
Kedatangan Yang Diharapkan
“Apa kau masih tetap tidak peduli kalau kau melihat ini?” kata Sahida sambil menunjukkan sebuah foto pada ponselnya.
Seketika Maisara menoleh sambil mengerucutkan keningnya dalam-dalam. Ia melihat foto Mahes yang tengah di gendong oleh seorang lelaki bertubuh kekar, yang memakai topeng dan membawa sebilah pisau.
Maisara pun meradang, ia melotot pada Sahida. Wajahnya memerah karena marah. Ia mendekati wanita paruh baya tak tahu diri itu dengan cepat untuk memberinya penekanan secara verbal.
Maisara tidak lemah tetapi tetap tidak sanggup, bila melihat anak-anak dalam penekanan orang dewasa secara kasar. Apalagi itu adalah foto seorang bayi yang tidak berdaya.
“Apa yang kau lakukan pada anak itu? Hah! Apa kau berusaha memerasku dengan foto seperti ini? Kau pikir aku bodoh?” kata Maisara.
“Apa kau buta, dan tidak merasa kasihan padanya?” tanya Sahida tak percaya.
“Kau membuat rencana penculikan agar aku merasa kasihan, lalu menuruti semua kemauanmu begitu?”
Maisara menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, sebuah tawa yang meremehkan Syahida, sebagai lawan bicaranya.
“Dengar, seharusnya kau yang harus dikasihani, karena kau membuat rencana seperti ini secara terus terang, lihat semua orang bisa jadi saksinya!” Maisara berkata sambil menoleh di belakangnya, di mana beberapa pegawainya tengah sibuk bekerja.
“Aku tidak peduli! Dasar kau wanita murahan!” seru Sahida, membuat Maisara marah, karena ucapan tidak pantas yang keluar dari mulutnya dan didengar oleh semua pegawai.
Saat itu juga Maisara melayangkan tamparan yang cukup keras ke arah pipi mantan ibu tirinya itu, sehingga wajahnya menjadi merah. Ada berbekas tangan yang cukup jelas di sana.
Maisara memikirkan cara agar ia tidak terlihat lemah di mata orang yang menindasnya. Apalagi hanya karena melihat foto saja. Ia yakin Lana tidak akan tinggal diam jika Mahes diculik oleh seseorang di depan hidungnya.
__ADS_1
Sementara Sahida sangat jelas ingin memerasnya, ini jelas nyata sebuah kejahatan. Secara diam-diam Maisara menyalakan perekam di ponselnya. Walaupun dalam hati ia begitu gelisah dan khawatir, tetapi ia menutupi.
Seandainya ia terlihat lemah, maka Sahida akan lebih parah dalam menindasnya, wanita itu seenaknya saja meminta melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Ia tidak harus mencari ataupun membawa Nella kembali, hanya karena dianggap sudah bersalah dan membuat gadis itu pergi. Sungguh alasan yang tidak masuk akal.
Sementara Sahida kini hanya bisa tercengang. Ia tidak percaya kalau Maisara tidak merasa gentar di hadapannya.
“Kau berani menamparku?” Kata Sahida sambil mengusap pipinya. Ia baru akan membalas tamparan Maisara, namun saat ia hendak melayangkan tangan, gadis itu sudah menahan pergelangan tangannya hingga seakan menggantung di udara.
“Kenapa tidak?” jawab Maisara sambil menarik sedikit ujung bibirnya. Lalu, ia menghempaskan tangan Sahida ke samping.
“Apa kau tidak punya perasaan, kau bukan seorang ibu!”
“Perasaan apa maksudmu? Pikir saja sendiri apa kau juga, sudah pantas menjadi seorang ibu? Aku kasihan pada anak itu! Kau tidak seharusnya menindas seorang bayi ... Kalau kau melakukannya dan polisi tahu, maka kau justru kau akan dipenjara karena sudah melakukan kekerasan terhadap anak-anak! Apa kau tahu berapa hukumannya? Lima tahun, dan denda 15 juta apakah pikir itu mudah?”
Mereka berdua hanya bisa menggertak Maisara, yang terlihat jauh dari Harlan dalam beberapa waktu belakangan. Kesempatan itu diambil oleh Syahida dan pasangannya untuk mengintimidasi, demi tujuan mendapatkan kemudahan dalam bisnis. Kalau Harlan saat itu ada di sana atau tidak mengalami masalah di Kota Askanawa, maka sama saja mereka mencari kematiannya sendiri, dan tidak berani berada di sekitar Maisara.
“Apa anak ini, bukan anakmu?” tanya Sahida lagi sambil melihat layar ponsel dan laki-laki di sebelahnya. Ia yakin itu anak Maisara, oleh karena itu ia melakukan penculikan dengan menyuruh seorang yang biasa di bayar melakukan kejahatan.
