Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 13


__ADS_3

"Jangan diam saja, nak Riska. Ayo di makan lagi." titah Bu Siti.


"Makanlah, atau mau aku suapi?" goda Hilman.


"Apa-apaan sih, Mas. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu suruh-suruh!" kesal Riska sembari menahan malu.


"Gapapa, Tante. Biar Om Hilman suapi Tante. Lalu Tante suapi Rian." jawab anak kecil yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


Hilman menatap tajam anak kecil yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.


"Diamlah. Makan makananmu saja." kesalnya.


"Ish, Tante, ucapan Om Hilman selalu menyebalkan," keluh Rian.


Riska tersenyum tipis kemudian mengambil alih makanan yang berada di tangan anak kecil berambut kriting itu.


"Tante suapi kamu dulu, ya! Setelah itu, kamu tidur. Anak kecil sepertimu tidak boleh tidur terlalu malam." ucap Riska yang di halangi oleh Hilman.


"Jangan, dia punya tangan sendiri. Aku tidak mau seisi panti memintamu menyuapinya." cegah Hilman menatap raut wajah datar Rian. "Anak kecil, lebih baik kamu--"


"Aku bukan anak kecil, Om. Asal Om tahu, aku bisa panggil Om Hilman dengan sebutan Kakak, tapi aku menghargai Tante cantik ini. Lama kelamaan, aku juga kesal melihat Om Hilman menguasai Tante ini. Aku kan juga mau di sayang, di suapi, di ajak bermain, bercerita dan--" ucapan Rian berhenti sejenak saat melihat ibu panti yang menggelengkan kepalanya.


"Rian, kamu ini masih kecil. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Belum waktunya kamu dewasa. Ibu tidak suka caramu yang tidak menghormati Om Hilman." ucap Bu Siti.


"Iya, Bu. Aku tidak akan banyak bicara lagi. Aku akan diam, Bu!" lirih Rian mengulurkan tangannya sembari menundukkan wajahnya. "Tan, makananku!" ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, Tante suapi kamu, okeh!"


"Tapi, Tan, aku harus menghormati Om Hilman." lirih Rian.


"Biarkan saja. Anak kecil yang satu ini memang pintar bersandiwara." ujar Hilman menyendokkan nasi serta lauknya dan menyodorkan ke istrinya. "Buka mulutmu," titahnya lagi.


Riska tersenyum kecut saat melihat semua anak panti sedang menatapnya.


"Ayo bukak mulut Tante!" teriak salah satu anak panti membuat Riska membuka mulut.


Hilman memasukkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut istrinya tanpa di sadari bahwa sendok yang baru saja masuk ke dalam mulutnya adalah sendok yang di pakai suaminya karena sendoknya sendiri sudah di singkirkan oleh suaminya.


"Tante sudah makan. Sekarang, tinggal kalian makan juga!" titah Riska yang melihat suaminya menyendokkan makanannya.

__ADS_1


'Tu-tunggu, sendokku kemana?' gumamnya dalam hati.


"Tante, Tante bilang mau menyuapiku!" ucap Rian membuat Riska berhenti menghentikan pencarian sendoknya.


"Iya, sekarang buka mulutnya." titah Riska menyodorkan sendok berisi makanan ke dalam mulut anak kecil tersebut.


Karena terlalu asik menyuapi Rian dan merasakan perutnya yang kelaparan, akhirnya Riska mengabaikan sendok bekas siapa yang masuk ke dalam mulutnya.


Setelah selesai menyantap makan malamnya. Semua anak panti langsung masuk ke dalam kamarnya masing-masing, termasuk Bu Siti yang memerintahkan Hilman untuk membawa Riska ke dalam kamar yang sudah di siapkan olehnya.


"Berisitirahatlah. Kalian pasti lelah sudah membantu ibu di panti." titah Bu Siti.


"Iya, Bu." jawab Hilman, "Ikuti aku. Akan ku tunjukkan kamar kita." titahnya lagi.


Riska tersenyum kecut, "Aku pamit berisitirahat ya, Bu. Ibu jangan lupa berisitirahat juga." ucapnya kemudian berjalan mengikuti suaminya.


Setelah cukup jauh dari ibu panti. Riska langsung menghentikan langkah kaki Hilman.


