Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 26


__ADS_3

Larangan Pergi


"Sialan, kamu, Harlan!” kata Maisara sambil mengusap bibirnya dengan kasar setelah Harlan melepaskan pagutannya.


“Gadis pintar, panggil namaku dengan benar, aku bukan Lane!” Harlan berkata sambil memejamkan matanya. Ia sudah harus tidur, karena mengganggu gadis di sebelahnya ternyata membutuhkan energi yang cukup besar.


“Lane, Lane, Lane, pergi ke kamar kamu sendiri!” kata Maisara sambil mencubit paha Harlan dengan cukup keras, tapi pria itu tidak bergerak dan matanya sudah terpejam.


Maisara tertawa kesal, ia bangkit, sambil meyambar handuknya dan menggantungnya kembali. Setelah itu, memakai baju tidur yang minim dan transparan, lalu membaringkan diri cukup jauh dari Harlan.


Pria itu membuka mata setelah Maisara tertidur. Sekarang hampir lewat tengah malam dan ia sudah mendapatkan tenaganya kembali.


Harlan bangkit, menyelimuti tubuh Maisara sampai sebatas kepalanya hingga tertutup sempurna. Setelah yakin orang lain tidak bisa melihatnya, ia memanggil pengawal yang setia menunggu di luar pintu.


Pengawal mendengar semua teriakan itu dan ia hanya diam tanpa melirik pada tubuh yang tertutup selimut di tempat tidur. Ia membantu Harlan duduk di kursi roda dan mendorongnya kembali ke kamar.


Kalau saja Harlan tidak terlalu lama menunggu Maisara mandi tadi, ia sudah bisa menuntaskan hasratnya hari ini. Wanita itu secara kurang ajar menguasai benaknya tanpa sengaja, melalui beberapa adegan dalam kamera pengawas. Sungguh itu adegan vulgar yang akan menarik minat semua lelaki yang melihatnya, dan ia baru ini punya kesempatan memeluk tubuhnya tadi. Rasanya sangat nyaman, bahkan ada getaran aneh muncul di jantungnya.


Kenapa aku ingin memeluknya lagi?


“Hubungi dokter besok, aku akan terapi lebih pagi!” perintah Harlan pada pengawal saat ia sudah berbaring di tempat tidurnya sendiri.


“Baik, Tuan!” jawab pengawal itu, sambil menutup pintu dan ke luar dari kamar. Ia juga butuh istirahat.


Menunggu majikan di luar pintu dengan hanya diam, bukanlah hal yang menyenangkan. Menahan geramnya sendiri karena ia tahu betapa kasarnya Maisara pada Harlan. Namun, ia sedikit heran kenapa pula tuannya tidak bertindak bengis. Bahkan, seperti sengaja memaafkan begitu saja semua sikap kurang ajarnya.


Ada apa dengan Tuan?


$$$$$$$$$$$$$$


Maisara bangun di pagi hari dalam keadaan linglung, ia meraba sisi kosong di sebelahnya. Harlan sudah pergi, tapi aromanya masih tertinggal di sana.


Gadis itu bergeser dan menempati tempat di mana seorang pria semalam memeluk erat tubuhnya hingga membuatnya tertekan. Ia menghirup aroma yang sudah sangat akrab di indra penciumannya sejak pertama kali tidur bersama.

__ADS_1


Harlan masih memakai wewangian yang sama, dengan saat ia masih dalam keadaan tak berdaya. Itu parfum favoritnya.


Maisara merasa jauh meskipun mereka tinggal dalam satu atap, seolah menggapai dengan jala pun rasanya tak bisa. Sulit untuk menghindar dari nasib kalau sudah ditakdirkan demikian. Ia ingin pergi tapi ancaman pria itu begitu menakutkan.


Menghancurkan Gedung Hansan Foundation yang dengan susah payah dibangun ayahny? Tidak akan! Lebih baik ia mengorbankan dirinya tetap tinggal di vila meski menderita. Asalkan gedung itu tetap utuh.


Tentunya mudah bagi Harlan untuk memaksa dan menghancurkan Gedung hanya dengan menjentikan jari saja, tapi Maisara tidak akan bersikap lemah di hadapannya. Apalagi menyadari banyak wanita menjadi saingan. Salah satunya Raina, ia tidak akan tunduk atau memelas pada wanita seperti dia. Walaupun, wanita itu kekasih Harlan sekalipun. Kalau lemah dihadapan mereka, ia kan semakin tertindas, sedangkan hidup di sisi Harlan sudah merupakan siksaan.


Tanpa Maisara sadari ancaman Harlan hanyalah sebuah cara agar gadis itu tetap di sisinya. Pria itu semula hanya ingin menyiksa, tapi keadaan dengan cepat berubah dan angin musim berganti dengan cepat. Ia tak ingin berpisah, saat perempuan itu justru ingin mengakhiri hubungan mereka.


