
Baru sedetik dia mengagumi Vandra yang begitu hormat kepada Ibu nya, di detik kemudian dia sudah tertampar kenyataan bahwa ada Celine di tengah mereka
" Iya Tante, ayo kita ke ruangan Vandra untuk menikmati menu makan siang buatan Tante..." bergelayut manja di lengan Mamih Vandra
Bagai tertusuk duri namun tidak berdarah Audry merasakan sakit di ulu hati nya, dia lupa bahwa Mamih Vandra juga menyanyangi Celine.
Jika di lihat Pak Vandra dan Celine memang pasangan yang serasi seolah dunia merestui keduanya, mereka pun berasal dari keluarga yang berlatar sama, tidak seperti dirinya yang hanya berasal dari keluarga sederhana.
" Apa gw pantes ya ?" gumam Audry
" Pantes apaan ?" rupanya Jenni mendengar Audry
" Ahh..." Audry kaget
" Jangan bilang kamu berkhayal menjadi cewek nya pak Vandra ? Gak akan mungkin...!" nyinyir Jenni
Kok tau sih kak ? Iya sih kayaknya gak mungkin emang
pikir Audry
" Kamu lihat kan gimana Ibu nya Pak Vandra bersikap manis dengan Nona Celine, cuma Celine yang pantes buat pak Vandra.! Gak perlu saya jelasin lagi ya alasannya " Senang sekali Jenni menambahkan garam di luka Audry
Audry pun kesal dan langsung berlari ke mejanya, Jenni senang melihat raut wajah Audry yang kesal.
setelah satu jam ibu Vandra dan Celine keluar dari ruangan Vandra, senyum merekah tersungging diwajah mereka.
" Kalau kerjaan kamu sudah beres langsung pulang ! Mamih gak mau kamu sakit karna ngurus kerjaan terus. " ucap Mamih Vandra
" Iya mih, Vandra akan langsung pulang , Janji.." menautkan telunjuk dan jari tengah nya kepada Mamih nya
" iya Van, kalau nanti kamu sakit gimana ? Ya kan tante " Celine mencari perhatian Mamih Vandra
" Ya sudah Mamih pulang dulu, kamu lanjut kan pekerjaan kamu, ayo Celine kita pulang.." ajak Mamih Vandra
" Ayo tante, aku pulang dulu ya Van..bye.." Celine sengaja mengedipkan mata genitnya ke arah Vandra untuk melihat reaksi Audry yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka
Memang Audry tidak mau menunjukkan wajah kesalnya, walaupun sedari tadi tangannya mengepal keras seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
IRI..?
mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Audry saat ini.
Vandra melirik sekilas ke arah Audry sebelum masuk lagi keruangan nya,.
Aku harap Audry tidak salah paham
" Kak , aku ke toilet dulu !" sentak Audry ke Jenni
Jenni mengelus dadanya karna kaget dengan sentakan Audry
Audry mengguyur wajah nya di wastafel berkali-kali untuk menghilangkan rasa panas di tubuhnya, kenapa melihat Celine yang bersikap genit ke Vandra membuat Audry jadi panas dingin seperti ini seperti tidak rela bos Tamvannya di rebut wanita lain.
" Iya gw tau lo emang cantik, trus lo juga kaya, body lo seksi lagi... sempurna memang. Sedangkan gw " berpikir dulu sejenak
kira-kira apa yang pantes dari diri gw yang bisa di banggakan,
Cantik tapi kok perasaan biasa aja, Kaya ya enggak...seksi apalagi. modelan kayak gw mana ada seksi-seksi nya sih...
" Kok gw jadi ziper gini sih , apa pantes gw sama Pak Vandra...hu hu hu..."
Audry frustasi sendiri, dia pun berjalan gontai keluar toilet , baru saja membuka pintu Audry di kagetkan dengan pria yang berdiri di depannya.
" Astaghfirullah...Pak Vandra !! bikin kaget aja, Bapak mau ke toilet juga ? tapi kan ini toilet cewek pa "
sreeett...tangan Audry di tarik paksa oleh Vandra dan dia membawanya ke atas gedung.
" Pak , bisa lepasin gak tangannya ? sakit tau..!" jerit Audry
dia terpaksa menjerit karna suara nya kalah dengan hembusan angin di atap gedung. Vandra pun melepaskan genggaman tangannya
" Maaf, nanti saya obati.." wajah Vandra nampak serius
" Gak usah pak, gak parah juga kok...tapi kenapa tiba-tiba bapak bawa saya kesini...?" tanya Audry
" Kamu bisa panggil saya nama saya jika kita lagi berdua seperti ini..." pinta Vandra
__ADS_1
Gak ahh...gak sopan kali
" emang ada apa sih ? , Bapak sampai bawa saya kesini ? "
" Audry, panggil saya Vandra bukan Bapak...!" tegas Vandra dengan mata menyala
" Gak sopan Pak.! Bapak kan atasan saya, bukan teman saya.." Pak Vandra kenapa serem banget sih mukanya , beda sama yang tadi pagi
" ini perintah Audry, dan sebentar lagi juga saya akan jadi teman spesial kamu !" teriak Vandra
Spesial ? Maksudnya ?
" Bapak ngomong apa ? eh tadi kamu ngomong apa ? " Malu cuy, manggil kamu ke atasan...aaahh rasanya pengen terjun bebas aja nih ke bawah mumpung lagi di atas gedung. Vandra ngeselin ...!!
" iya, karna saya mau kamu jadi teman spesial saya juga Audry.." Vandra memegang kedua tangan Audry lalu mengecup nya lembut
Sedangkan Audry mematung melongo dengan mulut membentuk huruf O jantungnya saat ini mungkin sedang salto di dalam , sambil menangkap kupu-kupu yang sedang berterbangan di dalam perut nya ada rasa yang menggelitik dalam tubuhnya.
" Audry kamu mau kan jadi pacar saya ?" Untuk kedua kali nya Vandra menyatakan keseriusannya kepada Audry
Dia takut Audry berubah pikiran karna menganggap dirinya tidak pantas untuk Vandra.
ya , Vandra mendengar semua keluh kesah Audry di toilet tadi . Dia bahkan sudah tidak nyaman saat mengantar Celine dan Mamih nya tadi karna tatapan Audry kepadanya seperti sebuah keraguan .
" Saya sayang sama kamu Audry , kalau kamu pikir saya dan Celine itu serasi itu salah besar ! Celine itu bukan siapa-siapa , saya hanya anggap dia sebagai teman gak lebih..." Ada keseriusan di mata Vandra saat mengatakannya
" Kok kamu tau ? " kesadaran Audry kembali dia melirik kembali tangan yang sedang menggenggamnya.
" Maaf , tadi gak sengaja saya dengar teriakan kamu waktu di toilet... percaya sama saya Audry, kamu mau kan jadi pacar saya..? " lagi, Vandra mengulang lagi pertanyaannya bahkan kini kedua tangan nya sudah bertengger di bahu Audry untuk meyakinkan nya
Audry bahagia dengan perkataan vandra , dan tentunya dia juga sudah punya jawaban atas pertanyaan Vandra
" Kenapa ? "
" Kenapa saya ?" tanya Audry, sambil mengelus pipi kiri Vandra lembut.
Entah kenapa dia ingin sekali mengusap wajah tampan di depannya saat ini.
__ADS_1