Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Part Uwu


__ADS_3

Part Tambahan (Uwu 2)


“Ah ya! Aku lupa, baiklah kalau begitu aku akan melihatnya lagi kalau begitu!”


“Apa kamu belum menghapusnya? Kan, katanya akan dihapus kalau aku menurut padamu?”


“Kamu pergi, itu tidak nurut namanya!”


“Harlan! Aku takut kamu bunuh anakku, makanya aku pergi!”


“Kamu pikir aku sejahat itu?”


“Ya!”


Harlan menelisik Maisara menggunakan tatapannya. Sayangnya ia tidak menemukan kebohongan dalam ucapannya.


Harlan langsung memeluk erat Maisara sambil berkata, “Maaf ....!” Ia sadar akan kesalahannya yang menebar ketakutan. Ia egois, tidak mengizinkan wanita itu pergi, tapi tidak memberikan kedamaian.


“Tidak perlu meminta maaf!” kata Maisara sambil membalas pelukan suaminya, “Kalau rekaman itu masih ada, itu artinya kamu bisa lihat video panas kita kapan saja, asal jangan lihat milik orang lain, oke?”


Harlan melepaskan pelukannya dan melihat ke wajah Maisara, lalu meraih dagu dan mencium bibir wanita itu.


“Apa kamu tidak masalah aku melihatnya?”


“Kita suami istri, bukan? Jadi, tidak masalah. Lagi pula kamu sekarang mencintaiku! Kalau dulu, aku sangat malu kamu lihat aku telanjang begitu, karena waktu itu kita belum pernah melakukannya dan kamu tidak cinta!”


“Ahk! Iya ... kamu benar, sekarang lakukan seperti dulu, anggap saja aku koma!” kata Harlan sambil membuka pakaiannya.


“Aku tidak mau! Nanti Mahes bangun gim—“ ucapan Maisara terputus, karena Harlan sudah mencium bibirnya dan menariknya kembali berbaring di tempat tidur.


Dalam hati Maisara bersyukur karena apa yang ia inginkan di masa lalu telah menjadi kenyataan, ia bisa merasakan pelukan hangat, ciuman dan sentuhan lembut suaminya yang dulu hanya bisa diam bagai raga tak bernyawa.


Waktu itu ia hanya merasa sayang kalau tubuh sekuat dan sebagus Harlan, benar-benar tak berdaya sampai akhir hayatnya. Alangkah baiknya kalau ia melakukan segala cara. Walaupun, ia harus membuang harga diri dengan bersikap vulgar, membangkitkan hasrat dan menjadi tukang pijat.


Sementara yang dirasakan Harlan di alam bawah sadarnya adalah, seperti diteriaki oleh suara tidak dikenal dari segala penjuru. Memerintahkannya untuk segera bangun. Padahal saat itu, setiap inci tubuhnya bagai tertancap di tanah oleh ribuan pedang. Sementara di atas pedang masih di tindih batu besar, hingga ia tak dapat bergerak sama sekali.


Namun, lama kelamaan ia merasakan munculnya hasrat tak terkendali, memaksanya bergerak, lalu berbuat sesuatu yang tidak ter-bayangkan dalam kegelapan. Hal inilah yang akhirnya memicu dan menarik timbulnya kekuatan besar untuk mendapatkan kenikmatan itu.


Kesadarannya pulih, setelah awan kegelapan sirna oleh cahaya dan suara-suara lembut yang mengiba serta, memohon untuk dipuaskan dengan segera.


“Terima kasih,” kata Harlan saat mereka kembali berbaring sambil berpelukan, “Saat aku melihat video itu, aku jadi tahu siapa bidadari yang aku lihat di mimpi dan berteriak menyuruhku untuk bangun ... dan itu kamu!”


“Jadi, waktu itu kamu sempat bermimpi?”

__ADS_1


“Ya. Tapi aku tidak ingat bagaimana detailnya, aku hanya merasakan berjalan tak tentu arah, bertemu banyak hal mengerikan dan berakhir saat melihatmu. Aku ingin segera menyentuhmu!”


“Aih! Kamu merasakan hal semacam itu, padahal pingsan!”


“Ya. Ternyata kamu yang sudah menarikku pada keinginan seperti itu! Tapi itu bagus, aku jadi sembuh!”


“Ya.”


“Terima kasih!”


“Tidak perlu!”


“Maafkan aku, dulu bersikap seperti itu, sebenarnya aku tidak ingin kamu pergi tapi, justru membuatmu takut.”


“Aku sudah merelakannya, Sayang! Sekarang aku mencintaimu! Maafkan aku juga, sudah meninggalkanmu!”


“Sekarang, jangan tinggalkan aku lagi, oke?”


“Itu, tergantung dengan sikap kamu sama aku.”


