Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 58


__ADS_3

Pergi Ke Distrik Barat


“Ya, Bu. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan Harlan, tapi dia tidak mau bercerai, sudah pasti dia akan selalu menggangguku kalau tetap berada di sini!”


“Jadi, kau kabur darinya dan meninggalkan Wendi?” tanya Daina pada Maisara yang tengah mengeluarkan semua pakaian dan dalam lemari.


Maisara ingin cepat pergi, sebelum Harlan menyadari ketiadaan dirinya saat bangun nanti. Pria itu sedang tidur nyenyak saat ia tinggalkan tadi. Ia berharap pria itu tidak langsung mencari atau menghubunginya, karena itu ia mematikan ponsel, hingga saat Sanaya mencoba menelepon, tapi ia tidak bisa.


“Bukan begitu, Bu. Aku tahu Wendi akan mengerti kalau tahu alasannya!”


Daina tidak menanggapi karena ia tahu Maisara punya alasannya sendiri. Walaupun, memang Wendi tidak sadarkan diri sekarang, ia tetap akan bangun suatu hari nanti dan pasti akan kecewa karena menantunya pergi.


“Aku pikir kau akan bertahan karena kau lebih berhak atas Harlan, apalagi Wendi mendukungmu!”


Maisara diam saat sang ibu mengingatkan dirinya soal pertahanan dan prinsip, ia pun berniat begitu. Namun, saat ia hendak pergi ke vila Harlan, dan melakukan pertahanan pada rumah tangganya, ia melihat sesuatu yang menyakitkan.


Sungguh, diperlakukan tidak adil itu sakit dan tidak baik untuk kewarasan jiwa raga. Sejak awal saja Harlan sudah berbuat begitu, mengumumkan pernikahannya di media sosial, mengunggah foto. Bahkan, ada yang melakukan wawancara pada istrinya karena Harlan orang terkenal. Sementara dirinya tidak. Jadi, untuk apa bertahan di sana, karena ia sudah tahu siapa yang akan dibela suaminya.


Daina harus membicarakan kepergiannya pada kedua orang tua anak asuhnya, karena mulai besok ia tidak bisa lagi melakukan tugas seperti biasa.


“Kenapa pergi, Bu Daina, dua anakku sudah dekat denganmu, bagaimana aku harus mencari pengganti sepertimu, Bu?”

__ADS_1


“Maaf, Nyonya. Semua karena anakku, aku tidak bisa menolak keinginannya, aku hanya berharap, kau menemukan orang lain yang jauh lebih baik dariku.”


Dua wanita itu dilingkupi kesedihan saat akan berpisah, karena mereka sudah menemukan kecocokan tapi tidak bisa untuk terus saling menitipkan anak. Daina memeluk dua anak balita yang tak mau lepas dari gendongannya, susah payah sang ibu membujuk mereka agar merelakan ibu asuh pergi.


Begitulah, kadang keadaan selalu terjadi tidak sesuai dengan keinginan manusia.


Beberapa jam kemudian Daina dan Maisara sudah berada di kereta api yang akan membawa mereka sampai di kota Aspala. Kota yang tak kalah ramai dan strategi dari kota tempat tinggal Maisara sebelumnya. Hanya saja di kota itu memiliki lebih banyak sungai dan bukit kecil yang oleh pemerintah setempat dijadikan taman wisata.


Maisara bertekad akan menetap di sana, dan melupakan masa lalu serta pernikahannya. Kelak antara dirinya dan dan semua yang ada di kota Askanawa adalah tinggal kenangan saja, kebanyakan dari kenangan itu menyakitkan. Kedua orang tuanya harus bercerai di saat ia masih remaja dan ia harus hidup dengan wanita yang dinikahi ayahnya. Walaupun, ia bisa lulus kuliah seni, sesuai jurusan yang disukainya, tapi setelah lulus ia harus mendapatkan cobaan yang lain lagi.


Ia tidak mengganti nomor ponsel lamanya, tapi ia memiliki nomor dan ponsel baru. Itu harus ia lakukan kalau ingin memutuskan segalanya dari masa lalunya.


Maisara sebenarnya bukan wanita kuat, tapi ia terus berusaha untuk kuat. Kehidupan melatihnya, dengan cara memiliki ujian hidup besar sejak di masa muda, bahkan secara bertubi-tubi. Apalagi saat ia mengingat Sanaya, ia terpaksa tidak berpamitan pada temannya itu, karena pacarnya adalah Sunni, dan pria itu sahabat Harlan.


Hari sudah menjelang sore begitu kereta berhenti di stasiun kota Aspala. Namun, tangisan Maisara belum reda. Daina membawa anaknya dan menyeret dua koper besar ke sudut stasiun dan pura-pura tidak mendengar suara tangisan memilukan itu.


“Apa kau menangis Harlan, sepertinya kau menyesali mengapa harus jatuh cinta pada pria seperti dia, kan?” tanya Daina, sambil menatap lurus ke depan, melihat kesibukan orang-orang dari kejauhan.


Maisara mengangguk. Apa yang dikatakan ibunya benar, selain itu ia menangisi Sanaya.


“Ini juga soal Sanaya, Bu!” Ia menangis lagi setelah bicara seperti itu.

__ADS_1


Daina seperti biasa, membiarkan anaknya menangis sampai puas, Maisara pasti punya alasan melakukannya.


Tiba-tiba seseorang mendekat dan berkata, “Jangan pergi kalau belum rela!”


Maisara mendongak untuk melihat, tapi karena wanita itu orang yang tidak dikenal, ia melanjutkan tangisannya.


“Kau Matanya, bukan?” tanya wanita yang berambut cepak itu, ia mirip sekali dengan seorang pria, tapi dari suara dan bahasa tubuhnya, menyiratkan bahwa orang yang sedang menegur Maisara adalah, seorang wanita.


Daina hanya tersenyum ramah padanya, begitu pula wanita itu membalas senyumanannya.


Maisara mendongak, sambil menghapus air matanya, ia berdiri dengan tidak melepaskan tatapan matanya dari wanita itu.


“Ya, siapa kamu?” tanyanya, setelah mereka berhadapan dengan sejajar.


Wanita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Aku Lana, kenalkan ya? Aku sahabat Putra.”


Maisara menyambut uluran tangan wanita itu, diikuti oleh Daina yang juga menjabat tangan Lana.


“Aku Daina, Ibunya Maisara,” katanya.


Lana tersenyum sambil mengangguk hormat.

__ADS_1


“Bagaimana kau bisa mengenaliku?” tanya Maisara.


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2