Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 45


__ADS_3

Pak Jaka


Hari ini, Maisara keluar rumah, tanpa pencegahan, dan tentang apa alasannya ia tidak mau tahu. Dalam hati ia hanya menduga kalau Harlan tengah sibuk dengan urusan pernikahannya atau laki-laki itu, sudah tidak peduli lagi dengan dirinya.


Ia pergi ke apartemen Daina dan wanita itu masih menyetrika pakaian saat ia datang dan mengadukan semua yang ia dengar dan ia alami kemarin.


“Dia suamimu, tentu berhak atas dirimu! Lantas, kenapa kau marah?”


“Ibu, aku tahu dia berhak atas diriku tapi dia mau menikahi wanita lain dan wanita itu sedang hamil anak orang lain apa dia gila?”


Maisara jadi sangat jijik dengan hubungan badannya kemarin. Walaupun, ia mengakui kalau suaminya lebih kuat dari sebelumnya, ia tetap tidak suka karena Harlan memaksa.


Ia masih ingat apa yang dikatakan laki-laki itu bahwa, ia tidak percaya apa yang dikandungnya itu adalah anaknya sendiri. Padahal ia saat itu ia sedang koma, harusnya dia lebih percaya pada orang lain, karena tidak sadar dengan apa yang terjadi sebelumnya.


“Seharusnya tanyakan saja alasannya, kenapa dia tidak mau melepaskanmu?”


Cinta Harlan untuk Raina begitu besar, tidak sebanding dengan diriku, yang tiba-tiba muncul menjadi istrinya dan mengaku sudah hamil anaknya. Tentu seseorang yang berpikir logis dan dewasa tidak akan menerima kenyataan itu dengan mudah. Laki-laki seperti Harlan tidak mungkin menjadi orang yang tidak masuk akal hingga jatuh cinta padaku, kan?


Saat Maisara masih melamun teleponnya tiba-tiba berdering. Panggilan itu dari seseorang yang terlibat dengan perusahaan ayahnya di masa lalu. Ia menghubungi Maisara saat berada di gedung Hansan Foundation, bersama beberapa orang yang berwajah gelap mengelilinginya.


“Nona Haya! Beberapa orang meminta pembayaran bulan ini, karena sudah tidak bisa di tunda lagi jatuh temponya. Saya sudah mencoba menundanya selama seminggu, menunggu mungkin saja ada kabar baik dari Anda!”


Maisara tercengang, ia menitikkan air mata.


“Pak Jaka, terima kasih atas bantuannya, aku usahakan hari ini akan mendapatkan solusinya!”


“Baguslah, Nona. Hubungi saya kalau Anda kesulitan dalam bernegosiasi dengan orang yang akan membantu Anda hari ini! Atau kalau Anda membutuhkan bantuan lainnya saya akan selalu siap untuk itu.”


“Tentu tentu saja saya akan mengabari Pak Jaka secepatnya!”


Masara segera bangkit dari rebahannya dan berpamitan pada Daina. Setelah itu ia keluar apartemen ibunya dengan cepat. Ia terpaksa harus menjual gedung itu demi membayar semua hutangnya.

__ADS_1


Sementara Jaka, laki-laki kepercayaan Maisara itu, berhasil menenangkan semua orang dengan mengatakan pada para penagih hutang agar menunggu kabar baik hari ini juga.


Maisara berada di mobil keluarga Harlan, ia menghubungi Sanaya setelah duduk di kursi penumpang belakang, dan kendaraan mewah itu mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Sopir mendengar semua yang di bicarakan Maisara dalam diam.


“Sanaya, kau ada di mana? Ayo hubungi Sunni dan kita bicara di luar!”


“Hai! Kau bilang mau mengajakku ke rumah Ibumu, apa kau lupa?”


“Tidak! Tapi, ini mendesak, aku tidak mau bertemu dengan Sunni berdua saja dengan dia!”


“Baiklah, baiklah! Aku akan mandi dulu sekarang!”


“Tidak usah mandi!”


“Hai! Bagaimana kalau Suni atau kau mau menciumiku nanti?”


Maisara mengerutkan alis, ia tidak tahu kalau hubungan sahabatnya itu dengan Sunni sudah berkembang dengan perlahan ke arah yang lebih serius.


