
"Mas, tolong maafkan kesalahanku. Aku tahu, kamu tidak suka dengan cara berpikirku. Tapi bolehkah aku pergi sebentar? Aku butuh--" ucapan Riska terhenti setelah melihat suaminya beranjak dari kasur.
"Bukankah, aku tidak penting bagimu? Kau selalu menentang semua apa yang aku ucapkan di depan sahabatmu itu, bahkan aku tidak boleh memecat wanita bermuka dua itu karena dia sahabatmu. Jadi, kau harus menanggung resikonya." ketus Hilman berjalan menuju balkon kamar di ikuti oleh Riska di belakangnya.
"Aku minta maaf, Mas!" pintanya memohon. "Kamu tahu, aku seperti apa kan, Mas? Kita sudah lama mengenal dan aku hanya tidak ingin mengecewakan sahabatku saja." ucap Riska membuat Hilman menarik salah satu sudut bibirnya.
"Berkemas-kemaslah, setelah itu kita pulang!" titahnya.
"A-aku tidak mau pergi dari panti, Mas. Aku rasa, panti sangat cocok untukku. Dan aku juga belum sempat meminta maaf pada Rian. Aku tidak bisa meninggalkan panti sebelum aku menyelesaikan masalahku." ucap Riska memohon.
Hilman memutar tubuhnya agar menghadap sang istri. Dia memberikan tatapan yang mengejek.
"Kamu takut?" ejek Hilman.
"Ta-takut? Aku takut kenapa, Mas?" jawabnya dengan gugup.
Hilman berjalan memutari tubuh istrinya, "Aku bisa melihat raut wajah ketakutanmu. Jadi, jangan membohongiku!" ucapnya yang penuh penekanan.
"Ma-mas, ta-tapi kenapa aku harus takut? Aku bukan maliing atau pun--"
"Hust!" ujar Hilman menempelkan jemarinya di bibiir sang istri, "Diam, atau hukumanmu akan bertambah." ancamnya yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Ja-jangan, Mas. Aku akan diam, tapi tolong ... jangan tambahkan hukumanku." lirihnya.
"Bagus, aku lebih suka kau diam. Telingaku sakit mendengar suaramu setiap hari." ucap Hilman berjalan menuju ranjang. Di jatuhkan pantatnya di tepi ranjang dengan salah satu kaki di silangkan. "Sekarang, bereskan pakaian kotorku. Setelah itu, kita pulang!"
"Iy-iya, Mas." jawab Riska berlari menuju kamar mandi dan mengambil pakaian kotor miliknya dan milik suaminya.
Melihat istrinya ketakutan, Hilman pun terkekeh. "Baru mendapat tekanan sedikit saja, dia sudah ketakutan. Seharusnya, aku menerapkan sikap kerasku padanya di kesehariannya agar dia tahu, cara menghargai seorang suami itu seperti apa!"
Di dalam kamar mandi. Riska mengerucutkan bibirnya sembari mengambil pakaian kotor suaminya. "Ish, aku tidak suka mempunyai suami seperti Mas Hilman, pria yang suka mengancam dan tidak punya perasaan." gerutunya.
"Masa iya, aku di perlakukan seperti barang yang tidak berharga. Padahal, aku sudah mengakui semua kesalahanku. Seharusnya, dia memaafkanku dan menuruti semua keinginanku bukan malah mengancam menambahkan hukumanku."
Setelah lelah menggerutu, Riska berjalan keluar kamar mandi dan memasukkan pakaian kotor itu ke dalam paper bag.
"Su-sudah, Mas!" ucapnya dengan wajah menunduk.
"Pergi dan bilang pada ibu, kalau kita akan pulang!" titah Hilman mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
__ADS_1
Riska terkejut saat melihat suaminya mengeluarkan satu batang rokok dari bungkusnya. "Mas, kamu rokok?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa? Salah?" tanya balik Hilman dengan sorot mata tajam.
"Ti-tidak, mana mungkin kamu salah. Hanya saja, aku syok saat melihatmu merokok karena setahuku, kamu tipe orang yang selalu menjaga kesehatan tubuhmu." jawab Riska. 'Aku pikir, dia beda dengan pria di luar sana, dan ternyata dia memang berbeda. Dari segi sikap dan sifat serta perilakunya sangat berbeda dengan pria di luar sana. Mas Hilman terlalu jahat dan tidak punya perasaan.' umpatnya dalam hati.
