
Dengan mata terpejam, Riska memasukkan sendok berisi kuah sup itu ke dalam mulutnya.
Deg!
Riska terdiam saat menikmati rasa makanan ini yang sangat asin.
'Asin sekali makanan ini!' batinnya.
"Bagaimana? Sup nya enak, kan? Asal kamu tahu, aku yang memasak sup ini." ucap Hilman dengan bangga.
'Enak dari mana, Mas, tapi daripada aku bertengkar, sebaiknya aku 'iya kan saja'.' batinnya.
"Cepat habiskan sup ini!" titah Hilman antusias.
"Iy-iya, Mas, terimakasih." jawab Riska sembari menatap wajah Hilman yang hangat. 'Apa dia benar-benar suamiku? Atau jangan-jangan hantu yang sedang menjelma menjadi suamiku?' batin Riska dengan senyum terpaksa nya.
Hilman begitu bangga masakan pertamanya di puji oleh istri.
'Sudah aku tebak, masakanku sangat enak. Apalagi di santap saat hujan-hujan begini. Semoga saja, Riska melihat perubahanku menjadi suami yang baik untuknya.' gumamnya Hilman dalam hati.
"Ayo, makan lagi!" titah Hilman.
"I-iya, Mas. Ini mau makan." jawab Riska memakan brokoli yang ada di sup. 'Sayurannya belum matang. Apa Mas Hilman tidak mencicipinya lebih dulu? Atau dia memang sengaja memberiku makanan tidak matang? Tapi dari senyumnya, aku seperti melihat ketulusan.' batin Riska mengunyah brokoli mentah itu.
Perut Hilman berbunyi saat melihat istrinya dengan nikmat menyantap sup buatannya.
"Mas, kamu lapar?" tanya Riska setelah mendengar suara perut suaminya.
"Iya, di rumah tidak ada makanan lagi. Sebaiknya, kita bagi dua sup itu!" ucap Hilman.
'Bagi dua? Sekarang, aku yakin, kalau Mas Hilman benar-benar tulus menyiapkan makan malam ini untukku dan aku tidak boleh mengecewakan.' batinnya lagi.
Hilman mengambil sendok dan berusaha menyendokkan sup buatannya, tapi langkahnya di cegah oleh Riska.
"Mas, tunggu dulu!" cegah Riska.
"Ada apa?" tanya Hilman.
"Em ... boleh tidak, kalau sup ini untukku saja? Aku lapar sekali. Biar Mas Hilman aku buatkan mie instan." tawar Riska.
__ADS_1
"Untukmu?" gumam Hilman lalu tersenyum bahagia. "Apa makanan buatanku terlalu lezat sampai-sampai kamu tak mau membaginya denganku?"
"Iy-iya, Mas. Aku tidak pernah memakan sup se enak ini." jawab Riska.
"Baiklah, setiap hari aku akan memasak untukmu." ucapnya dengan bangga.
Riska tersedak kuah sup ayamnya. "Uhuk ... uhuk ...."
"Minumlah!" titah Hilman menyodorkan teh hangat buatannya.
Riska meminum teh hangat pemberian suaminya. Seketika wajahnya menjadi masam.
"Kenapa?" tanya Hilman setelah melihat wajah masam istrinya.
Riska meminum dan meletakkan secangkir teh hangat itu ke atas meja.
"Tidak apa-apa, Mas." jawabnya. 'Aku yakin, Mas Hilman tidak bisa membedakan mana garam dan gula. Mana ada teh asin, tapi tidak apa-apa. Daripada aku mendapat hukuman dan di perlakukan kasar, lebih baik aku diam berpura-pura menikmati makanan buatannya.' gumamnya dalam hati.
"Tidak ada mie instan." ucap Hilman tiba-tiba. "Lebih baik makanan itu di bagi dua."
"Jangan, Mas! Jangan di bagi dua! Biar aku belikan mie instan di supermarket terdekat, tapi tunggu aku menghabiskan sup ini, ya!" bujuk Riska.
"Tapi, Mas, aku sudah tidak sabar menghabiskannya. Lihatlah, aku bisa menghabiskan sup ini dengan cepat." ujar Riska memasukkan semua isi sup ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.
Hilman terkekeh saat melihat istrinya memakan sup buatannya dengan lahap.
