
"Pecat Rachel dari kantor, Mas? A-aku tidak bisa. Aku tidak mau menyakiti hati sahabatku sendiri." tolak Riska.
"Baiklah, kalau itu keputusanmmu, itu artinya kamu sudah siap mendapat hukuman yang lebih sakit dari ini." ancam Hilman.
"Ma-mas, aku mohon ... aku tidak mungkin memecat sahabatku sendiri. Apalagi, aku melihatnya sangat senang bekerja di perusahaanmu. Aku mohon, jangan berikan pilihan yang berat." pinta Riska memohon.
Hilman melepas cengkraman tangannya dengan kasar. "Kalau itu keputusanmu, artinya kau lebih memilih hukuman. Setelah kita sampai di rumah, aku akan menghukummu! Untuk kali ini, bersiap-siaplah dengan hukuman yang aku berikan. Tidak ada ampun bagiku lagi." ancam Hilman menarik tangan istrinya keluar dari kamar mereka.
Setelah keluar dari kamar, Hilman mencari keberadaan ibu panti yang sedang berada di dapur.
"Mas, jangan tarik-tarik tanganku. Kamu harus memberi contoh yang baik pada anak-anak." ucap Riska dengan langkah terseok-seok.
"Senyumlah, maka mereka tidak akan berpikir aku melukaimu."
Riska tersenyum saat melihat anak-anak panti yang sedang menatap dirinya dan suaminya.
'Ibu, aku benar-benar membutuhkan sosok mu.' jerit Riska dalam hati.
Setelah sampai di dapur, Hilman melepas genggaman tangannya kasar.
"Hilman, apa yang kamu lakukan pada istrimu, hem? Kau bisa melukainya." ucap ibu panti yang seperti ibu kandung Hilman.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya ibu panti pada Riska.
"Aku baik-baik saja, Bu." jawab Riska dengan senyum manisnya.
"Sekarang aku dan Riska pamit pulang." pamit Hilman.
"Kenapa cepat sekali, hem? Padahal, ibu sedang menyiapkan makan siang untuk kalian semua." jawab ibu panti.
"Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini, Bu. Aku tidak mau ada korban lagi seperti Rian. Maka dari itu, aku mau membawa wanita ini pulang dan mengurungnya di rumah. Akan ku perintahkan wanita ini untuk membersihkan seluruh rumah dalam hitungan jam. Agar dia tahu, bagaimana hukuman yang sesungguhnya. Agar dia tahu, kalau aku tidak main-main." ancamnya.
Riska terkejut saat mendengar semua yang di ucapkan suaminya, dia menggelengkan kepalanya. "Mas, tapi rumah yang kita tempati itu luas sekali. Bahkan untuk membersihkan lantai satu saja memakan banyak waktu apalagi membersihkan semuanya dalam hitungan jam? Kelihatannya, aku tidak sanggup."
__ADS_1
"Dengar, Bu! Dia melawanku lagi. Maka dari itu, aku akan menambah hukumannya untuk membersihkan bagian depan, belakang, samping rumah juga. Aku tidak memperbolehkannya makan sebelum semua pekerjaan selesai!" ketus Hilman yang tidak di benarkan oleh Bu Siti.
"Jangan menyikssa nya. Mau sejahat atau seburuk apapun dia tetap istrimu. Kamu sudah memilih dia menjadi istrimu. Kamu harus menerima semua konsekuensinya." ujar Ibu panti.
"Hem, sekarang kita pamit pulang." ketus Hilman.
Riska mengangguk, "Ibu, tolong sampaikan maafku untuk Rian, ya."
"Ibu akan sampaikan, nak, kamu tidak perlu khawatir. Maafkan Hilman, ya. Ibu akan coba bicara tentang hukuman--"
"Ayo, kita pulang!" ketus Hilman menarik paksa tangan istrinya keluar panti.
Riska menghapus air matanya, "Pelan-pelan, Mas, di luar banyak anak-anak." ucapnya.
