Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 79


__ADS_3

Memaafkan Artinya Melupakan


Caca beranjak pergi di saat yang sama Maisarah merasa jika gadis itu merupakan seorang remaja yang cukup bijak. Namun ia tidak harus meninggalkan tempat itu, hanya demi menghindari Harlan untuk kedua kalinya. Apalagi, pergi ke selatan, tempat itu dua kali lebih jauh dari jarak antara distrik timur dan barat.


“Kau tidak perlu pindah lagi ke selatan ... tempat itu cukup jauh, kau akan sulit beradaptasi dengan pendidikanmu kalau di sana!” kata Maisara.


“Tapi, Mai, aku tidak mungkin kalau—“


“Kalau kau ataupun Harlan memang tidak ingin saling bertemu, kalian bisa menghindar kalau melihat satu sama lain—mudah, kan?”


“Apakah boleh? Bagaimana, Pak—“


Maisara memutus ucapan Caca, sebab semakin lama anak itu ada di sana dan banyak bicara, maka akan semakin membuat Harlan kesal.


“Sudah, sudah, pergilah! Hindari dia sekarang, soal bagaimana keputusannya, aku akan memberitahukan padamu nanti!” katanya.


Caca berbisik di telinga Maisara, “Mai! Kau memang malaikatku baik di komik atau di dunia nyata, kau sangat baik!”


“Lupakan!”


Caca pergi setelah memeluk erat Maisara. Lalu, setelah kepergian gadis itu, Maisara mendekati Harlan dan menyentuh tangan pria itu dengan maksud menenangkannya.


Namun, Harlan segera menepis tangan istrinya.


“Cuci tanganmu, juga ini, ini dan ini! Ganti bajumu juga!” kata Harlan sambil menunjuk dada, pipi dan tangan serta baju Maisara.


“Memangnya kenapa? Aku sudah mandi!”

__ADS_1


Lagi pula badanku nggak bau sama sekali!


“Ganti tidak! Itu bekas di sentuh anak tadi!”


“Aih! Dia bukan sigung! Jadi aku tidak perlu mandi!”


Harlan kehabisan kata-kata ia tidak banyak bicara, dan langsung membawa Maisara ke kamar tidurnya. Gadis itu tidak bisa menolak, saat pria itu memaksanya masuk ke kamar mandi, dan memaksanya membuka baju lalu membersihkan diri.


“Aku bisa melakukannya sendiri!”


“Tadi tidak mau, jadi sekarang aku mandikan!”


Beberapa kali Maisara mencoba menolak Harlan, karena ia bisa membersihkan dirinya sendiri, tapi gagal. Akhirnya pria itu memandikannya sampai selesai.


Semua yang dilakukan Harlan adalah alasan agar ia bisa bersenang-senang dengan istrinya. Walaupun, awalnya ia memang jijik karena melihat Maisara yang berpelukan dengan Caca, tapi setelah wanita itu mau mengikuti keinginannya untuk mandi. Ia pun semakin suka dengan pekerjaan baru yang ternyata begitu menyenangkan.


Lalu, obrolan mereka berlanjut di tempat tidur.


“Apa kamu menyukai anak itu hanya karena hadiah yang dia berikan pada bukumu? Aku bisa memberi lebih banyak dari dia!” tanya Harlan.


“Siapa maksudmu? Caca?” Maisara balik bertanya.


Harlan mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Maisara.


“Ya. Lagi pula dia memang baik, seorang anak remaja lebih sulit menerima perasaan seperti yang dimiliki Caca!”


“Jangan sebut namanya di depanku!”

__ADS_1


“Baiklah, aku tidak akan memintamu menyukai anak yang aku sukai atau memaafkan seseorang yang kamu anggap salah—padahal menurutku tidak—itu terserah kamu, tapi setidak-tidaknya jangan membenci anak-anak lain, yang tidak memiliki masalah sama sekali denganmu!”


Harlan diam. ia memikirkan kata maaf seperti apa yang dipahami banyak orang. Memaafkan anak perempuan itu, samam artinya ia harus melupakan bagaimana ayahnya pergi, hanya karena menyelamatkan orang lain. Dan, ia belum siap untuk tidak mengingat lagi kejadian itu! Ia tahu kalau ayahnya tidak sadar, ketika ia memutuskan untuk membantu Caca, malaikat maut justru tengah mengincar nyawanya.


“Aku punya rumah dan perusahaan di sini, jadi mulai besok aku mau kamu tinggal di rumah itu!” katanya mengalihkan pembicaraan.


“Aku tidak mau, aku sudah nyaman tinggal di sini, ini rumahku! Apa kata orang nanti kalau kita tinggal serumah dan aku hamil?”


Maisara tidak mau tahu di mana letak kediaman baru suaminya.


“Kamu kan istri aku, apa salahnya?”


“Bukan! Eum ... kita bukan pasangan suami istri yang tercatat secara sah di sini!”


“Itu bisa di atur,” kata Harlan sambil memeluk istrinya.


Namun, tangannya di tepis oleh Maisara dan ia segera beringsut dari tempat tidur.


“Kalau tidak mau ya tidak mau!” katanya.


“Sahida datang dan dia hampir mengambil perusahaan yang sekarang aku beli, untuk bersaing sama kamu!” Harlan berkata sambil mengikuti Maisara, turun dari tempat tidur.


Harlan sudah berhasil mengakuisisi PT. Seribu Janji yang hampir bangkrut atas nama dirinya sendiri. Ia mengelola perusahaan itu di luar dari ranah Mahespati Industries. Inisiatifnya muncul selain karena ingin dekat dengan Maisara, ia juga ingin melindungi wanita itu dari seseorang yang kemungkinan bisa membahayakan dirinya.


“Apa? Apa dia pulang sama saudaranya yang korup itu?” tanya Maisara penasaran.


“Kurasa begitu! Jadi, kau harus tetap bersamaku kalau mau selamat!” Selamat yang dimaksud oleh Harlan bukan soal nyawa saja, tapi soal harga diri juga.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2