"Baiklah, buatkan aku mie instan. Kamu bisa membelinya di supermarket depan!" titah Hilman. "Tapi ingat, jangan mengecewakanku! Aku sudah memberimu kebebasan!"
"I-iya, Mas!" jawab Riska tak jelas karena mengunyah makanannya.
Setelah selesai menghabiskan makanan buatan suaminya, Riska bergegas mencuci semua piring kotor agar tidak meninggalkan jejak rasa sup tersebut.
Sesudah mencuci, Riska berjalan keluar rumah menuju supermarket depan.
"Huh, beruntung hujannya sudah reda. Tapi tunggu dulu, perutku mual dan gigiku ... gigiku tidak retak atau patah kan? Aku takut, karena memakan sup itu, semua gigiku rontok." lirihnya sembari bercermin di layar ponselnya. "Aman ... akhirnya gigiku baik-baik saja."
Sedangkan di sisi lain, Hilman menyilangkan kakinya di atas meja sembari membayangkan istrinya yang lahap memakan makanan buatannya.
"Tidak di sangka, aku pintar memasak. Padahal, ini masakan pertamaku tapi dia menghabiskannya dengan lahap. Lain kali, aku harus memasak lebih banyak, agar aku bisa menikmatinya juga." ucapnya yang tak berhenti menebar senyum.
__ADS_1
Setelah sampai di supermarket dan membeli beberapa mie instan serta beras dan lainnya. Kini Riska tengah berjalan menuju rumahnya.
Sepanjang jalan, Riska selalu melihat setiap kendaraan yang berlalu lalang.
"Mas Hilman menunjuk perubahan yang cukup drastis. Tapi aku heran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Apa dia merasa bersalah saat melihatku hujan-hujanan tadi? Atau perlahan Mas Hilman mulai menaruh rasa padaku? Aku tidak yakin, deh, kalau Mas Hilman menaruh rasa padaku. Jelas-jelas, Mas Hilman menikahiku karena aku mempunyai hutang yang banyak. Huh, begini nih rasanya menikah karena hutang orang tua. Tidak ada yang istimewa dari pernikahanku. Seiring berjalannya waktu, pernikahan ini akan kandas entah dari Mas Hilman yang bosan padaku atau aku yang mengakhiri karena Ayahku sudah sadar dari koma nya. Biar saja aku dikatakan egois, asalkan aku bisa kembali ke tengah-tengah keluargaku." keluhnya membuka gerbang rumahnya dan berjalan masuk.
Setelah masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju dapur, Riska dapat melihat suaminya yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Aku sudah dapat mie instan nya dan aku mau memasaknya untukmu." ucap riska mengambil panci kecil dan memasukkan beberapa gelas air ke dalam panci.
Hilman memainkan ponselnya dan mengarahkan ponselnya ke arah istrinya.
Cekrek!
Dirinya berhasil mengambil satu jepretan foto punggung istrinya.
'Em ... tidak bagus, tapi aku simpan saja.' gumamnya dalam hati.
Cekrek!
Riska tersadar saat mendengar suara dari meja makan. Dan Hilman pun berpura-pura menelfon seseorang karena tak ingin istrinya tahu tentang pekerjaannya.
'Untung tidak ketahuan. Kalau ketahuan bisa mati kutu aku?" sambungnya lagi.
Setelah meniriskan mie dan menyajikannya di piring. Tak lupa Riska menaburi beberapa bumbu dan mengolehnya sampai tercampur sempurna.
"Bagaimana, apa sudah matang?" tanya Hilman kelaparan.
"Sebentar lagi, Mas. Aku lagi mengaduknya biar bumbunya tercampur merata." jawab Riska.
"Cepatlah sedikit. aku sudah lapar!" titah Hilman.
"Sa-sabar, mas." jawab Riska membawa piring yang berisi mie instan ke suaminya. "Makanlah, aku tidak mau kamu,--"
Hilman mengambil piring yang berisi mie instan dan memakannya dengan lahap.
"Mas," panggil Riska.
"Iya, ada apa? Apa ada sesuatu yang kurang? Kalau ada, tolong carikan mungkin masih terselip di dalam bungkus mie tadi." jawab Hilman.
__ADS_1
"Bukan, Mas!"