Maisara menutup telepon dan sekarang ia menghubungi Sunni.


“Hallo, Tuan Sunni, apa kau ada waktu?” kata Maisara begitu telepon tersambung.


“Hallo, Nona Haya! Lama sekali? Kuharap kau sudah memikirkan keputusanmu sekarang!”


“Tentu, aku akan memberikan apa yang kau inginkan!”


“Baiklah, bagikan lokasimu, aku akan segera meluncur ke sana!”


Sunni mengirimkan pesan pada Harlan setelah Maisara meneleponnya.


“Kau tunggulah, sekarang istrimu meminta bertemu, semoga dia memenuhi harapanmu, kau sungguh-sungguh dengan jumlah 20 milyar, kan? Kalau kau tidak sungguh-sungguh, aku akan mengutukmu jadi batu!” Tulis Sunni pada pesannya.

__ADS_1


Sementara di suatu tempat, Harlan tersenyum samar membaca pesan Sunni, dengan penjualan gedung itu, maka ia pikir Maisara akan selamanya bergantung padanya karena berhutangbudi.


Maisara menunggu Sanaya cukup lama setelah ia berbagi lokasinya, membuatnya kesal. Gadis itu tidak muncul juga, bahkan setelah Suni selesai memesan minuman, untuk mereka.


Sekarang mereka tengah berada di sebuah cafe yang dulu pernah mereka gunakan, untuk bertemu secara bertiga pula. Itu adalah cafe yang terletak di tempat strategis dan mudah dijangkau dari manapun di seluruh bagian distrik Kita Askanawa.


Pada sebagian besar waktu habis hanya untuk meneguk kopi dan mengobrol dengan Sunni.


Ia sungguh laki-laki yang menarik dan ramah, Sanaya sungguh beruntung bila menjadi kekasihnya. Seandainya Maisara belum menikah dan hamil, mungkin akan jatuh cinta juga Namun, Suni dan Sanaya akan menjalin hubungan, Maisara harus tahu diri, ia hanya tertarik sebatas penampilan.


Mata dan selera seorang wanita tidak pernah salah dalam melihat laki-laki yang disukainya. Meskipun Harlan bersikap sangat menyebalkan, tapi laki-laki itu lebih menonjol dalam hal penampilan, dibandingkan laki-laki mana pun yang pernah ditemuinya.


“Sunni, apa kau mengenal Fedi?”


Maisara memancing pengakuan Sunni, atas hubungan antara dirinya dengan perusahaan Mahespati. Ia sekaligus mengecek kebenaran yang disampaikan Sanaya padanya, beberapa hari yang lalu.


Suni sudah melarang Maisara memanggilnya dengan sebutan Tuan, padahal dirinya sendiri masih memanggil Maisara dengan sebutan Nona. Ia merasa harus menghormati istri sahabatnya dengan baik, itu saja.


Kalaupun benar Suni memiliki hubungan dengan Harlan, ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa, karena keadaan sudah tidak terkendali.


Jadi, sepertinya ia terpaksa akan menyepakati jual beli. Meskipun begitu, ia sudah bertekad berapa pun yang akan Harlan gelontorkan untuk dirinya, maka ia tidak akan merasa berhutang budi.


Biar bagaimanapun, jual beli tidak akan menyisakan rasa balas jasa, karena semua barang memiliki harga. Begitu pula dengan Harlan, walaupun sudah mengeluarkan uangnya toh ia akan menjadi pemilik dari gedung Hansan. Itu sangat setimpal.


“Fhedi? Kalau maksudmu Fhedi Darmawan, orang yang bekerja di Mahespati Industries, ya, dia temanku sejak sekolah di SMA!” Suni menjawab setelah mengerutkan alisnya begitu dalam.


Suni pernah melihat Sanaya yang melihatnya saat keluar dari sebuah hotel beberapa hari yang lalu, ia tahu seperti apa mulut wanita itu kalau bicara pada Maisara. Jadi, ia merasa tidak perlu menutupi beberapa hal lagi. Ia sudah sangat siap untuk menjelaskan semuanya jika Maisara curiga, dengan siasat Harlan atau ia pun siap jika Maisarah menolak kesepakatan.


“Apa kau masih ada masalah dengan itu, Nona Haya?”


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2