
Usapan lembut di wajah Vandra membuat darah nya berdesir, Ya dia harus jujur sekarang kepada Audry tentang perasannya. Tak mau lagi memendam terlalu lama bahwa memang Audry lah pemilik hatinya.
" Karna memang kamu yang ada di hati saya saat ini, bukan Celine dan juga wanita lain " Vandra berkata lantang penuh keyakinan
Audry tersenyum , sebari melepaskan tangan nya si wajah tampan Vandra
Senang , ? iya
rasanya jutaan kupu-kupu sedang berterbangan di dalam hatinya wajahnya merah dengan senyuman yang sudah tersungging di bibirnya
" Iya, saya mau " malu-malu Audry menjawab sambil menunduk kan wajahnya
Aaarrggghhhh...
sumpah demi apapun gw seneng banget
teriaknya dalam hati
" coba ulangi.." pinta Vandra dengan kekehan di wajahnya, bukannya tidak bisa mendengar jawaban Audry
Hanya saja dia ingin merekam setiap perkataan dan moment wajah menggemaskan wanita nya kini,
Ahh senang nya akhirnya dia bisa mengakui bahwa sekarang Audry adalah wanitanya , pemilik hatinya
" ihh...pak Vandra tuli ya, saya kan tadi udah bilang iya.." Audry memukul lengan Vandra manja
" Hahaha...saya gak tuli, saya jelas mendengar tadi kamu bilang iya saya mau.."
" Trus kenapa minta saya untuk mengulang ?"
sambil mengerucutkan bibirnya
Vandra yang gemas langsung mencubit kedua pipi Audry dan juga menoel hidungnya
" Aww...sakit "
__ADS_1
" Saya cuma mau merekam wajah kamu dan suara kamu saat saya menyatakannya tadi. saya akan menjadikan nya moment terindah dalam hidup saya..."
Vandra menarik tubuh Audry dalam pelukannya , memeluknya erat menghirup dalam aroma tubuh Audry yang selama ini menjadi candu nya..
Audry tentu bahagia dengan perlakuan Vandra kali ini, tubuhnya juga bereaksi dengan ikut mengelus punggung tegap Vandra.
" Terima kasih, " bisik Vandra ditelinga Audry
wajah Audry mendongkak
" Terima kasih untuk apa ? " tanyanya
" Terima kasih karna kamu sudah terima saya, "
" emmm...sejujurnya saya juga sudah lama suka sama Pak Vandra, tapi saya takut untuk ungkapin. Saya tahu diri , " ucap Audry malu
" Saya tahu.." jawab Vandra enteng, dengan wajah tampannya sambil tersenyum
omaigat, mampus gw
Audry meregangkan pelukannya dari tubuh Vandra
Ah, tuh anak emang ember banget mulutnya
" Gak dari siapapun...tapi hati saya yang mengatakan nya.."
Yaduh, ternyata Pak Vandra bisa narsis juga ..
Ahhh terbang deh nih pa akunya
Nyesel udah maen seudzon aja ama Nuri, maafkan aku bestie hehehe...
" Jadi sekarang kita..??" menggantung pertanyaanya , Audry menggit bibirnya
bukannya sudah jelas bahwa kini dirinya dan Vandra adalah sepasang kekasih
__ADS_1
Hanya butuh pengakuan kembali tentang kejelasan status mereka saat ini
" iya , sekarang kamu pacar saya , kekasih saya , wanita yang saya cintai..!"
Senyum Audry mengembang rona bahagia terpancar jelas diwajahnya.
Di dalam lift yang mereka turuni tak hentinya Audry tersenyum di tambah kini Vandra tengah menggenggam jemarinya erat,
seperti ini ya rasanya jatuh cinta kenapa baru sadar sekarang sih, ah bodoh nya diri ini.
ting
lift berhenti dan pintunya akan terbuka di lantai ruangan mereka
" Pak..." Audry mencekal Vandra yang ingin keluar dari lift
" ada apa ?" tanya Vandra bingung
" Ini tangannya di lepas dulu, saya malu sama ka Jennie .." Audry berusaha melepaskan tangannya dari jemari Vandra
" kita kan udah resmi pacaran kenapa mesti malu, malah bagus kan kalau Jennie tahu.." jawab enteng Vandra
Hah..!
" Gak gitu juga pa...sa-saya masih belum siap go public.." lirih Audry di ujung katanya
Vandra mendekati Audry dan menatap matanya
" Oke, saya paham maksud kamu. kita jalani ini senormal mungkin tanpa banyak orang yang tahu. ...tapi ada syaratnya.."
" Syarat? pake syarat segala, emang apa syaratnya..?"
sifat polos Audry lah yang membuat Vandra jatuh cinta .
" cuma satu, ..' vandra menunjuk sebelah pipinya
__ADS_1
" cium aku..."
awwww