"Tunggu, Mas!"


Langkah kaki Hilman berhenti. "Ada apa?" tanyanya sembari menguap.


"Menurutmu? Bukankah ibu panti sudah bilang, kita satu kamar? Sudahlah, lagian aku ngantuk dan aku tidak ada waktu untuk menyentuuhmu." jawabnya melanjutkan langkahnya.


"M-mas, tunggu dulu!" cegah Riska.


"Apalagi?" kesal Hilman.


"Aku tidak mau--" ucapan Riska terhenti saat melihat Bu Siti berjalan ke arahnya. "Bu, kenapa ibu--"


"Ibu bawakan bantal untuk kalian. Kebetulan di kamar, baru ibu siapkan satu bantal." ujarnya.


"Terimakasih, Bu." jawab Riska mengambil bantal tidur dari tangan Bu Siti. "Ibu kenapa masih di sini? Ibu tidak berisitirahat?" tanya Riska melihat ibu panti itu tetap berdiam diri di hadapannya.


"Masuklah ke kamar. Ibu mau mengecek semua kamar anak-anak." titah Bu Siti.


"Iya, Bu. Aku juga sudah ngantuk." jawab Hilman yang masuk ke dalam kamar.


'Tidak mungkin aku masuk dan tidur dalam satu ranjang.' batinnya.

__ADS_1


"Riska, apa yang kamu pikirkan?" tanya Bu Siti, "Jangan bilang kamu takut tidur satu ranjang dengan suamimu." tebaknya lagi.


"Bukan takut, Bu, tapi sedikit takut!" jawabnya.


"Hahaha ... tidak perlu takut. Masuklah dan temani suamimu. Ibu mau mengecek kamar anak-anak. Ingat, sebagai istri yang baik, kamu harus patuh pada suamimu."


"Iya, Bu, aku patuh." jawab Riska kemudian masuk ke dalam kamar suaminya.


Hilman pura-pura tidur saat melihat istrinya datang.


Riska mengerucutkan bibirnya sembari berjalan menuju suaminya yang sedang tidur.


"Mas, kamu pindah di lantai sanah!" pintanya menggoyangkan lengan suaminya. "Mas, aku serius."


"Hoam, ada apa, ha! Ganggu orang tidur saja!" ketus Hilman merubah posisi tidurnya.


"Mas, aku mau tidur di mana? Aku tidak mungkin tidur satu ranjang bersamamu. Di sini hanya ada dua bantal tidur!" keluhnya.


"Apa hubungannya dengan bantal? Tidurlah, besok pagi kita ajak anak-anak ke pantai."


"Pantai? tapi aku mau tidur di mana? Kalau ada banyak bantal, kita bisa beri pembatas di tengah-tengah, tapi ini hanya ada dua bantal!" keluh Riska lagi.


"Diam, dan tidur di ranjang atau aku putus semua biaya pengobatan ayahmu. Atau, kamu mau kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, hem? Kalau kamu siap, aku akan melakukan--"


"Aku tidur, Mas, tapi jangan lakukan hal itu. Aku sama sekali belum siap." jawabnya merangkak menaiki kasur dan tidur di samping Hilman.


'Mana mungkin tidurku lelap kalau di sampingku ada pria yang-- Jangan terlalu memikirkan hal itu. Percaya, Riska, kalau kamu akan baik-baik saja.' gumamnya dalam hati.


Hilman tersenyum dalam hati saat mendengar suara dengkuran halus dari samping tempat tidurnya.


'Dasar wanita, bilangnya tidak mau, tapi baru beberapa menit menciium kasur, sudah langsung tidur.' batinnya merubah posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Riska.


Perlahan tangan itu melingkar di pinggang istrinya.


Tanpa sadar, Riska yang merasa begitu nyaman berada dalam pelukan suaminya pun meminta tangan sang suami lebih mengeratkan pelukannya lagi.


Dan mereka tertidur dengan saling berpelukan.


Ke esokkan harinya. Riska terbangun saat merasakan kakinya tidak bisa di gerakkan. Matanya membulat sempurna saat melihat satu kaki entah milik siapa berada di atas kakinya.

__ADS_1


"Kaki siapa itu!" pekik Riska mengejutkan Hilman.


__ADS_2