu yang sebenarnya, Chel? Kamu menjelek-jelekkan aku di depan suamiku sendiri? Padahal selama ini, aku selalu membelamu di depan suamiku. Aku benar-benar kecewa padamu!' ucap Riska dalam hati.
Tok ...
Tok ....
Riska memberanikan mengetuk pintu ruangan suaminya yang terbuka lalu masuk ke dalamnya.
Rachel terkejut saat melihat Riska datang ke kantor sembari menenteng kotak makanan.
"Riska, sejak kapan kamu--"
"Aku sudah tahu semuanya dan aku kecewa denganmu, Chel!" ucap Riska meletakkan kotak makanan yang di bawanya. "Sekarang, kamu pergi dari ruangan suamiku atau aku pecat kamu!" sambungnya.
"Riska, ini hanya kesalahpahaman saja. Aku bisa jelaskan. Semua yang kamu dengar itu--"
"Cukup, Chel! Aku tidak percaya lagi denganmu." pekik Riska. "Pergilah dan kembalilah bekerja." titahnya.
"Ta-tapi, Ris, aku minta maaf, aku--"
"Jika kau mendengarkan perintah istriku, maka patuhilah atau hari ini hari terakhirmu bekerja di kantorku!" ancam Hilman.
__ADS_1
'Siaal, wanita itu memang penghambat bagiku! Awas saja, nanti!' geram Rachel dalam hati.