“Apa yang kamu ingin aku lakukan?”


“Bersikaplah seperti Morodoki Law!”


Sungguh Harlan tak percaya, sebab bagaimana mungkin ia akan menjadi seperti tokoh dalam komik. Ia pernah penasaran hingga membaca komik buatan istrinya itu. Dari sana ia bisa tahu bahwa, sosok Morodoki adalah pria sempurna yang pernah ada di bumi. Memiliki ilmu sakti mandraguna, tampan, baik, ramah dan menyenangkan, terlebih lagi ia seorang kaisar kerajaan.


Harlan memikirkan istrinya yang sama saja seperti kebanyakan wanita. Ia suka berkhayal sesuatu yang tidak mungkin mereka dapatkan. Lalu, mereka putus asa dan patah hati, karena berharap terlalu tinggi pada pria yang mereka cintai. Bagi wanita mungkin lebih baik sendiri dari pada tidak dicintai. Sementara bagi laki-laki, lebih baik tidak dicintai dari pada tidak dihargai.


“Ya. Dia adalah tokoh buatanku dan aku ingin laki-laki yang aku cintai, kelak seperti dia!”


“Tapi aku tidak punya ilmu membelah diri seperti dia!”


Maisara tertawa, lalu bergulir ke atas tubuh Harlan dan menindihnya, lalu menyimpan kepala di atas dada suaminya.


“Kamu punya semua yang aku butuhkan, bahkan Morodoki tidak bisa memberikannya!”


“Apa?”


“Cinta!”


“Kan, sudah aku bilang ... aku mencintaimu, Maisara!” kata Harlan sambil mencium kepala wanita yang ada di atas perutnya.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan Mahes dari luar kamar. Maisara segera bangkit dari atas badan suaminya dan menghampiri bayi yang baru bangun dari tidur. Ia segera menggendong dan menyusui agar anaknya kembali tenang.

__ADS_1


Tidak lama, Harlan keluar dari kamar setelah mengganti pakaian dengan baju santai. Ia mendekati Maisara dan menurunkan pandangan untuk melihat bayi Mahes yang sedang menempel di dada istrinya.


“Hai! Sudah kubilang, jangan menghisap Ibumu terlalu lama! Nanti dia kurus!” katanya, membuat Maisara tertawa.


“Seorang ibu tidak akan kurus hanya karena menyusui anaknya, kecuali karena hal lain!” sahut Maisara.


Tiba-tiba Mahes melepaskan mulutnya, ia menoleh pada Harlan dan tersenyum. Pria itu sudah mengalihkan perhatiannya, dan ia sudah kenyang.


“Aku tidak menyuruhmu tersenyum seperti itu, ayo! Ikut aku!” kata Harlan.


Pria itu mengulurkan tangan untuk meraih Mahes, dan menggendongnya dengan hati-hati, karena ia belum terbiasa. Gerakannya kaku sekali. Meskipun demikian, ia berhasil.


Harlan membawa Mahes ke hadapan foto ayahnya di tengah-tengah ruangan, di sana berjajar foto-foto kenangan saat Mahespati Prawira masih hidup. Pria itu berpose begitu manis dan elegan di beberapa kegiatan besar, bersama orang-orang kenamaan Kota Askanawa.


“Ayah! Lihat, ini cucumu, kata orang dia mirip sekali denganku, tapi bagiku dia lebih mirip denganmu! Istriku memberinya nama Mahes Prata, mirip sekali dengan namamu. Padahal dia bilang asal-asalan!”


Maisara mendengarnya dan meralat, ia ikut bicara di hadapan foto ayah mertua, “Ayah! Memang aku asal-asalan, tapi yang terlintas di pikiranku waktu itu adalah namamu!”


“Kamu tidak mikirin aku?”


“Tidak!”


“Tapi, aku kan sudah bilang kalau aku mencintaimu?”


“Aku mengingat nama ayah bukan berarti aku tidak mencintaimu! Seperti aku menghargai ibu, bukan berarti aku tidak menghormatimu sebagai suamiku!” Maisara berkata sambil mencium pipi kiri Harlan. Lalu, keduanya saling menatap dan melemparkan senyuman termanis yang pernah mereka berikan.


EPILOG


Dua wanita paruh baya melihat pemandangan anak mereka dengan senyuman bahagia.


“Nyonya Wendi, apa kau lihat betapa bahagianya mereka?”


“Ya, Bu Daina ... aku berharap mereka akan selalu bahagia!”


“Aku pun berharap begitu, semoga cucu kita bertambah dan rumah ini lebih ramai, penuh dengan keceriaan cucu-cucu kita!”


“Aamiin ....”


SELESAI


Udah yaa ... part tambahannya segitu aja .... Salam manis sekali lagi! 😊


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2