Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 43


__ADS_3

Hasilnya Positif


 


“Sanganya, aku tidak bisa percaya sama kamu karena kamu ...!” kata Maisarah sambil memalingkan pandangan.


“Kenapa?” tanya Harlan penasaran.


“Karena kamu mau menikah sama Raina ... Harlane ... Aku tahu semuanya, aku tidak mau punya suami yang beristri dua! Jadi, ceraikan aku sekarang juga!”


“Apa kamu begitu membenciku sampai terus-terusan bilang cerai?”


“Memangnya aku harus bilang apa? Kalau bukan karena Tante Wendy, kita nggak saling kenal, jadi buat apa diteruskan ...? Sana, menikah saja sama Haira!”


“Apa kau punya rasa suka padaku sedikit saja?”


Maisarah tertawa kecil, dia seperti mengejek Herlan saat mendengar pertanyaan yang menurutnya sangat konyol.


“Seharusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri apa kamu memang layak untuk disukai atau tidak? Pertanyaan yang aneh!” sahut Maisara setelah berhenti tertawa.


Maisara benar, kalau laki-laki memang mencintainya, maka wajar bila ia mempertanyakan tentang perasaannya.


Pada saat itu Harlan terlihat sanagt marah. Ia membuka kancing kemejanya satu persatu, setelah melucuti semua pakaian Maisara secara paksa dan cepat dengan cara merobek. Gadis itu benar-benar tidak berdaya di bawah kekuasaan suaminya. Kaki terus meronta-ronta, karena tidak ingin Harlan melakukan sesuatu pada bagian di antara keduanya. Namun, pria itu tetap berhasil melakukan apa yang ingin ia lampiaskan. Hal ini terjadi cukup lama, membuat Harlan begitu puas karena latihannya berhasil, dan ia bisa bertahan dengan kedua lututnya lebih dari sebelumnya.


“Dengar! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu!” kata Harlan, setelah ia selesai dan merebahkan dirinya ke samping Maisara yang tampak meneteskan air mata.


Seketika Maisara memiringkan badan, lalu menabrakkan keningnya pada kening Harlan, membuat pria itu terkejut.


Ahk! Wanita ini sangat kasar, dia ini apa tidak pernah belajar sopan santun?


Harlan tidak menyangka Maisara akan berbuat begitu berani padanya, tapi ia juga kesal mengapa ia tidak bisa melawan seolah-olah ia lemah di hadapan wanita yang kasar itu. Ia melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu duduk di atas tempat tidur dengan segera sambil membasahi bibir, mengabaikan rasa sakit di keningnya.

__ADS_1


“Apa kau gila dan kamu akan bawa wanita itu di sini satu rumah denganku? Ahk ... lupakan saja, aku pasti akan membunuhnya!” kata Meisara sambil meringis dan mengusap keningnya yang sakit, kepala pria itu ternyata cukup keras.


Harlan terlihat kesal ia bangkit dari tempat tidur, lalu memakai pakaiannya kembali dan keluar kamar sambil bersungut-sungut. Ia pergi ke kantor lagi.


Di mansion keluarga Mahespati, kedua orang tua Haira datang menemui Wendi, mereka membawa banyak hadiah dan makanan untuk wanita paruh baya itu. Semua barang yang dibawanya adalah benda bermerek dan berkualitas bagus.


“Jadi, apa anakmu sekarang sudah pulih?” tanya Wendi.


“Ya. Kami sangat bersyukur untuk itu, dan tujuan kami kemari adalah untuk membicarakan rencana selanjutnya tentang pernikahan anak-anak kita Nyonya Wendi,” kata Ibu Haira.


“Ya, Nyonya ... aku yakin Harlan sudah mengatakannya!” kata Ayah Haira dengan semangat.


Mereka yakin, bisa menyelamatkan harga diri dan nama baik mereka lebih cepat. Sebelum kehamilan Haira terlihat orang. Mereka mengetahui kehamilan itu saat sudah sangat terlambat, karena usia kandungan sudah besar. Lagi pula mereka tidak mungkin membunuh janin yang sudah terlanjur bernyawa.