"Jangan mengumpatku. Aku tidak suka!" ketusnya sembari menghisap rokoknya.
Riska menggelengkan kepalanya, "Siapa yang mengumpatmu, Mas?"
"Memangnya aku bodooh!"
"Ti-tidak, kamu tidak boddoh. Kamu pria yang sangat pandai. Tidak ada yang bisa menandingi kepandaianmu termasuk aku." jawab Riska dengan senyum manisnya yang terpaksa.
"Tentu, aku memang pria yang pintar tidak sepertimu, wanita yang selalu berpikir pendek dan menggunakan perasaannya." ejek Hilman membuat Riska tak terima.
"Mas, kamu menghi--" ucapan Riska terhenti saat melihat tatapan tajam suaminya.
"Apa? Lanjutkan pembicaraanmu!" titah Hilman.
"Ti-tidak, aku harus berpamitan dengan ibu dan anak-anak panti." ucap bergegas keluar dari kamarnya.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi, ha! Kemarilah!" titah Hilman membuat Riska tak jadi memutar gagang pintu kamarnya.
"Biarkan saja. Mau aku berubah pikiran atau tidak, itu bukan urusanmu." jawab Hilman melambaikan tangannya. "Mendekatlah!" titahnya lagi.
"Un-untuk apa, Mas?" lirih Riska yang terus berdiam diri di tempat.
"Mendekatlah!" pekik Hilman.
Mendengar nada tinggi dari suaminya, Riska langsung berjalan mendekat ke arah sang suami.
"Su-sudah, Mas." lirihnya.
"Bagus." ucapnya sembari mengusap pucuk kepala sang istri.
'Sebenarnya, Mas Hilman mau berbuat apa padaku? Kenapa dia mengusap-usap rambutku. Aku jadi takut.' gumamnya dalam hati.
"Aku tidak suka di bantah!" ucap Hilman tiba-tiba.
__ADS_1
"Iy-iya, aku tahu, Mas." jawab Riska memundurkan satu langkah dengan hati-hati tanpa ketahuan sang suami.
"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau selalu membantah perintahku. Apa jangan-jangan kau menginginkan hukuman dariku?"
"Ti-tidak, Mas. Maafkan aku, jika selama ini aku selalu membantahmu." jawab Riska yang berusaha memundurkan langkahnya tanpa ketahuan suaminya.
Hilman mencengkram pundak istrinya setelah melihat kaki sang istri bergerak mundur.
"Apa yang kau lakukan?"
"A-aku tidak melakukan apapun, Mas. Memangnya, aku melakukan apa?" tanya balik Riska sembari berusah menutupi ketakutannya.
"Kau menghindariku?" ejek Hilman.
"Ti-tidak. Untuk apa aku menghindarimu, Mas. Ya, sudah, aku capek, Mas. Izinkan aku tidur." pinta Riska membuat Hilman mengeratkan cengkramannya lagi.
"Mas, sakit! Pu-pundakku sakit. Tolong lepaskan tanganmu dari pundakku." pintanya memohon.
"Ini akibatnya jika terus membohongiku!" ketus Hilman.
"Ma-maaf, tapi aku berjanji, aku tidak akan membohongimu lagi. Aku janji, Mas! Tolong pegang janjiku. Pundakku sakit sekali, Mas!" mohon Riska.
"Berjanjilah padaku." titah Hilman.
"Berjanji apa, Mas?"
"Berjanjilah! Cepat berjanji!" pekik Hilman.
"Iy-iya, aku berjanji, Mas." jawab Riska semakin ketakutan.
"Bagus. Sekarang, berjanjilah padaku, kalau kau akan menjadi istri yang baik untukku!" titah Hilman.
'Istri yang baik? Apa arti ucapan Mas Hilman?' gumamnya dalam hati.
"Cepat! Berjanjilah" titah Hilman tak sabar.
"I-iya, Mas. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu. Ta-tapi lepaskan cengkramanmu dulu. Pundakku sakit, Mas!"
"Aku akan memberimu dua pilihan. Hukumanmu bertambah atau biarkan tanganku seperti ini?" titah Hilman.
__ADS_1
"Ja-jangan, Mas. Jangan menambahkan hukumanku lagi, tapi tolong lepaskan tanganmu dari pundakku. Aku berjanji, aku akan menjadi istri yang baik untukmu." pinta Riska memohon.
"Kalau begitu, aku minta ... jauhi Rachel dan pecat dia dari kantor!"