
Bayiku Tampan, kan?
“Memangnya kamu bisa?” tanya Maisara hampir tak percaya, tapi dalam hatinya ia bersyukur karena baru saja Harlan mengatakan bahwa ia mengakui jika Mahes adalah anaknya. Begitulah, mau tidak mau ia harus mengakuinya.
Memangnya siapa yang bisa menolak pesona bayi Mahes?
Harlan berdiri di sisi box bayi, menggulung kemeja lengan panjangnya sampai siku, lalu menyentuh bayi itu dengan lemah lembut.
Maisara tidak tahan melihatnya, hingga ia menyentuh tangan Harlan. Mery mengabaikan bayi Mahes untuk sesaat. Wanita melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami dan memeluknya erat, seraya berbisik dengan lembut.
“Terima kasih!”
Harlan menganggap itu isyarat dan kesempatan hingga ia pun membalas pelukan Maisara dan membenamkan bibinya di atas bibir istrinya lalu mengulum seperti permen.
Ciuman itu berhenti saat suara tangisan yang sempat berhenti saat Harlan menyentuh Mahes tadi, kini terdengar kembali.
“Kamu jangan godain, kalau mau aku mengurusnya!” ucap Harlan.
“Tapi, gimana kalau dia buang air?”
Harlan diam sambil melirik Mahes yang masih merengek manja, lalu melihat istrinya sambil berdecak.
CK!
“Ya sudah! Kamu saja sana, yang urus!”
“Lane, kamu mengakui Mahes sebagai anakmu saja aku sudah sangat bahagia!”
“Dia itu anak tidak resmi, kita harus buat adiknya yang sesuai prosedur!”
“Aku belum mau punya anak lagi sekarang, mungkin dia atau tiga tahun lagi!”
“Lama sekali ...,” gumam Harlan sambil melangkahkan kakinya ke sofa dan membiarkan Maisara menggantikan popok bayinya.
Setelah selesai, Maisara menyusui bayi Mahes dengan duduk di samping Harlan.
“Kau belum makan, tapi dia sudah mengambil susu dari tubuhmu!”
“Memangnya kenapa? Jangan berpikir dia jahat, ya? Kamu juga gitu dulu waktu masih bayi menyusui pada Ibu!”
Harlan melirik pada Mahes yang masih menempel di dada istrinya, ia pun mencubit kecil hidung bayi itu hingga hisapannya terlepas.
__ADS_1
Mahes dan Harlan saling bertatapan.
“Jangan lama-lama, Ibumu nanti lapar, dia belum makan!” katanya.
Bayi Mahes menjawab dengan tersenyum manis. Maisara menunduk, melihat bayi yang tengah menyusu padanya itu tersenyum pada ayahnya. Ia pun tersenyum juga.
Sementara Harlan cemberut, karena bayi itu kembali menghisap dada Maisara. Saat masih meminum air susu ibunya, bayi itu terus melihat pada ayahnya dan tersenyum sama seperti tadi, tanpa melepaskan mulutnya dari dada sang ibu.
“Aku tidak mengajaknya bicara tapi dia terus tersenyum padaku!” kata Harlan.
“Karena dia pikir kamu lucu!” Maisara berkata sambil menoleh pada Harlan yang tiba-tiba wajahnya menjadi mendung.
“Apa benar aku ini lucu?” Sebenarnya Harlan berkata begitu, karena tidak suka dianggap lucu. Namun, saat Mahes kembali tersenyum melihatnya, ia pun diam tak bisa bicara apa-apa lagi, sebab ia pikir hanya seorang bayi.
“Bukan, jangan salah sangka dengan bayi, dia akan sering tersenyum seperti itu pada siapa pun yang ia lihat dan menyenangkan bagi mereka!”
“Apa setiap bayi seperti itu?”
“Ya! Sifat lahir seorang bayi, ia akan sering tersenyum, menggemaskan bukan? Apalagi, kamu adalah ayahnya!”
Harlan mengangguk.
Hari itu, Maisara membatalkan rencananya menemui Sanaya, karena Harlan membuatnya sibuk dan tetap di rumah. Bahkan, ia sampai membuat masalah di sore harinya, hanya agar Maisara kasihan dan tidak terus bicara pada Sanaya lewat telepon.
