
Pergi Ke Desa
Maisara tidak peduli dengan Harlan yang wajahnya semakin memerah menahan amarah. ia terus berjalan ke kamarnya dan ingin tidur.
Menurut Pengawal, wanita itu benar-benar tidak takut mati, ia berani melawan bos mereka.
Sementara Harlan benar-benar berharap bisa bangun untuk melakukan sesuatu pada gadis itu. Pengawal mendorong roda kursi rodanya ke kamar kerja. Pria itu meredamkan amarah serta geram di hatinya, dengan memejamkan mata.
Sial! Ia merutuk dalam hati, sebab ketika matanya terpejam, justru adegan-adegan dalam kamera-lah yang terbayang. Ia sudah melihat semuanya dari awal sampai akhir. Bagaimana wanita itu mengoles wajahnya dengan krim, memijat, menggelitik kakinya dan juga memeluknya sembarangan.
$$$$$$$$$$
Maisara pergi ke anjungan tunai, menarik uangnya dari aplikasi yang ia gunakan untuk membuat komik. Uangnya cukup besar kali ini, dan akan ia gunakan untuk membayar kendaraan yang akan mengantarkannya ke Desadee, ia akan pergi menemui ibunya.
Hari itu antara dirinya dan Harlan tidak saling bertemu, karena ia sengaja bangun lebih pagi. Ia mengira laki-laki itu masih ada di kamarnya ketika dia pergi. Namun, Ia menyampaikan tujuan kepergiannya kepada Hara.
__ADS_1
Maisara meminta sopir hanya mengantarkannya sampai ke halte bis, di mana ia akan menunggu kendaraan umum itu, sesuai jurusan yang akan mengantarkannya ke kampung ibunya.
Daina tinggal bersama saudaranya yang lain dalam satu rumah, dan ia memutuskan untuk tetap melajang selama sisa umurnya. Ia hanya mencintai satu pria, sampai ia tiada kelak, yaitu ayah Maisara. Ia wanita yang setia, mau mengalah saat mengetahui suaminya mencintai wanita lain, dengan harapan laki-laki itu akan lebih bahagia.
Maisara mendapati ibunya adalah wanita yang luar biasa dan lemah lembut. Ia hampir tidak pernah melihat ibu dan ayahnya bertengkar, selama mengurusnya sampai ia dewasa. Kecuali saat mengetahui ayahnya memiliki wanita lain. Ibunya sangat marah besar. Suasana tidak nyaman memaksanya pergi, setelah beberapa bulan bersabar dan bertahan, tapi keadaan tidak lebih baik.
“Kamu datang juga, Hay!” sang ibu memeluk erat Maisara ketika tiba di rumah keluarga kakeknya itu dengan selamat.
Daina tinggal di rumah sederhana itu karena tidak ada pilihan lain. Meskipun saudaranya memperlakukannya dengan baik, tetapi wanita itu tetap saja tidak enak. Ia tidak memiliki penghasilan, dan hanya membantu saudaranya mengasuh anak, saat mereka pergi bekerja. Ia pun menceritakan semuanya pada Maisara.
Ibu dan anak itu berbicara di kamar Daina.
Maisara bersama dengan Daina, beberapa bulan yang lalu, mereka bertemu hanya saat-saat tertentu saja, seperti saat sang ibu memberinya semangat pada sidang skripsinya, dan saat Wisuda.
“Ya, aku betah, Bibimu memperlakukanku dengan baik. Aku hanya perlu menjaga anaknya saja.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau Ibu mengontrak rumah saja di kota, dekat denganku, Bu ... jadi kita bisa sering bertemu?”
“Apa kau punya uang, bagaimana perusahaan Ayahmu?”
Maisara menceritakan semua tentang pernikahan dan juga perusahaan ayahnya. Daina menangis, ia merasa dikhianati oleh anaknya sendiri karena tidak memberinya kabar tentang pernikahan, bahkan ini sudah lewat dari dua bulan lamanya.
“Maafkan aku, Bu. Semua serba tiba-tiba. Makanya sekarang aku ingin Ibu pindah ke kota saja ... jangan pikir tentang biaya hidupmu, aku yang akan menanggungnya, aku membutuhkanmu, Bu ...!”
“Baiklah, ayo kita pindah ...,” kata Daina sambil berjalan ke lemari pakaian, “Kita berangkat besok!”
“Ya.”
“Haya .... Apa kau sedang hamil anak laki-laki itu?” Daina bertanya disela-sela kegiatannya mengemasi pakaian dalam koper.
Maisara mengangguk, membuat Daina tercengang. Ini begitu cepat, padahal dirinya dahulu, begitu lama untuk mendapatkan seorang anak.
__ADS_1
“Bu! Aku ingin menggugurkannya! Laki-laki itu tidak menyukai anak-anak, aku tidak mau anakku dibunuh setelah aku melahirkannya nanti!”
❤️❤️❤️❤️