“Bukan, itu anak Harlan!” sahabat Maisarah tanpa beban.
“Apa anak Harlan bukan anakmu? bukankah laki-laki itu suamimu?”
“Kau pikir aku peduli pada Harlan? Dia saja tidak peduli padaku, saat anak itu lahir dia tidak datang, bahkan aku tidak peduli dia hidup atau mati, terserah kau akan membunuhnya atau tidak!” Maisarah berkata penuh dengan keyakinan yang dibuat-buat.
Sahida terdiam ia merasa perbuatannya sia-sia, karena sudah menyandera anak Maisara, padahal ibu dari anak itu saja tidak peduli. Ia pikir Maisara sangat menyayanginya, karena itu adalah anak Harlan. Biar bagaimanapun juga, anak itu kelak bisa dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan warisan ataupun separuh dari hartanya. Saat itu Saidah merasa Maisarah adalah wanita yang sangat bodoh jadi ia percuma saja melakukan pemerasan padanya.
__ADS_1
“Kau benar-benar gila, kalau tidak peduli dengan anak yang lahirkan sendiri!”
“Apa kau ingin tahu, bagaimana aku mendapatkan anak itu? Wendy memintaku untuk membuat bayi tabung dengan benih anaknya dan aku berhasil, bahkan sebelum Harlan sadar! Laki-laki itu sama sekali tidak menyentuhku sampai aku positif hamil ... bagaimana mungkin aku punya perasaan terhadap anak itu? Aku hanya merawatnya sekedarnya saja, karena aku anggap dia sebagai anak yatim, apa kau puas?”
“Ternyata kau sama jahatnya denganku kalau kau hanya mengurus dengan menganggap anakmu sendiri sebagai anak yatim! Jadi, tidak masalah kalau anak itu akan aku bunuh sekarang juga!”
“Baiklah, baiklah, lakukan saja! Ada banyak saksi di sini yang mendengarmu akan membunuh anak itu! jadi kalau anak itu mati, kaulah pembunuhnya! Dan aku bisa dengan mudah melaporkanmu ke polisi dan kau akan masuk penjara!”
Setelah berkata seperti itu, Maisara benar-benar pergi meninggalkan Sahida, yang langsung ditarik tangannya oleh sang suami menuju mobil. Lalu, mereka pergi dari gedung itu, menggunakan kendaraan yang dijalankan dengan kecepatan tinggi.
Ancaman Sahida sia-sia, dan ia harus mencari Nella seorang diri. Padahal, kalau ia bisa memanfaatkan Maisara, maka ia tidak perlu repot-repot melakukan pencarian pada Nela, karena ia yakin Maisara akan menggunakan kekuatan Harlan dan anak buahnya untuk mencari anaknya itu. Ia ingin bertemu dan mengetahui kabarnya.
Sahida sudah gagal untuk memiliki perusahaan Seribu Janji, yang akan ia beli sebagai perusahaan saingan Maisara. Namun, keinginannya harus tertunda, karena tipu muslihat yang dilakukan Harlan. Ia tidak habis pikir, bagaimana seorang laki-laki yang sebelumnya lumpuh tidak berdaya, bisa kembali kuat dan berjaya seperti sebelumnya. Betapa beruntungnya Maisara yang sudah menikahinya, seandainya ia tahu akan terjadi seperti itu, maka lebih baik Nella saja yang menikah dengan Harlan.
Waktu itu, ia tidak tahu jika pemenang lelang yang dilakukan untuk membeli PT Seribu Janji adalah, orang lain dan bukan Harlan. Pria itu menggunakan nama lain sebagai peserta lelang, hingga akhirnya dialah yang berhasil menjadi pemenangnya.
Harlan menawar terlalu tinggi sehingga tidak ada orang lain yang bisa membeli melebihi harga yang ditawarkannya. Wanita itu kalah telak. Walaupun ia mengeluarkan semua uangnya, tetap tidak akan bisa menyaingi Harlan.
Sekarang pun dia kalah dengan Maisara untuk kedua kalinya, dan Sahida hanya bisa menyesali. Walaupun, ada seorang suami di sisinya, ia masih kalah jauh kalau ingin melawan Harlan. Mereka mengumpulkan banyak uang di luar negeri untuk hal ini, setelah susah payah melakukan korupsi. Namun, semua tidak semudah yang mereka bayangkan, uangnya seperti membeli sebuah mimpi.
Maisara kembali ke ruangannya. Ia meneguk air putih yang ada di gelasnya sampai habis, untuk menenangkan diri. Setelah menarik napas dalam, ia menghubungi nomor Lana.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Maisara, setelah telepon mereka saling terhubung.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1