Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa

Cinta Di Tengah Pernikahan Terpaksa
Bab 28


__ADS_3

"Cepat keluar!" pekik Riska membuat Rachel berjalan keluar ruangan suaminya.


Riska menjatuhkan pantatnya di kursi setelah melihat kepergian sahabatnya dari ruangan suaminya.


"Maafkan aku, Mas. Selama ini aku membela orang yang salah?" lirihnya sembari mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar.


"Tidak apa-apa. Sekarang, kamu sudah tahu bagaimana sifat asli sahabatmu, kan?"


"Tapi aku merasa bersalah padamu, Mas! Seharusnya, waktu itu aku percaya denganmu bukan malah menuduhmu terus. Aku salah, Mas!" keluh Riska.


"Aku tidak mempermasalahkan." jawab Hilman.


"Aku mau memecat Rachel, Mas. Kamu mengizinkanku memecatnya, kan?"


Hilman menarik ke dua sudut bibirnya ke atas. "Tentu saja, aku sudah menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu. Dengan senang hati, aku mengizinkanmu memecat wanita bermuka dua itu." jawab Hilman.


"Terimakasih, Mas. Sekarang, aku boleh minta gaji Rachel yang terakhir? Aku mau mengantarnya sendiri."


Hilman mengangguk dan memberikan amplop coklat yang di simpannya di dalam laci.


"Berikan semua ini untuknya. Aku juga sudah memberi bonus." titah Hilman.


Riska menerima amplop coklat pemberian suaminya. "Aku akan berikan amplop itu sekarang juga!" ucapnya kemudian berjalan menuju ruangan sahabatnya.


'Rachel sudah keterlaluan dan aku tidak bisa mentoleransi sikapnya. Bisa-bisanya dia menggoda suami sahabatnya sendiri. Mungkin memutus tali silaturahmi adalah keputusan yang terbaik.' batin Riska menghentikan langkahnya setelah berada di depan pintu ruangan.

__ADS_1


"Huh!"


Krek!


Rachel terkejut saat melihat Riska datang seorang diri.


"Apa yang kau lakukan di ruanganku, ha!" ketus Rachel.


"Ternyata apa yang dikatakan Mas Hilman benar. Kamu memang wanita penggodda."


"Cih, bukan aku yang menggooda Mas Hilman, tapi kamu yang merebut Mas Hilman dariku. Asal kau tahu, aku menyukai Mas Hilman sedari dulu. Dan kau malah seenaknya mengambil Mas Hilman dariku." ketus Rachel. "Sekarang aku mau, kau pergi dari ruanganku. Aku tidak sudi, ruanganku di injak oleh wanita yang--" ucapan Rachel terhenti saat melihat Riska melemparkan amplop coklat ke arahnya.


"Jangan banyak bicara. Sekarang, kau pergi dari kantor suamiku. Aku tidak sudi, orang busuk sepertimu bekerja di kantor suamiku. Pergi! Itu gaji beserta pesangon dari suamiku! Cepat pergi!" pekik Riska.


"Brenggsekk! Berani-beraninya kau mengusirku, ha! Kau hanyalah wanita miskin yang menikah dengan pria kaya. Jadi, jangan sok berkuasa! Yang bisa memecatku hanya Mas Hilman. Dan Mas Hilman tidak akan memecatku!" ketus Rachel.


Riska tersenyum sinis. "Kau dengar suamiku bicara? Sekarang, kau angkat kaki dari kantor suamiku!"


"Mas, kamu tega memecatku? Aku tidak mau jauh darimu, Mas! Tolong jangan pecat aku! Aku mohon, Mas!" lirih Rachel meraih tangan Hilman.


"Jangan sentuh tangan suamiku!" pekik Riska menepis kasar tangan Rachel. "Pergilah!" ketusnya.


"Aku tidak akan pergi! Aku betah bekerja di sini." jawab Rachel.


"Pergi, atau--" ucapan Riska terhenti saat suaminya mengusap pundaknya.

__ADS_1


"Aku sudah panggil satpam untuk mengusirnya. Kamu jangan habiskan tenagamu untuk orang yang tidak penting sepertinya." ucap Hilman lalu mendengar suara ketukan.


"Usir dia!" titahnya saat melihat satpam yang baru saja datang.


"Mas, jangan usir aku!" rengek Rachel.


"Ayo, ikut saya keluar kantor!" paksa satpam.


Rachel terseret keluar kantor.


Melihat Rachel pergi, hati Riska seketika menjadi tenang.


"Sekarang, sudah tidak ada yang mengganggu rumah tangga kita, Ris!" ucap Hilman dengan senyum manisnya.


"Iya, Mas. Aku senang."


"Aku juga senang. Oh, iya, aku mau mengatakan sesuatu!" ucap Hilman membuat Riska penasaran.


"Apa Mas?" tanyanya penasaran.


"Aku mencintaimu!" bisik Hilman tepat di telinga istrinya.


Wajah Riska bersemu merah. "Aku juga!" jawabnya lirih.


"Apa? Aku tidak mendengar jawabanmu, sayang!"

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Mas Hilman!" pekiknya kemudian saling berpelukan.


... Tamat.......


__ADS_2