
Oek ...
Oek ....
Suara beberapa bayi membuat hati Riska tergerak untuk menggendongnya.
"Cup, cup, sayang. Jangan nangis," ucapnya menghapus air mata bayi mungil yang berada dalam gendongannya.
Hilman berjalan ke arah box bayi yang berada di ujung.
Rasanya sangat tenang saat melihat bayi mungil satu ini tertidur.
Setelah menenangkan bayi yang menangis, Riska meletakkan bayi itu ke tempat semula dan berjalan menghampiri suaminya.
"Kenapa dengan bayi itu, Mas?" tanya Riska membuat Hilman menatapnya.
"Tidak ada apa-apa. Bermainlah dengan anak-anak. Aku akan menunggumu di sini." titah Hilman.
Riska mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Baru saja dia keluar ruangan, tiba-tiba dia melihat ibu panti yang sedang menyiapkan makan malam untuk semua penghuni rumah ini. Dengan segera, Riska bergegas membantunya.
"Ibu, aku bantu ya." ucap Riska mengambil beberapa piring yang berada di tangan ibu Siti.
"Tidak perlu, kamu temani saja Hilman." tolaknya.
"Mas Hilman tidak mau di temani, Bu. Mungkin dia ingin menyendiri. Dia kan orang yang kaku dan tidak mau berinteraksi dengan banyak orang kecuali menyangkut hal pekerjaan." sindirnya membuat Bu Siti tertawa.
"Hilman memang seperti itu sifatnya. Kamu harus sabar menghadapi sikap Hilman yang kaku, dingin, dan kurang perhatian."
"Ibu sudah mengenal Mas Hilman lama ya?" tanya Riska penasaran.
__ADS_1
"Bukan sudah lama lagi, Ris, ibu yang merawatnya sedari kecil. Jadi ibu sangat paham dengan sikap dan sifat Hilman. Maafkan ibu yang tidak bisa datang ke acara pesta pernikahanmu, ya. Sebenarnya, ibu ingin sekali datang, tapi mengingat identitas Hilman yang belum terbongkar. Akhirnya, kita semua hanya melihatnya dari siaran langsung. Dan kita semua sangat bahagia, akhirnya Hilman bisa menikah dengan wanita yang di cintainya." jawab Bu Siti.
"Sedari kecil, Bu? Terus identitas Mas Hilman yang belum terbongkar? Memangnya, Mas Hilman siapa, Bu? Bukankah Mas Hilman berasal dari keluarga yang kaya raya dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?"
"Dia di tinggal orangtuanya sedari kecil. Ibu menemukannya di depan pintu panti asuhan ini, tapi apa yang kamu ucapkan benar, Ris. Hilman selalu mendapatkan apa yang dia mau sewaktu dirinya bekerja paruh waktu. Ibu saja tidak tahu kalau Hilman bekerja paruh waktu. Sampai di mana ibu curiga karena dia pulang larut malam dan seringkali membawa beberapa barang atau makanan untuk kita semua." ujar Bu Siti panjang lebar.
Riska sangat syok saat mendengar cerita dari wanita paruh baya di hadapannya.
"A-apa, Bu? Mas Hilman di besarkan di panti asuhan ini? Dan dia tidak punya orang tua?" tanyanya tak percaya.
"Jangan terkejut. Itulah alasan kita semua tidak mau datang ke pesta pernikahan Hilman, karena kita semua tidak mau membuat kekacauan di sana."
"Bagaimana aku tidak syok, Bu. Tapi jujur, aku tidak terpikirkan sama sekali tentang masalalu Mas Hilman yang pahit ini. Aku pikir, Mas Hilman berasal dari keluarga yang kaya raya. Buktinya banyak perusahaan yang di kelolanya. Tidak mungkin, semua perusahaan itu dia yang bangun sendiri. Maaf bukan menghina Mas Hilman, tapi membuat perusahaan sendiri bukankah membutuhkan dana yang besar? Dan Mas Hilman bisa mendapatkan uang banyak dari mana, Bu?" cecar Riska.
