Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 19


__ADS_3

"Masuklah ke kamarmu. Mulai hari ini, aku tidak mengizinkanmu keluar kamar tanpa seizinku." ketus Hilman.


"Ta-tapi, Mas, aku belum minta maaf ke Rian. Aku tidak--"


"MASUK!" pekiknya.


Riska berlari ke kamar setelah mendengar nada tinggi suaminya.


Bu Siti menggelengkan kepalanya, "Jangan bersikap kasar kepada istrimu."


"Aku sedang malas melihat wajahnya." jawab Hilman.


Riska masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar rapat.


Di senderkan tubuhnya di daun pintu. "Mas Hilman benar-benar kelewatan. Dia bersikap kasar di depan ibu panti seolah-olah aku bukan siapa-siapanya. Ibu, aku merindukanmu. Tolong bawa aku, Bu. Aku tidak bisa tinggal dengan suami seperti Mas Hilman, hiks ... hiks ..."


"Temui istrimu dan minta maaflah!" titah Bu Siti.


"Aku akan menemuinya, nanti. Setelah emosiku mereda." jawab Hilman berjalan menuju halaman samping panti.


Beberapa jam kemudian.


Setelah selesai menangis dan tertidur dengan posisi duduk di belakang pintu, tiba-tiba Riska merasakan ponselnya yang bergetar. Tanpa berpikir panjang, Riska mengambil dan melihat nama si penelepon.


"Aku pikir, ibu yang menelfonku, ternyata Rachel." gumamnya yang menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Hallo, Chel?"


"Bagaimana Ris, kamu dan suamimu sudah baikan, kan?" tanya Rachel dari seberang sana.


"Oh, aku dan Mas Hilman baik-baik saja. Bagaimana kondisimu? Kamu sudah sampai rumah dengan selamat kan? Supir taksi itu mengantarkanmu dengan baik kan?" tanya Riska memastikan.


"Aku baik-baik saja, justru aku mencemaskan rumah tangga kalian. Karena mulutku yang tak bisa di atur, kamu dan suamimu bertengkar."


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Aku dan Mas Hilman baik-baik saja." jawab Riska berdiri dan berjalan menuju ranjangnya. "Ya, sudah, kamu istirahat. Maafkan aku, karena mengantarkan pakaianku, kamu jadi kena musibah."


"Tidak apa-apa. Ya, sudah, aku matikan telfonnya dulu, ya! Sampai bertemu besok!" ucap Rachel lalu mengakhiri panggilan telfonnya.


Riska meletakkan ponselnya di atas meja samping ranjangnya.

__ADS_1


"Mas Hilman belum masuk kamar. Apa itu artinya, Mas Hilman benar-benar marah padaku? Apa sikapku membela Rachel terlalu berlebihan? Aku tahu, Rachel salah bicara dan menyinggung perasaan Rian, tapi dia tidak sengaja." gumamnya, kemudian mendengar suara gagang pintu yang bergerak.


Hilman masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang sedang melamun di tepi ranjang.


Karena terlanjur kecewa, Hilman langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Riska hanya menatap punggung suaminya yang mengacuhkannya.


"Apa yang harus aku katakan padanya?" gumam Riska kebingungan.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Hilman terus menatap wajahnya di pantulan cermin yang berada di hadapannya.


"Argkh!" pekiknya yang terdengar sampai telinga Riska.


Riska terkejut saat mendengar teriakkan suaminya. "Ada apa dengannya? Kenapa berteriak-teriak?" gumamnya penasaran.


Riska berjalan menuju kamar mandi. Setelah berada di depan kamar mandi, jemarinya terasa berat untuk mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


"Ketuk tidak?" tanyanya pada diri sendiri. "Kalau tidak aku ketuk, aku takut terjadi sesuatu dengannya, tapi kalau aku ketuk, lalu dia memarahiku, bagaimana? Mendengar teriakkannya saja, aku sudah ketakutan." lirihnya lagi.


Dengan ragu, Riska mengetuk pintu kamar mandi. Beberapa kali, dia memejamkan mata karena ketakutan nya pada sang suami.


