Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 94


__ADS_3

Pengundang Pelangi


"Maafkanlah anak itu,” kata Maisara, sambil menoleh ke arah di mana Caca pergi. Lalu, ia menggamit tangan Harlan dan menciumnya.


Harlan memalingkan muka, ia sedikit kesal, karena kejadian kali ini adalah episode yang paling menjengkelkan. Bagaimana tidak jengkel kalau istrinya itu bersikap manis padanya demi orang lain.


“Dia mungkin mengalami trauma. Aku pernah melihat dia menangis sendiri di hari kematian ayahmu, atau saat dia datang mengunjungi makam Tuan Mahespati. Dia bisa ratusan kali mengucapkan kata terima kasih dan maaf kepadamu di dekat pusara, aku membayangkan bagaimana menderitanya gadis itu!”


Harlan tidak menolak ataupun berkomentar.


“Maafkan aku kalau bilang sesuatu yang tidak kamu suka, apa kamu sudah bertemu dengan ibunya?”


Pertanyaan Maisara membuat Harlan tertegun, karena selama ini ia menutup mata dari keluarga Caca. Bahkan, ia menganggap orang itu tidak pernah ada di dunia.


Harlan menggelengkan kepalanya.


“Jadi, kamu tidak tahu kalau ibunya kehilangan dua kaki karena kecelakaan itu?” Maisara bicara sambil meletakkan telapak tangannya di kedua pipi Harlan. Tatapan mereka saling beradu dan wajahnya tidak bergerak ke mana pun selain padanya.


“Kamu kehilangan ayah, dan ibunya kehilangan kaki, apa itu masih belum sepadan? Walaupun nyawa tidak pernah bisa ditukar, tapi melihat ibunya seperti itu setiap hari, jauh lebih menyakitkan!”


Maisara sekedar menjelaskan tentang pendapatnya pada kejadian kecelakaan Caca yang merenggut nyawa ayah dari suaminya. Sementara untuk apa pun tanggapan Harlan, ia tidak bisa memaksa. Wanita itu merasa sudah cukup bersikap manis.


Ia melepaskan pegangan tangannya di wajah Harlan lalu kembali berkata, “Tunggu di sini, kalau kamu tidak mau melihat anak itu lagi, tidak semua anak itu sama ... kamu boleh membenci Caca, tapi tidak boleh membenci Mahes, karena dia darah dagingmu!”

__ADS_1


Setelah itu Maisara melangkah ke arah yang ditunjuk Caca, tanpa ia sadari Harlan berjalan dengan perlahan di belakangnya.


“Hai Mai, apa kabar?” tanya ibu Caca sambil menjabat tangan Maisara dan tersenyum lembut.


“Maaf, aku memintamu datang ke sini, sebab aku tidak membawa kursi roda jadi aku tidak bisa turun.”


“Tidak masalah, apa yang ingin kau sampaikan?”


“Tidak ada, aku hanya membutuhkan izin kalau aku membuat foto seperti ini!” kata Ibu Caca sambil menunjukkan sebuah pigura besar di sana terdapat lukisan tiga orang wanita Caca ibunya dan Maisarah. Gambar itu dibuat atas permintaan Caca.


“Gambar inj akan aku pajang di rumah serta di kantorku, apakah boleh?”


“Tentu!”


“Tidak! Tidak perlu, aku bukan artis atau orang terkenal! Oh ya, dari mana kau mendapatkan fotoku, perasaan aku tidak pernah berfose seperti itu?”


“Maaf ... Aku mau ngambilnya dari media sosial, kita tidak pernah bertemu atau foto bersama. Ini kesempatan yang langka, sebab aku akan kembali ke Askanawa sekarang, aku jarang sekali mengunjungi Caca di sini, dan tadi ia terlambat datang ke penandatanganan karena menemuiku!” kata ibu Caca.


“Oh ya?” Maisara berkata sambil menoleh pada Caca, Gadis itu tersipu malu sambil mengeluarkan komik buatan Maihay, edisi terbaru yang baru ia beli karena sponsor itu.


“Tolong tandatangani punyaku, ya? Apa masih boleh dan sah? Seharusnya aku datang ke sana dan mengikuti semua acaranya!” Caca berkata penuh penyesalan.


Maisara tersenyum dan mengambil buku itu dari tangan Caca, lalu menandatanganinya.

__ADS_1


“Ini, ambillah khusus untukmu dan jangan bilang siapa-siapa!” kata Maisara.


“Tentu! Oh ya! Ini hadiah untukmu!” Caca berkata sambil, mengambil sesuatu dari dalam mobil sebuah kotak kecil terbuat dari kaca yang transparan ada sebuah benda di dalamnya.


“Ini, pengundang pelangi buatan ibuku!” katanya.


“Oh! Ini cantik sekali!” kata Maisara sambil membuka kotaknya, bagi sebagian orang hadiah yang menarik belum tentu yang terbuat dari benda mahal, seperti mutiara dan berlian. Namun, hal-hal sentimentil terkadang jauh lebih mengesankan.


“Terima kasih, Bu!” kata Maisarah sambil menunduk pada ibu Caca.


“Memang itu ku-buat sendiri, tapi barang bahan-bahannya asli dibeli dari Cina, kau bisa menggantungnya di jendela, dan menggoyangkannya setiap kali turun hujan, jadi pelangi akan muncul setelah hujan berhenti.”


Maisara tersenyum lebar, menerima kotak itu dengan mata yang berbinar, pemberian itu lebih berharga daripada emas dan permata baginya.


Ada beberapa benda lain yang dibuat dan berbentuk hampir sama, seperti benda pengusir mimpi buruk atau benda penarik keberuntungan lainnya.


Terlepas dari mitos apa pun yang dipercayai oleh orang-orang di berbagai negara, tapi bentuk-bentuk benda itu sangat indah dan menarik. Bahkan, beberapa bentuk dibuat sedemikian rupa hingga mengeluarkan bunyi gemerincing yang bagus. Sebuah hadiah atau kenang-kenangan yang justru sering dipandang, karena digantungkan di tempat-tempat strategis di dalam rumah.


“Baiklah, aku senang sekali menerima hadiahnya, untung saja aku punya jendela yang sangat strategis kalau ini digantungkan di atasnya, pasti sangat cocok!” kata Maisara sambil memasukkan benda itu ke dalam tasnya.


Tiba-tiba Caca dan ibunya menoleh ke sebuah arah dan menatap dengan terkejut.


“Pak Harlan?” Ucap ibu dan anak itu hampir bersamaan.

__ADS_1


❤️❤️,❤️❤️


__ADS_2