
Selesai makan malam, baik keluarga Gilang maupun keluarga Ratna, sama-sama berjalan beriringan keluar Mall menuju mobil mereka yang terparkir di sana. Namun, langkah kaki Gilang menatap lurus punggung gadis itu dengan tatapan kagum.
"Eh, dia tepat beberapa langkah di depanku," ucap Gilang dalam hati dan terus melangkah hingga keluar gedung Mall pun Gilang masih menatapnya yang berjalan di belakang Paman dan bibinya.
Membuka pintu mobil, Pak Adam dan Bu Yuli meletakkan barang belanjaannya di kursi belakang. Sedang Ratna membawa beberapa kantong kresek berisi pakaian dirinya dan Frida.
Kemudian, mobil segera melaju kendaraannya meninggalkan Mall menuju rumah. Sedang Pak Ahmad dan Bu Salma hanya membeli beberapa pakaian dan tas yang dibelikan oleh suaminya tadi. Tak lupa, Salma yang telah menganggap Gilang sebagai anak sendiri juga membelikan satu set pakaian dan sepatu untuk kuliah keponakannya itu
Masuk ke mobil masing-masing, Pak Ahmad melajukan kendaraan roda empatnya membelah jalanan kota Jakarta yang padat merayap.
Sampai di depan rumah, mereka semua turun dan Pak Adam membawa beberapa barang dibantu Bu Yuli, Ratna dan Frida ke rumah.
"Hah, sampai juga di rumah! Kakiku pegal semua berjalan dua jam di Mall," keluh Ratna memijat kakinya setelah meletakkan barang belanjaan di dapur.
"Baru juga segitu aja udah pegal! Gimana kalau disuruh lari keliling lapangan kampus?" sahut Frida duduk bersandar di sofa.
"Memangnya kamu sendiri gak pegal apa?" tanya Ratna penasaran.
"Nggak! Frida sudah terbiasa, Mbak," sahut Frida.
__ADS_1
Ratna hanya mencebikan bibirnya menanggapi perkataan adiknya itu. Tak lama, kedua orang tuanya datang menghampiri mereka di ruang keluarga membawa cemilan dan 4 minuman diletakkan di meja.
"Nih, silahkan diminum." Bu Yuli tersenyum saat meletakkan minuman tersebut.
"Wah, makasih Bu," seru kedua anaknya duduk dengan tegap seraya mengambil minuman dan menenggaknya hingga separo gelas.
Mereka berkumpul mengobrol bercanda tawa bersama di ruang keluarga.
Di rumah Pak Ahmad.
Mereka telah sampai setengah jam yang lalu. Gilang masuk ke kamar setelah berpamitan kepada kedua orang tua tersebut.
"Pa? Mama senang ada Gilang disini. Walau hanya keponakan, tapi Mama sudah menganggapnya seperti anak sendiri." kata Salma melihat Gilang masuk ke kamar di lantai 2 itu.
"Iya Ma, Papa juga tahu. Makanya, Papa selalu tegas padanya, walau terkadang anak itu selalu berbuat ulah sampai membuat pusing kepalaku."
Salma menanggapi perkataan suaminya dengan bersandar di bahu. Betapa bahagia kehidupan keduanya walau tanpa kehadiran seorang anak. Yang terpenting, saling memahami satu sama lain. Lalu keduanya masuk ke kamar setelah mematikan lampu ruangan.
"Ma, malam ini Papa sedang ingin-?" ucap Ahmad terpotong saat memeluk istrinya.
__ADS_1
"Iya, boleh Pa?" ujar Salma yang tahu apa yang diinginkan suaminya itu.
Ahmad pun tersenyum lebar setelah mendapat jawaban dari istri tercinta. Dirinya langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajah, kaki serta menggosok gigi biar wangi.
Salma yang melihat suaminya pergi begitu saja hanya menggelengkan kepala seraya terkekeh geli. "Dasar Papa, kalau ada maunya saja tingkahnya bikin gemes."
Salma pun mengganti pakaiannya dengan lingerie yang seperti biasanya saat tidur bersama suaminya. Tak lama, Ahmad keluar kamar dan menatap Salma dengan pandangan terpana. Dirinya langsung duduk di samping istrinya yang juga duduk di kasur bersandarkan bantal. Setelahnya, mereka berdua melanjutkan sesuai keinginan yang sejak tadi ditahannya hingga malam telah larut mereka baru bisa tertidur dengan nyenyak setelah melepas hasratnya.
Di kamar, Gilang tak bisa tidur karena terus memikirkan wajah Ratna yang bak bidadari itu.
"Ratna. Hmmm, wajahmu sangat imut sekali saat sedang marah.," ucap Gilang bergumam dan baru menyadari saat pertengkaran yang terjadi diantara keduanya beberapa hari yang lalu.
"Pesona mu itu membuatku jatuh cinta saat melihatmu tersenyum manis tadi," imbuh Gilang tersenyum sendiri bila mengingat kejadian di Mall.
Gilang terus tersenyum sendirian di kamar. Bahkan, dirinya seakan lupa setelah kejadian beberapa hari yang lalu hampir membuatnya dimarahi oleh pamannya sendiri. Namun, semua itu kalah dengan pesona Ratna hari ini.
Mungkin, untuk kedepannya Gilang semakin jatuh cinta dengan Ratna bila terus bertemu di kampus itu setiap saat.
Malam semuanya, maaf ya baru update. Karena beberapa hari ini sibuk real hingga tak sempat menulis. Tetap dukung karya author ya agar semangat menulis. Untuk yang sudah mampir, author ucapkan terimakasih. Jangan lupa like, komen, hadiah dan tip iklan ya. Jangan ada boom like di antara kita. Happy reading 😘
__ADS_1