“Harlane, kenapa kamu diam di situ dari tadi? Apa ada masalah?” kata Maisarah setelah berada di sisi suaminya yang masih duduk di sisi kolam besar itu.
“Apa kamu tidak kasihan padaku, kenapa tidak memanggilku Sayang? Kamu selalu saja memanggilku begitu apa aku terlihat jahat? Aku sudah menyayangimu sampai detik ini, dan kau mencintaimu Maisara!”
Maisara menatap Harlan tak percaya, dengan ungkapan cinta yang ke sekian kalinya diucapkannya. Saat itu ia hampir saja lupa kalau dulu pernah melayangkan surat cerai padanya. Ia tidak tahu ke mana surat itu dan apa yang terjadi, hingga ia tidak pernah mendapatkan panggilan dari pengadilan agama. Pada akhirnya mereka bersama dan Harlan justru jatuh cinta.
Beberapa detik kemudian Maisara sadar dengan air mata yang membayang di pelupuk mata Harlan.
Ada apa dengan bayi besar itu, apa dia habis menangis? Akh! Yang benar saja.
“Apa yang terjadi? Kamu menangis hanya karena tidak aku panggil Sayang?” tanya Maisara sedikit protes.
“Bukan!” sahur Harlan ketus.
“Lalu? Eum ... baiklah, aku akan memanggilmu Sayang kalau begitu!”
“Hari ini hari kematian Mirabella!”
__ADS_1
“Oh!” Maisara tampak kecewa, mungkin itu mantan kekasih Harlan, begitu pikirnya. Ia tampak menutupi perasaan di hatinya tiba-tiba saja ia cemburu mendengar nama wanita lain disebut.
“Dia sangat lembut, manis dan menggemaskan setiap kali aku pegang, aku kadang merindukannya, seperti sekarang!”
Maisara kesal, mendengar pujian yang keluar dari mulut suaminya untuk wanita lain langsung di hadapannya.
“Kalau dia menggemaskan, aku maklum kamu merindukannya! Maaf kalau begitu, aku sudah mengganggumu!”
Maisara berniat kembali bersama para wanita, Wendi dan ibunya yang sibuk bercanda dengan Mahes di ruang televisi.
Namun, saat Ia hampir berbalik, Harlan menarik tangan dan memeluknya erat.
“Apa kamu tidak mau menghiburku?” katanya.
“Ya, aku turut bersedih untuk itu!”
“Ya, kamu pasti ikut sedih kalau kehilangan dia, sama seperti aku sekarang pasti akan rindu ingin menggendongnya!”
“Sayang! Aku tidak mungkin menggendong Mirabella!”
“Kenapa tidak, dia suka digendong siapa saja!”
“Terus, kenapa kamu tidak pergi saja ke kuburannya?”
“Aku baru saja ke kuburannya, itu!”
Harlan menunjuk ke sebuah gundukan kecil di dekat kolam ikan koi miliknya. Maisara mengikuti arah yang ditunjuk Harlan dan ia hampir saja tertawa. Namun, Maisara menahannya karena ia khawatir Harlan akan tersinggung dengan sikapnya.
Gundukan kecil dengan kayu kecil juga yang jadi batu nisannya, tertulis nama Mirabella di sana.
Apa itu artinya aku cemburu pada kucing?
“Mirabella itu nama kucingmu? Nama yang bagus, pasti dia jadi kesayangan semua orang,” kata Maisara, sambil menatap kuburan kecil itu. Di sana tertulis tanggal kematiannya yang sama dengan hari yang masih berlangsung saat ini.
Ia tak habis pikir, Harlan punya sikap sentimentil yang lucu dan berlebihan. Tidak ada yang tahu kalau orang nomor satu di Mahespati Industries itu punya seekor kucing yang sudah mati dan ia akan memperingati hari kematiannya dengan cara menangis di sisi kuburan.
“Jangan bilang kamu memikirkan aku mengingat kematian mantan kekasihku!”
Maisara gugup, ia berusaha menutupi perasaannya bahwa, ia memang sempat cemburu tadi.
“Tidak ...!” sahur Maisara.
__ADS_1
Waktu berlalu hingga malam hari, keluarga itu menghabiskannya dengan berada di rumah seharian. Mereka bercengkrama dan bercanda dengan bayi Mahes penuh kebahagiaan.
❤️❤️❤️❤️