Hal ini membuat harga diri Harlan terluka dan ia kesal, karena merasa tidak dibutuhkan. Baru kali ini ada wanita yang memperlihatkan dengan jelas jika dirinya tidak menginginkannya.


Hari itu saat ia turun untuk sarapan, Hara mengingatkan agar tidak pergi sesuatu dengan pesan Harlan.


“Kenapa dia memintaku tetap di rumah, Bibi? Apa dia bisa menanggung beban menyelesaikan masalah Hansan? Tidak, Bibi ... tidak!” kata Maisara memelas hanya pada Hara.


“Tapi, Nyonya ... ini pesan Tuan!”


“Ya. Aku tahu, apa dia khawatir padaku?” Maisara tertawa saat ia bicara, tiba-tiba ia merasa tersanjung kalau Harlan tengah memikirkan dirinya.


Ahk! Yang bener saja!


“Itu ... pasti, Tuan mengkhawatirkan Nyonya!”


Maisara memutar bola matanya ke segala arah dan ia mengangguk demi meyakinkan Hara.


“Bibi jangan kuatir, aku pergi ke Mahespati Industries!”


“Baiklah, sopir akan mengantarkan Nyonya ke sana! Pasti Tuan tidak akan marah kalau Anda pergi menemuinya. Saya tahu pasti Nyonya tidak akan membuat saya dalam masalah!” Hara tersenyum simpul.


Maisara membalas senyum wanita setia itu sambil menganggukkan kepalanya.


Hai! Aku berbohong, aku akan pergi ke rumah sakit!

__ADS_1


Maisara pergi menemui seorang dokter kandungan yang lain, ia bukan dokter kepercayaan Wendi yang melakukan bayi tabung padanya. Ia ingin berkonsultasi tentang mengeluarkan bayi dari rahimnya.


“Kamu masih muda, sangat berisiko melakukan hal ini di usiamu sekarang ... kamu bisa sulit punya anak atau akan menderita kanker, itu efek terburuknya!” kata dokter.


“Tapi, aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang seperti itu sampai aku hamil, bagaimana bisa menderita kanker?”


“Ya. Aku tahu, itu tergantung kondisi seseorang ... Atau mungkin akan lebih sulit bagimu kalau membesarkan bayi seorang diri. Sebaiknya kau coba bicarakan lagi baik-baik, siapa tahu suamimu akan berubah pikiran.”


“Entahlah!”


“Pikirkan lagi keputusanmu, aku akan memberimu waktu tiga hari, dan aku berharap kamu mau membesarkan bayimu ... banyak yang mempunyai niat seperti kamu, tapi setelah mereka berpikir ulang, akhirnya mereka berubah, karena itu adalah yang terbaik!”


“Baiklah, Dok! Aku akan memikirkannya lagi!”


“Semoga kau menemukan pria yang lebih baik!”


Maisara berlalu setelah menerima resep untuk vitamin, tapi ia tidak pernah membelinya.


Ia melihat Wendi setelah itu, karena ia berkata pada sopir bahwa, ia akan menjenguk ibu mertua, agar ia bisa pergi ke rumah sakit sesuai misinya. Sesampai di ruang yang dikatakan sopir, Maisara melihat wanita itu masih tidur di ruang khusus perawatan yang terpisah. Hanya ada dirinya di tempat itu.


Gadis itu heran, sebenarnya sakit apa Wendi dan mengapa ia berada di ruangan yang tampak seperti terisolasi.


Namun, itu bukan ruang Isolasi melainkan, ruangan khusus yang sengaja dibuat dan diperuntukkan bagi Wendi, satu lantai itu hanya bagi keperluannya saja. Walaupun, ada beberapa orang yang memesan kamar di lantai yang bagai hotel itu, tapi sekarang hanya ada Wendi hingga seluruh lantai seolah rumahnya.


Mengetahui dirinya tidak bisa masuk dengan bebas, Maisara memutuskan untuk pergi dan di saat yang sama, mata Wendi terbuka. Semua perawat dan dokter bergegas, sudah beberapa hari wanita itu kadang koma, kadang bangun. Itu yang terjadi secara terus menerus setelah pinsan di rumah anaknya waktu itu.


Sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik.


Maisara menoleh untuk melihat kesibukan itu tapi ia tidak terusik dan meneruskan langkahnya menuju lift. Saat ia baru saja keluar pintu dari kotak besi itu, nasibnya mendadak buruk karena bertemu dengan dua orang yang sama sekali tidak ia harapkan.


“Hai! Mai? Kau-kah itu?” sapa Nella yang tengah menggandeng kekasihnya, Roni.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2