Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 11


__ADS_3

Perintah Bertahan


Wendi menangis, wanita itu duduk di samping Harlan di kepala tempat tidur, kedua kakinya ditutupi selimut sebatas perut.


Sementara Maisara masih berdiri di dekat sofa, belum berubah dari tadi.


“Jadi kau memberiku istri walaupun aku tidak menginginkannya?”


“Ya.”


“Kau Naif sekali, Bu!”


“Kau pikir akan di kemanakan warisanku tanpa seorang anak? Aku tidak akan memberikannya pada batu! Kecuali kau rela melimpahkannya pada Roni Mahespati, dia akan menikah sebentar lagi!”


Harlan kembali berbaring, setelah mendengar semua ocehan ibunya yang bagai lagu penghantar tidur. Ia mulai memejamkan mata, sementara seluruh otot tubuhnya masih kaku.


“Kemari!” Kata Wendi saat ia melangkah melewati Maisara. Ia menggandeng tangan gadis itu keluar kamar.


“Mai, dengar ... bertahanlah di sisinya walau apa pun yang terjadi!” kata Wendi sambil memegang tangan Maisara, sebelum akhirnya ia pergi tanpa menunggu jawaban.


Ia tak mau mendengar kata tidak dari gadis itu.


Maisara tercengang. Ini sungguh di luar dugaan, bagaimana ia bisa bertahan di sisi laki-laki yang sama sekali tidak menginginkan dirinya? Hubungan seperti apa yang akan ia jalani selanjutnya.


$$$$$$$$$$$$


Siang harinya Harlan di bawa oleh pengawal dan asistennya ke rumah sakit dengan kursi roda. Ia sempat melirik Maisara dengan tatapan acuh yang dingin saat melewatinya.


Gadis itu memilih pergi ke kafe dekat kampusnya yang dulu, untuk bertemu Sanaya. Mereka belum pernah bertemu lagi, sejak terakhir acara pisah sambut ketua senat mahasiswa di kampus mereka.

__ADS_1


Maisara ingin melampiaskan kekesalannya. Ia kecewa setelah tahu ternyata sang suami sama sekali tidak peduli.


Sementara Sanaya melihat Maisara seperti mayat hidup yang pucat pasi. Berjalan tanpa gairah. Saat sudah duduk di hadapannya, pun ia enggan memesan makanan.


“Kau mau minum apa?”


“Jus!”


“Jus apa?”


“Apa saja!”


“Aku lebih baik pergi kalau kau begini, tidak ada gunanya kita bertemu, apa kau dalam masalah?”


Maisara tidak menjawab.


“Kenapa?”


Semua orang di kota tentu tahu siapa pria itu, raja di dunia industry elektronik, kendaraan dan konfeksi.


Semua tidak masuk akal bila orang yang selalu dalam pengawalan ketat bisa mengalami keracunan. Ia koma karena hal itu. Anehnya siapa pelakunya tidak terungkap sampai saat ini.


Namun, desas-desus yang terjadi adalah Harlan sakit biasa dan mengalami stroke di usia muda. Melihat berita itu di media sosial, seakan membenarkan bila karena uang maka seseorang bisa melakukan segalanya.


“Entahlah! Aku harap jadi istrinya, lalu dia mati dan akulah yang mendapatkan warisannya!” Sanaya tertawa setelah bicara.


“Itu tidak mungkin, kecuali kau bisa punya anak ... aku pikir kau tidak sanggup memberinya sepuluh bayi!” Maisara kembali melanjutkan obrolan.


Seorang pelayan datang menghidangkan pesanan mereka hingga berhenti bicara.

__ADS_1


“Apa kau bercanda! Aku ini subur!”


Maisara mendecak kesal dan berkata, “Lalu, bagaimana kalau dia yang tidak subur?” katanya.


“Aku akan melakukan bayi tabung!”


“Itu ilegal! Kalau benih yang kau pakai bukan benih asli miliknya!”


“Apa kau mengujiku! Aku bisa bercinta dengannya walau dia lumpuh!”


Maisara kembali mencebik. Ia sudah membuktikan kalau milik pria itu tidak bangun padahal ia sering tidur dalam keadaan tanpa busana!


Ahk, ia hampir gila memikirkannya, bagaimana kalau selama ini, saat mereka tidur, Harlan sebenarnya melihat semuanya, buktinya dia bangun tadi malam saat ia tertidur pulas. Tiba-tiba pipinya menghangat dan bersemu merah.


“Ayo! Aku akan ke perusahaan Ayah, apa kau mau ikut?” ajak Maisara, sambil berdiri.


“Apa itu artinya kau memberiku pekerjaan?”


“Tidak juga, kau akan kubayar sebagai sahabat!”


“Hansan Foundation tidak akan mampu membayarku!” Sanaya mengikutinya.


“Aih! Kau ini!”


Sesampainya di Hansen foundation, Maisara benar-benar mendapatkan perusahaan ayahnya hampir bangkrut. Ia jarang pergi ke sana walaupun berniat menggantikan sang ayah, karena ia pikir perusahaan itu baik-baik saja. Ia justru lebih banyak menghabiskan waktu menggambar kartun.


“Mai! Apa yang akan kau lakukan? Apa semua ini ulah Ibu tirimu?” Sanaya berteriak cukup keras.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2