Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 72


__ADS_3

Rasa Cemburu


“Hmm ...,” gumaman lirih keluar dari bibir Maisara.


Ia tidak bisa menolak karena gerakan itu datang tiba-tiba, sedangkan satu tangan Harlan kini berada di belakang kepalanya menahan untuk tidak bergerak. Mereka saling mengulum dan menyelami area sekitar mulut. Menikmati kelembutan lidah masing-masing, hingga suara decapan lirih mengiringi gerakan kepala yang kadang ke kanan dan ke kiri.


Di saat yang tidak tepat saat terdengar suara pintu ruangan itu di ketuk. Seketika Harlan dan Maisara menghentikan aktivitasnya berciuman dengan canggung. Secara naluriah dua orang berlawanan jenis, bila melakukan ciuman selama itu, maka mereka harus menuntaskannya dalam bentuk yang berbeda. Itu harus, karena ada ketegangan tak wajar telah tercipta, yang membuat bagian tubuh di antara dua kaki berdenyut-denyut.


Ahk! Sial!


Harlan mengumpat sambil menuju meja untuk mengambil dan mengenakan masker medis di wajahnya.


Sementara Maisara kembali tercengang dengan sikap Harlan yang menunjukkan bahwa, dirinya sangat pengertian. Lagi-lagi ia merasa begitu dicintai.


Seseorang masuk, setelah Maisara mempersilakannya.


Lana berjalan dengan gaya tomboinya, mendekati Maisara sambil melirik Harlan yang duduk sambil melihat-lihat, ada beberapa poster dalam berbagai rupa di atas meja.


“Mai, lihat ini!” kata Lana, suaranya membuat Harlan menoleh pada dua orang yang berdiri berdampingan menghadap meja.


“Mereka memberi diskon 30 persen untuk pesananmu! Apa mereka sudah tidak waras?” kata Lana, sambil menunjukkan struk bukti pembelian secara online di ponselnya, melalui pesan khusus dari pihak pemasaran Mahespati.


“Kau harus segera membayar mereka!” tandas Lana.


“Ya, itu mudah,” sahut Maisara.


Harlan terlihat cemburu, ia tidak suka Maisara begitu dekat dengan laki-laki itu.


Maisara melirik Harlan sebelum berkata, “Mereka bukan tidak waras, tapi mungkin saja mereka berniat untuk bangkrut!” Lalu, ia tertawa.

__ADS_1


“Mai, kita simpan di mana mesin itu kalau datang nanti, apa gudang kita cukup?”


“Kita bisa menyewa gudang, kan? Kulihat masih ada slot kosong di gudang sewa milik Bakti Kencana Grup. Kau pesan saja secukupnya!”


“Ahk! Kau memang pandai!” kata Lana sambil merangkul dan menepuk bahu Maisara.


“Lihat bajumu, Lan! Kotor sekali, apa ini bisa hilang? Ini tinta loh!” kata Maisara sambil memegang kemeja kuning Lana yang kotor. Sejenak, adegan yang mereka tunjukkan terlihat begitu mesra.


Saat itu, ada seseorang yang tiba-tiba saja memalingkan muka sambil berdecap kesal.


Lana tahu jika laki-laki yang ada di dekat Maisara dan duduk melihat-lihat itu adalah, tamu yang tadi minta izin untuk masuk, dan membicarakan mesin pesanan mereka.


Ia baru mendapatkan laporan secara resmi, dari pihak Mahespati Industries—pabrik yang menjual mesin cetak, dan memberikan potongan harga cukup besar untuk mereka. Hal yang mengejutkan lainnya adalah, barang akan dikirim secepatnya hari ini juga secara gratis pula.


Oleh karena itu ia harus membicarakannya dengan Maisara, dan mempersiapkan tempat atau gudang penyimpanan sementara. Walaupun, kemungkinan nanti malam barang pesanan itu baru tiba.


“Pak Harlan! Saya tinggal sebentar, ya! Saya akan segera kembali,” kata Maisara sambil tersenyum ramah.


Sementara Harlan menatap sinis pada kedua tangan istrinya yang menyatu dengan tangan Lana. Ia kemudian mengangguk.


Maisara pergi ke dapur, ia ingin memberikan cairan pembersih tinta pada Lana, sekaligus memberitahu Daina tentang kedatangan Harlan. Selain itu, ia akan membuatkan kopi untuk diri dan suaminya.