"Hahaha ... iya, nak Riska. Apa yang dikatakan kamu memang benar. Perusahaan yang sekarang di kelolanya bukan perusahaan Hilman melainkan perusahaan orang tua angkat Hilman. Sejak umur 15 tahun, Hilman di asuh oleh orang tua angkatnya. Dan orang tua angkatnya sangat baik kepadanya sampai-sampai di saat mereka meninggal dunia, mereka mewariskan semua asetnya ke Hilman." jawab Bu Siti panjang lebar.
"Oh, aku mengerti sekarang."
"Iya, Bu. Aku akan jaga rahasia ini. Terimakasih ibu sudah mempercayaiku. Aku senang bisa mengenal ibu yang sangat baik." puji Riska.
"Ibu juga senang sekali bisa bertemu denganmu. Sekarang ibu yakin, kalau kamu memang yang terbaik untuk Hilman."
"Tidak, Bu. Ibu salah besar, aku bukan yang terbaik untuk Mas Hilman. Dan--" ucapan Riska terhenti sejenak. 'Apa aku ceritakan saja, alasanku menikah dengan Mas Hilman. Siapa tahu, ibu panti ini bisa membantuku.' gumam Riska dalam hati.
"Dan apa, nak?" tanya Bu Siti penasaran.
"Em ... ibu sebenarnya pernikahanku dan Mas Hilman itu ... em ..." Riska menatap sekitar ruangan untuk memastikan jika suaminya tidak mendengar curhatannya. "Em ... sebenarnya pernikahanku dengan Mas Hilman itu ... em ... terpaksa, Bu." lirihnya membuat Bu Siti tersenyum tipis sesaat.
"Terpaksa? Tapi kalian saling mencintai kan?" tanya Bu Siti berpura-pura.
__ADS_1
"Mana ada, Bu. Boro-boro saling mencintai. Hobi kita selalu bertengkar. Tidak pernah sedikitpun kita satu pemikiran. Huh, bagaimana caraku untuk bertahan hidup di sisinya." keluhnya.
"Tapi Hilman tidak bersikap kasar padamu, kan?"
"Tidak pernah, Bu, tapi aku tidak bisa terus-terusan di posisi ini. Ibu tahu sendirikan, bagaimana rasanya menjalani rumah tangga tanpa cinta? Untuk di senttuh saja aku tidak--" ucapan Riska terhenti setelah dirinya menyadari jika yang baru saja di ucapkan adalah kesalahan besar untuknya. "Ma-maaf, Bu."
"Tidak perlu meminta maaf, ibu bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, jika Hilman meminta hak nya, kamu pun harus memberikannya. Mau bagaimana pun, dia suamimu. Ambil sisi positifnya dari kejadian ini. Ibu percaya, kalau kamu bisa menjalaninya."
'Memberikan? Tidak bisa, mana mungkin aku memberikan tapi hatiku tidak rela. Makin lama, obrolan kita makin tidak jelas.' batin Riska. "Oh, iya, Bu, anak-anak pasti sudah menunggu makan malam ini. Sebaiknya, kita siapkan dulu di meja makan." titah Riska mengganti topik pembicaraannya.
"Terimakasih." jawab Bu Siti.
Dari kejauhan, terlihat Hilman yang sedang berdiri sembari memantau dua wanita yang sedang mengobrol hangat.
'Jadi, dia terus berpikir kalau kita tidak saling mencintai? Susah juga membuat pikirannya terbuka.' batin Hilman.
Dor!
"Om Hilman!" pekik Rian mengejutkan Hilman.
Hilman mengusap dadda nya berulang kali. "Rian," pekik Hilman.
"Ma-maaf, Om. Aku kira Om sedang melamun. Aku tidak mau kalau Om kerasukan setan." kekeh Rian.
"Om memang sedang melamun, tapi Om tidak mungkin kerasukan setan. Yang ada, kamu yang kerasukan setan, Ri!"
"Hehehe ... kita makan malam, Om. Ibu dan Tante cantik sudah menunggu kita. Atau jangan-jangan Om sedang memuji kecantikan istri Om dari kejauhan ya?" goda Rian lagi.
"Anak kecil sepertimu tidak tahu apa arti istri." kesal Hilman.
__ADS_1
"Cie yang lagi jatuh cinta!" sindir Rian kemudian berlari menjauh Hilman.