Tak ingin mendengar semua ucapan istrinya, Hilman semakin mempercepat langkahnya dan meminta istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Riska masuk ke dalam mobil, Hilman mengusap wajahnya dengan kasar di belakang mobil. 'Argkh! Aku yakin, Riska semakin membenciku karena ucapanku tadi yang tak masuk akal. Mana mungkin, aku memintanya untuk membersihkan rumah sebesar itu seorang diri. Aku hanya menggertaknya saja, tapi karena dirinya terus melawan, membuatku tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri.' gumamnya dalam hati yang kemudian berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Riska menatap bangunan panti dari dalam mobil. Bangunan itu semakin lama semakin tak terlihat karena mobil yang di tumpanginya sudah berjalan menjauhi panti.
Hilman menatap sekilas istrinya yang sedang melamun. 'Pasti dia terbebani dengan apa yang aku ucapkan, tadi. Seharusnya, aku tidak perlu mengucapkan semua itu.' batinnya.
Setelah mobil yang dikendarai Hilman membelah jalanan ibu kota. Akhirnya kini, mobil itu terparkir mulus di depan halaman rumah Hilman yang cukup luas dan mewah.
Lagi dan lagi, Riska menelan salivanya. Bayangan dirinya membersihkan rumah seperti istana itu mulai terlintas di otaknya.
"Cepat turun dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan!" titah Hilman keluar dari mobil di ikuti oleh Riska.
Riska berjalan dan masuk ke dalam rumah suaminya untuk mengganti pakaiannya sebelum melakukan aktivitas berat dan padatnya.
Hilman masuk ke dalam kamarnya dan bersantai di balkon kamarnya sembari memandang langit yang mulai mendung.
"Kamu harus kuat!" kata-kata itu membuat Hilman melihat bawah.
__ADS_1
Riska menyapu halaman samping rumahnya yang kotor karena daun kering berjatuhan.
Langit yang semakin mendung membuat dirinya tak merasa kepanasan.
Tanpa sadar, air mata keluar dari pelupuk mata Riska, dia benar-benar tersiksa.
'Ayah, cepatlah sadar. Aku bertahan di sini karenamu.' ucapnya dalam hati.
"Aku tidak tega melihatmu melakukan pekerjaan ini, Ris, tapi aku harus konsisten, aku akan melihat cara kerjamu selama beberapa jam agar kamu tahu, kalau ucapanku tidak main-main." ucapnya monolog.
Setengah jam sudah, Hilman memantau setiap gerakan istrinya dari balkon kamarnya.
Tak terasa, setetes demi setetes air hujan mulai mengguyur kota.
"Hujan," gumam Hilman lalu melihat istrinya yang masih berkutat di halaman samping rumahnya. "Kenapa dia tidak masuk dan berteduh? Kenapa dia lebih memilih hujan-hujanan?"
Riska merasakan setetes air hujan itu membasahi rambutnya.
"Hujan," gumamnya. "Aku tidak mungkin berteduh, semua itu akan memakan waktuku." sambungnya lagi melanjutkan pekerjaannya.
"Anak itu benar-benar membuat emosi orang saja. Sudah tahu hujan, tapi masih tetap bekerja." geram Hilman.
'Hujan sampaikan rinduku pada ayahku! Aku benar-benar menginginkannya sadar.' Jeritnya dalam hati.
Hilman berlari keluar kamar dan menuruni tangga mencari payung.
Setelah mendapatkan payung, dia berlari menuju samping rumahnya untuk mengantarkan payung.
Deg!
Hilman melihat istrinya yang sedang bermain hujan dengan bahagia.
"Dia terlihat sangat bahagia, tapi aku mencemaskan kondisinya. Aku tidak mau, dia sakit karena hujan-hujanan." lirihnya.
__ADS_1
"Langit, apa kamu merasakan apa yang aku rasakan? Sampai-sampai kamu mengirim hujan? Terimakasih, sudah mengirim hujan untuk menghiburku." ucap Riska dengan tangan menengadah.
"Apa yang di bicarakan menurutku sangat gila! Tidak mungkin langit tahu apa yang dia rasakan, semua itu hanya kebetulan." ketus Hilman yang sedang bersembunyi di balik tembok.