“Kau bawa saja pulang,” kata Maisara, sambil memberikan sebotol cairan pembersih pada Lana. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Setelah itu ia kembali melakukan pekerjaan yang digelutinya begitu Maisara memulai usaha.


Sebelum gedung yang dijadikan toko itu terjual, kegiatan Lana hanya membantu pekerjaan ayah dan ibunya berdagang. Namun, sejak ayah dan ibunya meninggal serta bangunan itu menjadi sengketa antara saudara tirinya, ia menjadi pengangguran. Baru setelah Maisara berhasil membeli dengan Putra sebagai perantara, ia bisa kembali bekerja. Baginya, Maisara adalah dewa penolong.


Setelah kepergian Lana, Maisara mengabarkan pada Daina tentang kedatangan Harlan. Ibunya itu bertugas membuat masakan untuk para pekerja yang mulai bertambah. Wanita itu sendiri yang menginginkannya padahal sang anak tidak pernah memintanya memasak.


Semula usaha Maisara hanya dikerjakannya sendiri dan dibantu oleh Lana. Ia sudah memiliki ilmu tentang percetakan seperti itu sebelumnya, saat masih kuliah. Namun, setelah pesanan mulai banyak, mereka mulai mencari orang lain untuk membantu.

__ADS_1


Sekarang, Maisara memperkerjakan delapan orang di percetakannya termasuk ibunya dan Lana.


“Ya, sudah layani saja dia!” kata Daina, seketika ia memiliki perasaan yang rumit, ada rasa kasihan dan juga rasa tidak bersalah memenuhi hatinya. Saat terakhir kali ia melihat Harlan, pria itu tergeletak di lantai karena menunggu anaknya keluar.


“Apa mungkin ia datang karena pesananku?” tanya Maisara sambil mengaduk kopi.


“Bisa jadi, pesananmu itu tidak masuk akal! Apa kau berniat membuat dia kerepotan atau kau sendiri yang akan kesusahan membayarnya?”


Maisara tersenyum kecut, ia memiliki sisa uang yang cukup untuk membayar pesanan. Walaupun, ia sendiri tidak serius dengan mesin sebanyak itu. Ia pikir perusahaan Mahespati tidak akan mampu memenuhinya, hanya dalam waktu satu hari setelah rilis. Namun, ia tidak menyangka justru mendapatkan diskon yang cukup besar. Sama saja Harlan memberikannya hadiah secara cuma-cuma. Biaya angkutnya saja sudah besar tapi digratiskan. Memang ini tidak masuk akal kecuali orang itu benar-benar mencintainya.


Sebelum membawa kopi ke ruangan, Maisara mengatur nafas sambil memijit pelipisnya. Perbuatannya itu menarik perhatian Daina dan wanita itu mematikan kompor. Lalu, ia mendekati anaknya, dan memegang kening.


“Apa kau baik-baik saja, kepalamu sakit?”


“Tidak, Bu! Eum ... Bu, apa menurut Ibu dia akan membunuh anak ini kalau aku melahirkan nanti?” Maisara bertanya sambil mengusap perutnya.


“Kurasa tidak, kau bisa membuktikannya dengan melihat bagaimana perlakuannya padamu sampai melahirkan nanti, kalau dia tetap menunjukkan kasih sayang, artinya dia tidak akan membuat anaknya sendiri celaka walaupun ia tidak menyukainya!” jelas Daina penuh keyakinan.


“Kalau harimau aku percaya, binatang itu tidak akan melukai anaknya tetapi banyak di dunia ini seorang ayah yang tega membunuh anaknya sendiri!”


“Jangan berpikir buruk, lakukan saja yang terbaik dan hasilnya kita tunggu di masa depan.”


Sementara itu di ruangan Maisara, telepon genggam yang ada di atas meja bergetar dan bersuara. Ada nama Putra tertera di layar yang menyala. Melihat hal itu Harlan mencibir, ia merasa kalah oleh seseorang yang tidak dikenal, tapi dekat dengan istrinya. Ia mengangkat ponsel dan menerima panggilan. Sekedar ingin tahu apa yang akan dibicarakan pria itu dengan istrinya.


Dari seberang telepon, terdengar suara Putra yang ceria.


“Ha Mai! Bagaimana bisnismu hari ini, apa berjalan lancar seperti biasa?”


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2