Tok ...


Tok ....


"Mas hilman." panggilnya.


Mendengar suara istrinya, seketika Hilman menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


"Pasti dia mendengar teriakanku." gumamnya.


"Mas, kamu baik-baik saja, kan? Aku tidak sengaja mendengar teriakanmu dan aku takut terjadi sesuatu padamu." titah Riska lagi.


20 menit sudah Riska tidak mendapat jawaban dari suaminya membuat Riska berpikir jika terjadi sesuatu di dalam kamar mandi.


'Apa jangan-jangan Mas Hilman jatuh dan dia tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi?" ujarnya yang menerka-nerka. "Aduh, kenapa aku jadi takut seperti ini. Aku takut, di tuduh melakukan kekerasan pada suamiku sendiri. Apa sebaiknya, aku minta bantuan anak-anak panti untuk membuka paksa pintu kamar mandi ini? Iya, sebaiknya aku minta bantuan pada mereka."

__ADS_1


Riska memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Belum sempat dia membuka pintu kamar, tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


"Mas Hilman." panggilnya setelah melihat suaminya keluar dari kamar mandi. "Mas, kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku. Kamu membuatku khawatir saja." sambungnya lagi.


Hilman hanya menatap istrinya dan berjalan menuju ranjangnya.


Riska merasa bersalah saat tidak mendapat respon dari suaminya.


"Mas, aku minta maaf karena sudah membela Rachel." lirihnya yang berdiri tak jauh darinya.


Hilman hanya menatap wajah istrinya sekilas.


"Mas, aku minta maaf, tolong maafkan aku dan Rachel, mas." pintanya lagi.


"Bersiap-siaplah, kita pulang!" titah Hilman kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.


"Mas, tapi aku masih betah di sini. Kita nginap beberapa hari lagi, ya!" ucap Riska memberanikan diri menghampiri suaminya.


Hilman memejamkan matanya dan berpura-pura tertidur.


'Bagaimana ini? Aku tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Aku takut, apalagi Mas Hilman sedang marah dan memberiku hukuman tidak boleh keluar kamar tanpa izin darinya.' keluhnya dalam hati.


'Ini hukumanmu karena tidak patuh dengan suamimu sendiri.' batin Hilman merubah posisi tidurnya menjadi memunggungi istrinya.


Riska menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang. "Mas, aku tahu kamu belum tidur. Tapi kalau aku boleh memberi saran, sebaiknya kita tinggal di sini beberapa hari lagi. Aku tidak mau pertengkaran kita menimbulkan bahaya besar jika kita tinggal berdua di rumah sebesar itu." ucapnya memohon. "Mas, kamu--"


"Diam!" ketus Hilman membuat Riska terdiam.


Hening, situasi kamar menjadi hening sesaat. 'Aku tidak bisa berdiam diri di sini. Aku harus melakukan sesuatu! Tapi apa yang bisa aku lakukan?' ujarnya dalam hati.


Hampir 15 menit, Riska memutar otaknya, tapi dia tidak menemukan sama sekali solusi untuk masalahnya.


'Aku bisa gila. Aku butuh refreshing! Sebaiknya aku pikirkan permintaan maaf ku setelah refreshing.' batin Riska berjalan menuju pintu kamar. "Tapi tunggu dulu, aku lupa kalau aku lagi di hukum tidak boleh keluar kamar tanpa se izinnya. Kira-kira Mas Hilman mengizinkanku pergi tidak, ya? Atau dia sudah tidur? Kalau dia tidur, aku bisa memanfaatkan sedikit kesempatan yang ada. Sebaiknya, aku cek dulu!' gumam dalam hati.


"Mas!" panggil Riska. "Mas, kamu sudah tidur belum? Kalau belum tidur, bisa kita bicara sebentar?" lirihnya yang di abaikan sang suami. "Mas, bisa kita bicara empat mata? titahnya lagi.


Hilman pura-pura menggeliat, "Kau, diam," ketusnya.

__ADS_1


__ADS_2