Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 52


__ADS_3

Tidak Terima Tamu


“Kenapa?” tanya Harlan sambil menyilangkan jari-jari tangannya di atas meja.


“Dia sudah tahu berita pernikahanmu!” kata Sunni sambil menyimpan kembali cangkir kopinya.


Harlan seketika beranjak dari duduknya dengan wajah yang gelap menahan amarah. Ia mengepalkan tangan dan Sunni melihatnya dengan jelas kekecewaan itu.


“Kau mau ke mana?” tanya Sunni, ketika Harlan melangkah meninggalkannya.


“Mencari Maisara!”


“Sudah kubilang, dia tidak akan mau bertemu denganmu, jangan hari ini ... beri dia jeda waktu!”


Harlan berjalan begitu saja, ia tidak menggubris ucapan Sunni, membuat laki-laki itu menghela nafas. Memangnya siapa dirinya yang bisa melarang keinginan Harlan? Sudah biasa dari dulu ia selalu melakukan apa yang diinginkan, tanpa memikirkan orang lain, meskipun itu urusan cinta.


Sunni mengikuti langkah Harlan setelah selesai membayar kopi lattenya. Namun ketika sampai di tempat parkir, ia hanya melihat mobil Maybach yang sudah berlalu, kemudian melaju di jalanan dengan kecepatan tinggi.


Tiba-tiba Sunni menyesal mengapa ia harus mengatakan jika Maisara mengetahui kabar pernikahan suaminya. Namun, dari sikap Harlan tadi, setidak-tidaknya ia tahu bahwa, laki-laki itu mungkin menyukai istri yang dinikahkan oleh ibunya itu. Sayangnya ia berpantang mengucapkan kata cinta di hadapan siapa pun juga.


Sunni pulang setelah merasa tidak ada gunanya mengejar Harlan, tugasnya sebagai sahabat sudah selesai dan ia bebas. Tidak terikat dan tidak perlu merasa bersalah tentang berita tadi. Seandainya tidak hari ini, maka rahasia itu akan terbongkar juga suatu hari nanti.

__ADS_1


Sementara itu, Harlan terus saja meminta Sopir melaju lebih kencang.


“Apa kau tidak bisa cepat sedikit?” katanya setengah membentak, sedangkan sopir kebingungan. Ia sudah menjalankan mobil dengan kecepatan yang memadai di jalanan yang cukup ramai itu.


Apalagi sekarang sudah malam, rasanya tidak pantas kalau harus bertamu di rumah orang. Namun, sopir tidak berani bicara.


Tapi aku bisa apa? Ah ... terserah Tuan saja!


Harlan tidak habis pikir dengan ucapan Sunni yang mengatakan jika Maisara sudah tahu tentang kabar itu, padahal gerakannya sangat cepat menghapus semua akun yang dibuat oleh Raina, untuk menyebarkan berita pernikahan mereka. Hanya sekitar satu jam saja mereka sudah berhasil diblokir.


Saat itu pengawal menjelaskan jika ada satu akun yang menayangkan video, seolah-olah Raina sedang diwawancara secara live. Kemungkinan besar beberapa orang sudah melihatnya. Walaupun mereka tidak membagikan ulang, tapi mereka menunjukkan pada orang lain. Jadi wajar kalau berita itu tersebar ke beberapa orang, termasuk Maisara.


Sementara itu di dalam kamar Daina, Maisara masih duduk di sudut tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk, menyimpan dagu di atas kedua tangan yang dilipat di atas lututnya itu. Masih ada sisa air mata di pipinya.


Sudah sejak siang, saat kepulangannya bertemu dengan Sanaya Maisra terus saja menangis di atas tempat tidur, dengan telungkup, sampai bantal ibunya pun basah oleh air mata.


“Haya,” kata Daina saat melihat Maisara mulai duduk di sudut kamar. “Mau sampai kapan kau menangis, apa kau akan menunggu sampai besok pagi lagi? Apa kau tidak lapar ..? Kesedihan juga membutuhkan energi, ayo! Makanlah ... kalau sudah makan, kamu boleh menangis lagi sampai kau puas!”


Daina diam sejenak untuk memberi jeda pada ucapannya sendiri.


“Haya! Jangan habiskan semua air matamu hanya untuk sesuatu yang tidak pantas kau tangisi, apalagi sampai kau kelaparan, ingat kau sedang hamil!” Daina berkata sambil menunjuk beberapa makanan di atas tempat tidur agar Maisara mau memakannya.

__ADS_1


Maisara mengusap perut secara perlahan, ia beranjak dari duduknya dan mulai makan masakan ibunya yang sederhana. Itu sup jamur dengan bumbu rempah yang bawangnya digoreng, lalu ditambahi cinta seorang ibu.


“Aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis, aku juga tidak melarangmu melakukannya sampai pagi dan air matamu kering. Terserah! Tapi aku hanya mengingatkanmu, bahwa tubuhmu juga punya hak ... sesedih apa pun dirimu, jangan kalah oleh kesedihan itu, sesakit apa pun hatimu, kau harus berusaha untuk sembuh, bukan orang lain yang bisa membuatmu sembuh selain dirimu sendiri!”


Maisara menatap ibunya dengan cemberut.


“Itu pengalamanku saat memutuskan untuk berpisah dari ayahmu. Aku sakit dan sedih di sini!” kata Daina sambil menunjuk lokasi hatinya, “Tapi, kalau aku tidak punya tekad dan keinginan untuk menyembuhkan diri, mungkin aku masih mengingat rasa sakitnya, sampai sekarang!”


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk cukup keras dari luar. Maisara yang masih mengunyah makanan, menoleh pada ibunya.


“Apa Ibu punya janji sama orang malam-malam begini?”


“Tidak, aku tidak pernah menerima tamu, tidak ada yang mengenalku di sini selain nenek tetangga kita!”


“Ya sudah, kalau begitu jangan di buka, siapa tahu orang jahat! Kita tidak terima tamu!”


“Terserah kau saja, habiskan makananmu!” kata Daina sambil melangkah pergi ke kamar mandi.


Maisara menghabiskan makanannya, sedangkan suara ketukan di pintu tidak terdengar lagi, mungkin orang itu sudah pergi. Namun, baru saja ia selesai membereskan tempat tidur setelah makan, suara keras di pintu apartemen itu kembali terdengar.


Tok tok tok!

__ADS_1


“Siapa sih? Berisik!” kata Maisara sambil melangkah dengan cepat untuk membukakan pintu.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2