Wendi tampak mengerutkan alisnya karena ia memang tidak tahu apa yang kedua tamunya bicarakan.


Kedua orang tua Haira akhirnya mengatakan keinginan anaknya dan juga keinginan mereka sendiri.


“Bagaimana ini mungkin, Tuan, Nonya ... Harlan sudah menikah ... Sejarah seperti ini belum pernah terjadi di keluarga Mahespati dan aku tidak ingin menceraikan menantuku!”


Wendi berhenti sejenak untuk menarik napas panjang.


“Apalagi kalau sudah resmi menikah, tidak mungkin tidak bertanggung jawab, kami keluarga Mahespati punya harga diri!”


Saat saat itu Wendy tiba-tiba ingat bagaimana hasil tes dari bayi tabung yang dilakukan oleh Maisara. Saat itu ia jatuh sakit hingga masuk ruang ICU dan dirawat begitu lama hingga ia lupa,  tidak lagi menanyakan keberhasilannya pada Maisara.


Sebelum sempat kedua orang tua Haira menjawab pernyataan Wendi bahwa, mereka tidak masalah menjadikan anaknya sebagai istri kedua, Wendy pamit pergi. Ia meninggalkan dua tamu yang datang secara tiba-tiba itu.


Wendy pergi ke kamarnya dan menghubungi Maisara lewat telepon rumah. Namun, tanpa Wendi ketahui, Ibu Haira mengikutinya dari belakang. Seorang asisten yang melihat tidak berani bicara karena takut terjadi percekcokan. Apalagi para pelayan sudah dilarang ikut campur, apa pun urusan majikan mereka.


Wendi segera memutar beberapa nomor, “Halo, Mai! Apa kabarmu, ini aku!” Kata Wendi begitu telepon tersambung dengan menantunya.

__ADS_1


Saat itu Maisara heran kenapa Wendy menghubunginya melalui nomor telepon rumah yang tidak dia kenal. Ia hanya mengenali Ibu mertuanya itu dari suaranya.


“Ya. Ibu ada apa kamu meneleponku,” kata Maisarah sambil tersenyum di seberang sana seolah-olah Wendy ada di hadapannya.


“Aku lupa untuk menanyakan hasil tes bayi tabungmu, apakah berhasil atau tidak?”


Maisara seketika diam, Ia berpikir apakah harus jujur pada Wendy atau tidak, karena ia khawatir jika mengakuinya Harlan akan menolak dengan alasan yang sangat jelas, yang akan dilahirkannya adalah seorang anak dan bukannya boneka.


“Ibu, maafkan aku ... Harlan tidak menyukai anak-anak apakah aku harus melanjutkan bayi tabung ini, bagaimana kalau dia menolaknya?”


“Apa masalahnya hanya itu? Aku menginginkan seorang cucu, jadi bayi dalam rahimmu adalah urusanku, bukan urusan Harlan! Dan, kalaupun itu sudah berhasil,  kau tidak perlu mengkhawatirkan anak bodoh itu!”


“Bagaimana kalau dia menginginkan dan memintaku melakukan aborsi, apa kau akan menyetujuinya?”


“Omong kosong! Kau harus pertahankan bayi itu apa pun yang terjadi, dia adalah cucuku, Mai, masa bodoh Harlan mau mengakuinya atau tidak!”


“Baiklah, kalau begitu aku akan mempertahankan bayi ini!”


“Jadi, prosesnya berhasil waktu itu?”


“Ya. Maafkan aku, Bu! Aku tidak mengabarkannya kepadamu karena aku takut!”


“Baiklah, ini saja sudah cukup!”


Wendy menutup ponselnya setelah itu, tetapi saat ia akan berbalik ia melihat sebuah bayangan yang berkelebat pergi dari sisi tembok dekat pintu, membuatnya heran.


Siapa yang menguping? Berani-beraninya!


 


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2